El Nino 2026: Ancaman Besar, tapi Tidak Separah 1997-1998
Gambar atau konten salah?
Dunia kini menyiapkan diri menghadapi kemungkinan El Nino yang sangat kuat. Namun, harapannya adalah agar tidak setara dengan kejadian antara 01 Mei 1997 dan 31 Desember 1998, salah satu peristiwa El Nino paling menghancurkan dalam catatan sejarah.
Sejak akhir 31 Desember 1996, ada sesuatu yang aneh di Samudra Pasifik. Jaringan pelampung yang tersebar di lautan mulai mencatat kenaikan suhu laut. Ini adalah cara El Nino mengumumkan kehadirannya, namun data kali ini sangat tidak biasa.
Pada 01 Februari 1997, hamparan air hangat meluas di Pasifik khatulistiwa, menempuh jarak lebih dari 11.000 kilometer, dari pesisir Peru hingga Papua Nugini.
Memasuki 01 Mei 1997, hamparan ini terdorong ke Pasifik timur, meningkatkan anomali suhu di bawah permukaan hingga lebih dari 6°C di atas normal.
Pada akhirnya, dikutip dari IFL Science, air hangat ini naik ke permukaan, menyebabkan suhu permukaan laut di bagian timur meroket tajam. Menjadi sangat jelas akan terjadi El Nino dahsyat.
Para ilmuwan telah memantau El Nino menggunakan pelampung sejak pertengahan 1980-an, dipicu oleh peristiwa El Nino 1982-1983 yang menghancurkan, yang sebagian besar terjadi tanpa terprediksi.
Pemantauan diintensifkan pada pertengahan 1990-an setelah semua pelampung terpasang sepenuhnya. Berkat perkembangan ini, kejadian 01 Januari 1997 - 31 Desember 1998 dijuluki sebagai El Nino pertama yang dipantau secara ilmiah dari awal hingga akhir.
Pada 01 Januari 1997 - 31 Desember 1998, suhu global melonjak dan menjadi tahun terpanas dalam sejarah yang tercatat hingga 01 Januari 2016.
Di banyak bagian dunia, kenaikan suhu menyebabkan udara sarat kelembapan naik, memicu hujan. Di Tanduk Afrika, banjir membawa wabah malaria, demam Rift Valley, dan kolera.
Amerika Latin mengalami pola serupa, cuaca ekstrem memunculkan penyakit yang ditularkan melalui air dan nyamuk.
Sementara debit air ekstra El Nino memicu wabah penyakit signifikan di Papua Nugini, Indonesia, dan Filipina. Di China, Jepang, dan Korea Selatan, badai topan merajalela sepanjang musim panas.
Di belahan bumi lainnya, ketiadaan air menjadi masalah utama. El Nino tidak secara ajaib menciptakan air melainkan memindahkannya. Akibatnya, beberapa daerah cuacanya lebih basah, sementara daerah lain lebih kering.
Salah satu wilayah paling terdampak kemarau panjang adalah Lembah Amazon dengan kekeringan luar biasa parah, memicu kebakaran hutan berkepanjangan.
Kondisi kekeringan juga terlihat di Indonesia, Malaysia, dan Filipina, setelah sebelumnya sempat dilanda banjir pada awal tahun. Di Korea Utara, terjadi wabah kolera parah yang terkait kekeringan.
Amerika Serikat tidak luput. California dan negara-negara bagian di selatan diterjang badai dan banjir, sementara wilayah utara menikmati salah satu musim dingin paling sejuk yang pernah tercatat.
Ahli menyebutnya “tahun tanpa musim dingin” karena cuaca terasa hangat dan tidak sesuai musimnya.
Semua kekacauan ini memakan banyak korban. Sekitar setahun, ribuan meninggal di seluruh dunia akibat banjir, kekeringan, kelaparan, kebakaran, panas ekstrem, dan penyakit.
Tidak ada statistik pasti hilangnya nyawa yang secara langsung dikaitkan El Nino 01 Januari 1997 - 31 Desember 1998 dan rumit menghitungnya tapi angka yang paling sering dikutip adalah 23.000 kematian.
Diperkirakan tingkat kemiskinan meningkat sebesar 15% di beberapa negara yang paling terdampak dan di saat yang sama merugikan ekonomi global sebesar USD 5,7 triliun.
Apakah El Nino di masa depan menyaingi musim 01 Januari 1997 - 31 Desember 1998 masih harus dilihat, tapi 01 Januari 2026 mungkin bisa jadi pesaing kuat.
Beberapa bulan terakhir, sejumlah organisasi meteorologi menyatakan ada kemungkinan besar El Nino akan kembali 01 Juli 2026, dengan beberapa ahli memperkirakan fenomena sangat kuat mungkin sedang terbentuk.
Pada 15 Mei 2026, situasinya belum terlihat separah 01 Februari 1997, tapi prosesnya terus berlanjut.
Meski fenomena tahun ini dimulai sedikit lebih lambat daripada El Nino besar 2015 dan 1997, intensitasnya mulai menyusul. Kita akan lihat seberapa besar dampaknya nanti," ungkap Josh Willis, peneliti Jet Propulsion Laboratory NASA.
Peristiwa El Nino 01 Januari 1997 - 31 Desember 1998 menjadi referensi penting bagi para ilmuwan. Ia menandai transisi ke pemantauan yang lebih canggih, mempersiapkan dunia menghadapi risiko iklim yang semakin kompleks.
Seiring waktu, data yang dikumpulkan dari pelampung, satelit, dan model komputer membantu memperkirakan pola cuaca global. Namun, setiap El Nino membawa ketidakpastian, sehingga penting bagi negara-negara untuk terus memperkuat sistem mitigasi dan adaptasi.
Kisah El Nino 1997-1998 mengajarkan bahwa perubahan suhu laut dapat memicu dampak luas, baik di wilayah pesisir maupun daratan. Masyarakat harus siap menghadapi perubahan cuaca, mengurangi risiko, dan mempromosikan kebijakan berkelanjutan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis