Delegasi UNDP dan Swiss Tinjau Program Hijau Siak

Ratna D. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Delegasi UNDP dan Swiss Tinjau Program Hijau Siak

Gambar atau konten salah?

Bupati Siak, Afni, baru saja menerima kunjungan dari sejumlah perwakilan penting. Mereka datang dari United Nations Development Programme (UNDP), Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO), Kedutaan Besar Swiss, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan Kementerian Pertanian. Rombongan besar ini datang langsung ke Kabupaten Siak.

Tujuan utama kunjungan mereka adalah untuk melihat sendiri perkembangan berbagai program lingkungan hidup yang sudah berjalan di daerah tersebut. Bukan hanya sekadar meninjau, mereka juga datang untuk mempelajari secara langsung bagaimana kebijakan Siak Kabupaten Hijau diterapkan. Kebijakan ini dijadikan contoh nyata sebagai model pembangunan daerah yang sangat mengutamakan prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan.

Dalam pertemuan itu, Bupati Afni menyampaikan satu hal yang sangat penting. Ia menegaskan bahwa upaya menjaga kelestarian alam dan mewujudkan pembangunan yang berbasis ekologi tidak bisa dilakukan oleh pemerintah daerah sendirian. Menurut Afni, dibutuhkan kerja sama dari banyak pihak. Konsepnya disebut pentahelix, yaitu melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat sipil, dan komunitas lokal.

"Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri untuk menjaga lingkungan. Visi dan misi kami untuk mewujudkan Siak yang bermartabat dan berdaya saing berbasis ekologi membutuhkan dukungan serta kemitraan strategis dari berbagai pihak, termasuk mitra internasional," ujar Afni pada hari Sabtu, 20 Juni 2026.

Afni kemudian menjelaskan lebih lanjut. Kabupaten Siak sudah memiliki fondasi kebijakan yang kuat. Fondasi itu adalah Peraturan Daerah tentang Siak Kabupaten Hijau. Melalui peraturan ini, Pemerintah Kabupaten Siak juga membentuk sebuah wadah bernama Tim Siak Hijau. Tim ini berfungsi sebagai tempat koordinasi untuk berbagai pihak. Tugasnya adalah memfasilitasi berbagai bentuk kerja sama pembangunan hijau antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, dan lembaga pembangunan internasional.

Menurut Afni, keberadaan Tim Siak Hijau menjadi alat yang sangat penting. Alat ini memastikan bahwa semua dukungan untuk program pembangunan berkelanjutan bisa berjalan dengan terkoordinasi. Semuanya harus selaras dengan kebutuhan daerah. Selain itu, juga harus mendukung pencapaian visi pembangunan Kabupaten Siak.

Di Provinsi Riau, ada sebuah program bernama Siak Pelalawan Landscape Program (SPLP). Program ini difasilitasi oleh Daemeter dan Proforest. Saat ini, program tersebut hanya dilaksanakan di dua wilayah, yaitu Kabupaten Siak dan Kabupaten Pelalawan. Fokus program ini adalah perlindungan lanskap secara berkelanjutan. Caranya melalui konservasi kawasan hutan, rehabilitasi ekosistem pesisir dan mangrove, restorasi gambut, penguatan perhutanan sosial, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui praktik ekonomi yang berkelanjutan.

Program ini juga memberikan dukungan untuk hal lain. Dukungan itu adalah percepatan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) bagi petani sawit swadaya. Tujuannya agar produktivitas ekonomi masyarakat bisa terus meningkat. Namun, peningkatan itu tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan.

Dalam diskusinya, Afni menekankan satu hal lagi. Ia mengatakan bahwa berbagai program yang didukung oleh UNDP dan mitra internasional harus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat. Program-program itu juga harus mendukung agenda pembangunan daerah.

"Kami ingin memastikan bahwa setiap program yang masuk ke Kabupaten Siak berjalan seiring dengan kebutuhan masyarakat dan visi pembangunan daerah. Kolaborasi ini harus memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Afni.

Salah satu perhatian utama Pemerintah Kabupaten Siak adalah perlindungan koridor satwa liar. Satwa-satwa itu seperti harimau Sumatera, gajah, beruang madu, dan tapir. Hewan-hewan ini masih bisa ditemukan di sejumlah kawasan hutan di Siak. Upaya perlindungan ini dinilai sangat penting. Tujuannya untuk mengurangi potensi konflik antara satwa dan manusia. Sekaligus juga untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Bupati Siak juga mendampingi para delegasi internasional. Mereka meninjau sejumlah lokasi dan kawasan penting di Kabupaten Siak. Selain berdiskusi soal pengelolaan lingkungan dan pembangunan hijau, para tamu diajak melihat langsung wajah Kota Siak. Mereka melihat kawasan hijau dan kekayaan sejarah serta budaya daerah. Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Istana Siak. Istana ini menjadi salah satu ikon warisan budaya Melayu.

Sementara itu, Pimpinan Proyek Siak Pelalawan Landscape Program, Jimmy Widopo, menyampaikan apresiasi. Ia memuji komitmen Pemerintah Kabupaten Siak dalam menjaga kelestarian lingkungan. Menurut Jimmy, kepemimpinan Bupati Siak menunjukkan konsistensi yang kuat. Konsistensi itu dalam mendorong perlindungan hutan, gambut, dan mangrove. Semua itu adalah bagian penting dari pembangunan berkelanjutan.

Sebelum bertemu dengan Bupati, delegasi internasional juga melakukan kunjungan dan diskusi teknis. Tempatnya di Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Siak. Mereka meninjau berbagai capaian program di lapangan. Salah satunya adalah pendampingan terhadap kelompok tani dan koperasi masyarakat. Kelompok-kelompok ini berhasil mengelola lahan gambut secara produktif. Namun, mereka tetap menjaga fungsi ekologis kawasan.

Kunjungan ini diharapkan bisa semakin memperkuat kemitraan antara Pemerintah Kabupaten Siak dan para mitra internasional. Tujuannya adalah mewujudkan pembangunan hijau yang inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat serta kelestarian lingkungan.

Secara keseluruhan, kunjungan para delegasi internasional ini menunjukkan bahwa program-program lingkungan di Siak tidak hanya sekadar wacana. Ada bukti nyata di lapangan. Mulai dari kebijakan Siak Kabupaten Hijau, pembentukan Tim Siak Hijau, hingga program SPLP yang fokus pada perlindungan lanskap dan kesejahteraan petani sawit. Semua ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, mitra internasional, dan masyarakat sipil bisa berjalan dan memberikan hasil yang nyata. Perhatian khusus pada koridor satwa liar seperti harimau Sumatera dan gajah juga menambah bukti bahwa pembangunan di Siak benar-benar berusaha seimbang antara ekonomi dan ekologi.

kunjunganUNDPSiak Hijaupentahelixlingkunganberkelanjutankemitraanekologi

Komentar

Memuat komentar...