El Nino 'Godzilla' Kuat, Pedoman Kesehatan Siap Rilis
Gambar atau konten salah?
Badana Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan bahwa Indonesia akan menghadapi fenomena El Nino dengan intensitas kuat pada tahun ini, yang sering disebut “Godzilla”.
Menurut BRIN, El Nino “Godzilla” merupakan anomali pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik ekuator. Fenomena ini diperkirakan akan memicu musim kemarau yang jauh lebih panjang dan kering, terutama di wilayah Indonesia bagian Barat dan Selatan.
“Kemenkes melalui Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit akan merilis Surat Edaran tentang Kesiapsiagaan Bidang Kesehatan Menghadapi Potensi Peningkatan Kebakaran Hutan dan Lahan, Polusi Udara serta Penyakit Terkait Iklim di Musim Kemarau,” kata Aji Muhawarman, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, pada Rabu (25 Maret 2026).
Surat Edaran ini bertujuan memberikan pedoman bagi kepala dinas kesehatan provinsi, kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, direktur/kepala rumah sakit, kepala besar/balai/loka kekarantinaan kesehatan, kepala balai besar/balai laboratorium kesehatan, serta kepala Puskesmas di seluruh wilayah Indonesia untuk mengantisipasi kemungkinan dampak kesehatan akibat musim kemarau tersebut.
Menurut Aji, ada beberapa dampak yang bisa terjadi jika Indonesia benar-benar dihantam oleh kemarau panjang. “Kondisi musim kemarau dengan curah hujan yang rendah dapat menyebabkan proses pencucian polutan di udara oleh proses rain washing menjadi berkurang,” ujarnya.
“Pada hari‑hari yang sudah lama tidak terjadi hujan, udara yang stagnan, cuaca cerah, adanya lapisan inversi suhu, atau kecepatan angin yang rendah memungkinkan polusi udara tetap mengapung di udara suatu wilayah dan mengakibatkan peningkatan konsentrasi polutan yang tinggi,” tambahnya.
Memasuki puncak musim kemarau, beberapa wilayah di Indonesia juga harus mengantisipasi peningkatan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan, khususnya pada wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi. Kebakaran ini dapat menyebabkan polusi udara akibat kabut asap.
“Musim kemarau membawa perubahan cuaca yang drastis dengan meningkatnya suhu udara dan penurunan curah hujan, kondisi ini berpotensi meningkatkan kejadian penyakit tular vektor seperti Dengue dan Malaria,” jelas Aji.
“Kekeringan juga dapat menyebabkan penurunan kualitas air dan sanitasi, sehingga dapat meningkatkan kejadian diare, tifoid, kolera dan leptospirosis,” tutupnya.
Dengan kondisi ini, kesiapsiagaan kesehatan menjadi kunci. Pemerintah mengajak semua pihak untuk mempersiapkan diri menghadapi potensi peningkatan polusi udara, kebakaran hutan, serta penyakit terkait iklim selama musim kemarau yang diprediksi akan lebih lama dan kering.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bloom Putih Anggur: Lapisan Lilin Alami, Bukan Jamur
Rasa Terbakar Dada: Penyebab Utama dan Tanda Peringatan
Minum 3‑4 Cangkir Kopi Bisa Perlambat Penuaan 5 Tahun
Trump Lakukan Tiga Pemeriksaan Medis di Walter Reed
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Berita Terbaru
Lirik Lagu Timur: Rindu dan Harapan di Jarak Jauh Menyusuri
Gaji Ke-13 2026: Mulai Bayar ASN, TNI, Polri, Pensiunan
Bloom Putih Anggur: Lapisan Lilin Alami, Bukan Jamur
Surabaya Target 250 Medali Emas Porprov Jatim 2027
Hanya 8 Tim Piala Dunia 2026 Punya Pemain Lokal, 310 Luar Negeri
SPMB Jakarta 2026: Daftar Sekolah dengan Skor UTBK 2022
KAI Butuh Rp1,2 Triliun & 8.000 Petugas Perlintasan Sebidang
Dolar AS Beruat Rp 18.000, Rupiah Terdampak Kuat Pada Hari
