Ekspor Perdana Kopi SRG Tembus Pasar China-Maroko
Gambar atau konten salah?
Kopi Indonesia terus bertumbuh. Tapi ada satu tantangan besar: menjaga kualitasnya selama penyimpanan. Soalnya, standar perdagangan kopi kita harus bersaing di pasar global. Di sinilah Sistem Resi Gudang (SRG) berperan.
PT Kliring Berjangka Indonesia (PT KBI) menjadi pelopor Pusat Registrasi SRG di negeri ini. Mereka membangun fondasi tata kelola SRG yang aman, transparan, akuntabel, dan terpercaya. Tujuannya? Meningkatkan kepercayaan pelaku usaha, lembaga pembiayaan, dan mitra dagang terhadap komoditas yang dikelola lewat skema SRG.
Baru-baru ini, ada pelepasan ekspor perdana. Volume pengirimannya mencapai 38,4 ton, setara dua kontainer. Total nilai ekspornya US$ 227.443,20. Rinciannya: satu kontainer Kopi Robusta Grade 2 seberat 19,2 ton senilai US$ 71.040 tujuan Maroko, dan satu kontainer Kopi Arabica Semi Wash seberat 19,2 ton senilai US$ 156.403,20 tujuan Tiongkok.
Ini bukan akhir. Pengelola Gudang SRG sudah menjadwalkan pengiriman berikutnya. Ada delapan kontainer Kopi Arabica Semi Wash dengan total volume 153,6 ton. Nilainya mencapai US$ 1.251.225,60, semua menuju Tiongkok. Seluruh kopi premium ini berasal dari Gudang SRG KAI-ASLI Gedebage, Bandung.
Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia, Budi Susanto, punya pandangan. Menurutnya, Sistem Resi Gudang (SRDG) berkembang. Bukan cuma sebagai instrumen pembiayaan, tapi juga bagian penting dalam rantai pasok perdagangan dan ekspor komoditas Indonesia.
"Pelepasan ekspor ini membuktikan bahwa SRG tidak hanya menjadi instrumen pembiayaan bagi petani dan pelaku usaha, tetapi juga mampu menjadi jembatan yang menghubungkan komoditas nasional dengan pasar internasional," kata Budi dalam siaran pers, Jumat 24 Juli 2026. Ia menambahkan, sebagai pelopor Pusat Registrasi SRG di Indonesia, PT KBI akan terus memperkuat tata kelola, digitalisasi layanan, dan kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan. Tujuannya agar pemanfaatan SRG makin luas dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
PT KBI adalah BUMN pertama yang menjalankan fungsi Pusat Registrasi SRG. Mereka berkomitmen memperkuat ekosistem SRG lewat penyelenggaraan registrasi yang aman, transparan, dan akuntabel.
Keberhasilan ekspor kopi ke Tiongkok dan Maroko ini diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan pasar internasional terhadap kualitas komoditas Indonesia. Sekaligus memperluas peluang ekspor dan akses pembiayaan bagi petani, koperasi, UMKM, dan pelaku usaha nasional.
PT KBI mendampingi Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) dalam kegiatan pelepasan ekspor ini. Kopi dari Gudang SRG KAI-ASLI Gedebage, Bandung, kini resmi menuju Tiongkok dan Maroko.
Skema SRG ini sebenarnya sederhana. Petani atau pelaku usaha bisa menyimpan komoditasnya di gudang resmi, lalu mendapatkan resi gudang. Resi itu bisa dijadikan jaminan untuk mendapatkan pembiayaan dari bank. Jadi, mereka tidak perlu menjual hasil panen dengan harga murah di musim panen. Mereka bisa menunggu harga lebih baik, sementara kualitas kopi tetap terjaga di gudang bersertifikat. Ekspor perdana ini menunjukkan bahwa sistem itu bekerja—bukan hanya di atas kertas, tapi nyata mengirim kopi ke luar negeri.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pemerintah Luncurkan Gerakan Nasional Pelayanan Publik
BCA, KAI, dan GoTo Puncaki Perusahaan Terbaik 2026 Versi Statista
Ibu Petani Wae Moto Jadi Nasabah Pertama PNM Mekaar Demi Anak
PRO AVL Indonesia 2026 Hadirkan 60 Merek Global
Pertamina Gelar HSSE Jambore, Tegaskan Komitmen Keselamatan
MK Larang Kuota Internet Hangus, YLKI Sambut Baik
