Dinkes Sumsel Peringatkan Warga Tetap Waspada Hanta Virus

Ningsih R. · 3 min baca · 12 hari lalu · 47 dibaca
Bisik.id
Dinkes Sumsel Peringatkan Warga Tetap Waspada Hanta Virus

Gambar atau konten salah?

Dinas Kesehatan Sumatera Selatan (Dinkes Sumsel) mengajak warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit virus hanta, yang dikenal dengan nama Orthohantavirus. Pemerintah daerah menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan rumah dan tempat kerja guna mencegah penularan dari hewan reservoir, seperti tikus dan celurut.

Ira Primadesa Ogatiyah, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan kasus virus hanta di wilayahnya. Ia mengingatkan bahwa langkah antisipasi sejak dini tetap wajib diperketat. Untuk di Sumsel, saat ini kondisinya masih nihil ya, belum ada warga yang melaporkan terkena penyakit ini. Tentu harapan kita bersama jangan sampai ada kasus yang ditemukan di sini (Sumsel). Tapi kita tidak boleh lengah, makanya kewaspadaan harus dimulai dari sekarang, ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (21 Mei 2026).

Ira menekankan bahwa meskipun kondisi masih nihil, warga tidak boleh lengah. Kewaspadaan harus dimulai sekarang agar kasus tetap tidak muncul. Ia menambahkan bahwa pembersihan yang salah dapat memicu penularan virus melalui udara.

Kalau menemukan jejak keberadaan tikus atau celurut, jangan disapu kering. Gunakan metode pel basah (wet cleaning). Kalau disapu kering, debu yang terkontaminasi cairan tubuh tikus bisa terbang, terhirup, dan masuk ke saluran pernapasan, jelasnya.

Virus hanta ditularkan dari reservoir alami seperti tikus melalui cairan tubuh mulai dari urin, feses, hingga saliva. Di tingkat global, virus ini menjadi sorotan setelah laporan kluster kasus di kapal pesiar MV Hondius. Secara klinis, virus hanta dapat menyebabkan dua manifestasi: Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).

HPS menyerang sistem pernapasan dengan gejala demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, batuk, dan sesak napas. Tingkat kematian (Case Fatality Rate) mencapai 60%. HFRS menyerang organ ginjal dengan demam, nyeri badan, lemas, hingga fase ikterik atau tubuh menguning. Masa inkubasi HFRS 1–2 minggu dan tingkat kematian 5–15%.

Untuk tipe HPS memang belum pernah dilaporkan di Indonesia karena reservoir spesifiknya tidak ditemukan di sini. Namun, untuk tipe HFRS, Indonesia sudah mencatat puluhan kasus konfirmasi di beberapa provinsi sejak 2024 hingga awal Mei 2026 ini. Itulah mengapa langkah antisipasi harus diperketat sejak dini, jelasnya.

Untuk mengantisipasi potensi penularan di lingkungan permukiman, Dinkes Sumsel membagikan lima panduan preventif utama yang bisa diterapkan warga secara mandiri:

  1. Periksa kondisi rumah dan segera tutup semua lubang di dalam maupun luar rumah yang berpotensi menjadi jalur masuk tikus atau celurut.
  2. Selalu bersihkan area yang diduga dilalui tikus menggunakan kain pel basah atau cairan disinfektan untuk mencegah partikel virus menjadi aerosol di udara.
  3. Simpan bahan makanan dan minuman di dalam wadah tertutup rapat atau gunakan tudung saji agar tidak tercemar air liur atau kotoran tikus.
  4. Biasakan rutin mencuci tangan memakai sabun atau hand sanitizer, menerapkan etika batuk, serta memakai masker jika tubuh merasa kurang sehat.
  5. Jika mengalami gejala demam tinggi yang disertai sesak napas atau tubuh menguning, segera datangi puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

Kami juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak ikut menyebarluaskan informasi atau berita hoaks yang belum terverifikasi. Pastikan selalu merujuk pada kanal informasi resmi pemerintah untuk memantau perkembangan situasi penyakit ini, ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh Ani Safitri peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker.

Dalam situasi ini, kewaspadaan dan tindakan pencegahan sederhana dapat mencegah penyebaran virus hanta. Warga di Sumatera Selatan diingatkan untuk tetap waspada dan mengikuti panduan resmi agar kesehatan tetap terjaga.

virus hantaOrthohantavirusSumatera Selatantikuspembersihan basahHPSHFRS

Komentar

Memuat komentar...