Ekonomi RI Kuartal III Tumbuh 5,47%, Lampaui Prediksi

Nita W. · 3 min baca · 4 jam lalu · 30 dibaca
Bisik.id
Ekonomi RI Kuartal III Tumbuh 5,47%, Lampaui Prediksi

Gambar atau konten salah?

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 mencapai 5,47 persen secara tahunan. Angka ini ternyata lebih tinggi dari prediksi berbagai lembaga dan ekonom sebelumnya.

Deputi Bidang Neraca dan Analis Statistik BPS, Edy Mahmud, menjelaskan bahwa perhitungan tersebut menggunakan metodologi statistik berstandar internasional. Ia menduga perbedaan angka dengan proyeksi lembaga lain disebabkan oleh model penghitungan yang tidak sama.

"Proyeksi yang dilakukan oleh sejumlah lembaga penelitian kita tidak tahu persis. Barangkali penelitian itu pendekatannya, pemodelan dan estimasi yang berdasarkan asumsi, serta indikator yang tersedia. Oleh karena itu bisa jadi karena perbedaan angka itu," kata Edy dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (5 November 2026).

Edy menambahkan, BPS menggunakan acuan System of National Accounts (SNA) 2008 dalam menghitung pertumbuhan ekonomi. Metodologi ini juga dipakai oleh kantor statistik nasional di berbagai negara.

Proses penghitungan produk domestik bruto (PDB) oleh BPS menggabungkan berbagai sumber data. Data dikumpulkan secara internal maupun eksternal, termasuk pencatatan administrasi kementerian, lembaga, BUMN, hingga sumber data relevan lainnya.

"BPS menggunakan data yang memang sudah kita dapatkan dengan jumlah yang sangat besar. Untuk satu triwulan bahkan jenis data yang dipakai untuk penghitungan PDB secara nasional itu lebih dari 3.000 jenis data yang digunakan," ungkap Edy.

Konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2026. Sektor ini tumbuh 5,04 persen secara tahunan dan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi, yaitu 2,62 persen. Kinerja ini didorong oleh kenaikan nilai transaksi barang dan jasa secara online, peningkatan mobilitas masyarakat, aktivitas pariwisata, serta berbagai kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi.

Selain konsumsi rumah tangga, komponen lain yang mendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,06 persen secara tahunan. Angka ini mencerminkan pertumbuhan investasi baik oleh pemerintah maupun swasta.

Konsumsi pemerintah tumbuh hingga 8,95 persen, jauh di atas pertumbuhan triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,66 persen. Hal ini sejalan dengan meningkatnya realisasi belanja pegawai, terutama gaji dan tunjangan ASN, serta meningkatnya realisasi belanja barang dan jasa, utamanya pada belanja barang yang diserahkan kepada masyarakat berupa program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dari sisi lapangan usaha, BPS mencatat empat sektor utama yang memberikan peranan terbesar terhadap pertumbuhan PDB kuartal III-2026. Sektor industri pengolahan menyumbang 1,20 persen, perdagangan 0,94 persen, konstruksi 0,62 persen, serta informasi dan komunikasi 0,49 persen.

"Dari sisi lapangan usaha, pada triwulan III-2026 secara year on year seluruh lapangan usaha tumbuh positif. Lapangan usaha utama yang memberikan kontribusi besar terhadap PDB yaitu industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi dan pertambangan. Total share ke-5 lapangan usaha tersebut mencakup sekitar 65,31% dari PDB nasional," jelas Edy.

Sebelumnya, sejumlah ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 melambat dibandingkan realisasi kuartal sebelumnya yang sebesar 5,29 persen secara tahunan. Konsumsi rumah tangga yang belum pulih merata serta tingginya kebutuhan impor menjadi faktor yang menahan laju pertumbuhan ekonomi.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,23 persen secara tahunan pada kuartal III-2026. Menurutnya, meskipun perekonomian Indonesia memiliki ketahanan yang cukup baik di tengah tekanan eksternal, akselerasi pertumbuhannya dinilai belum merata.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2026 diperkirakan sebesar 5,23% yoy, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan II sebesar 5,29% dan triwulan I sebesar 5,61%," kata Josua dalam keterangan tertulis.

Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, juga memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 melambat. Berdasarkan perhitungannya, pertumbuhan hanya akan berada di sekitar 5 persen secara tahunan.

"Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III sekitar 5% secara tahunan, melambat dari 5,29% pada kuartal II. Ekonomi masih resilien, tetapi konsumsi rumah tangga diperkirakan sedikit lebih moderat, sementara kebutuhan impor yang tinggi membatasi kontribusi ekspor neto," kata Irman.

Angka pertumbuhan 5,47 persen yang diumumkan BPS ini menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih cukup kuat meskipun ada prediksi yang lebih rendah dari berbagai pihak. Perbedaan antara proyeksi dan realisasi ini kemungkinan besar disebabkan oleh perbedaan metodologi dan asumsi yang digunakan dalam perhitungan.

pertumbuhan ekonomiBPSkuartal III-2026konsumsi rumah tanggametodologi statistikPDBinvestasi

Komentar

Memuat komentar...