FIFA Jadi Pemenang Finansial Piala Dunia 2026

Cahyo S. · 5 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
FIFA Jadi Pemenang Finansial Piala Dunia 2026

Gambar atau konten salah?

Sudah satu bulan Piala Dunia 2026 berlangsung. Sepanjang itu, publik di berbagai penjuru dunia larut dalam euforia pertandingan sepak bola antarnegara.

Malam nanti, semuanya akan berujung. Partai final mempertemukan Argentina sebagai juara bertahan dengan Spanyol yang datang sebagai penantang.

Sementara para pemain bintang menorehkan sejarah di lapangan, miliaran dolar juga berputar di luar stadion. Tapi tidak semua pihak kebagian untung besar. Lalu siapa yang paling diuntungkan secara finansial dari Piala Dunia tahun ini? Berikut ulasannya.

FIFA

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menjadi pihak yang paling meraup keuntungan finansial dari hajatan sepak bola dunia tahun ini.

Marion Laboure, ahli strategi senior di Deutsche Bank Research, menyebut FIFA jelas merupakan pemenang utama secara finansial. Pendapatan organisasi itu selama siklus empat tahun diperkirakan mendekati US$ 13 miliar atau sekitar Rp 232 triliun (kurs Rp 17.900).

Pemasukan FIFA berasal dari penjualan hak siar, hak lisensi dan perhotelan, kesepakatan sponsor, serta penjualan tiket. "FIFA juga masuk ke pasar sekunder melalui platform penjualan kembali resmi mereka, dengan mengambil biaya 15% dari pembeli maupun penjual," kata Laboure.

Sebagai perbandingan, dari Piala Dunia 2022 di Qatar yang digelar saat pandemi COVID-19, FIFA mengantongi keuntungan hingga US$ 7,6 miliar. Jumlah itu diperkirakan akan lebih besar lagi tahun ini karena turnamen diperluas menjadi 48 tim dan digelar tanpa pandemi di tiga negara: Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.

Penyiar dan Sponsor

Perusahaan penyiaran memang harus mengeluarkan biaya besar untuk menayangkan turnamen. Tapi jumlah penonton yang tinggi dan sponsor yang ingin mereknya muncul di layar membuat mereka punya peluang meraup untung dari penjualan slot iklan.

Tahun ini, FIFA memperkenalkan jeda hidrasi yang sempat ramai diperbincangkan. Organisasi itu mengklaim langkah tersebut murni untuk kepentingan olahraga dan tidak memberi pendapatan tambahan. Namun kenyataannya, jeda tiga menit untuk mengisi cairan tubuh pemain justru membuka peluang komersial baru bagi penyiar dan sponsor.

Fox Sports di Amerika Serikat membayar US$ 485 juta untuk hak siar. Mereka memperkenalkan jeda tersebut dengan label yang dipersembahkan oleh sebuah merek. Menurut para ahli, rata-rata slot iklan 30 detik selama Piala Dunia di Fox bernilai antara US$ 200-300 ribu atau sekitar Rp 3,5-5,3 miliar. Angka itu bahkan mencapai US$ 750 ribu atau sekitar Rp 13,4 triliun selama pertandingan Amerika Serikat di fase akhir turnamen.

"Jeda hidrasi pada dasarnya adalah inventaris iklan. Saya akan sangat terkejut jika itu dihapus. Format turnamen yang diperluas akan tetap dipertahankan karena skala kini menjadi model bisnis FIFA," ujar Laboure.

Sponsor resmi Piala Dunia membayar biaya sangat besar untuk mengaitkan merek mereka dengan kompetisi. Tapi hampir pasti mereka juga mendapat keuntungan finansial. Merek seperti Adidas dan Coca-Cola terlihat di mana-mana.

Penjual Merchandise

Para penjual merchandise juga kebagian rezeki. Antusiasme penggemar mendorong penjualan jersey tim nasional di seluruh dunia. Nike dan Adidas melaporkan penjualan jersey tim nasional tahun ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan Piala Dunia 2022.

Jersey Inggris menjadi produk Nike terlaris, diikuti oleh Prancis, Brasil, Belanda, dan Amerika Serikat. Sementara bagi Adidas, jersey Meksiko menjadi yang paling laris.

JD Sports, salah satu lokapasar olahraga besar, mencatat rekor penjualan jersey Inggris tahun ini. Perusahaan itu juga menyebut Skotlandia memiliki jersey dengan penjualan terbaik secara keseluruhan. Penjualan jersey Jerman, Brasil, Meksiko, dan Argentina juga melonjak.

Fans Sepak Bola

Fans sepak bola adalah bagian penting dari Piala Dunia 2026. Tanpa mereka, tidak akan ada gegap gempita. Namun ironisnya, para penonton justru menjadi pihak yang merugi secara finansial.

Masalah utamanya adalah harga tiket yang melambung. FIFA kembali mengeluarkan kebijakan yang dinilai merugikan fans: penerapan harga tiket dinamis. Tiket bisa semakin mahal ketika permintaan tinggi.

Tiket final di Stadion MetLife, New Jersey secara resmi ditawarkan seharga US$ 32.970 atau sekitar Rp 590 juta. Sementara beberapa tiket di pasar penjualan kembali dipasarkan dengan harga lebih dari US$ 2 juta atau sekitar Rp 35,8 miliar. Presiden FIFA Gianni Infantino membela harga tersebut dengan alasan biayanya sejalan dengan ajang olahraga lain di Amerika Serikat.

Di luar tiket, penggemar juga terbebani mahalnya biaya penerbangan, makanan, dan akomodasi. Salah satu contoh yang mencolok adalah kenaikan tarif kereta New Jersey Transit. Perjalanan kereta selama 30 menit menuju Stadion MetLife naik menjadi US$ 150 selama turnamen, dari tarif normal pulang-pergi yang hanya US$ 12,90. Gelombang protes membuat harga akhirnya diturunkan, tetapi tetap lebih mahal dibanding tarif normal.

Kota Tuan Rumah

Sebanyak 16 kota menjadi tuan rumah Piala Dunia di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Mereka menyambut kedatangan banyak penggemar dan wisatawan yang meningkatkan aktivitas sektor perhotelan, hotel, serta bisnis lokal. Tapi manfaat hajatan sepak bola bagi ekonomi lokal ternyata sangat terbatas.

FIFA memperkirakan sekitar US$ 41 miliar akan masuk sebagai nilai tambah dalam perekonomian global. US$ 17 miliar di antaranya diprediksi meningkatkan ekonomi AS serta menciptakan sekitar 185.000 lapangan kerja.

Namun Alexander Budzier, peneliti praktik manajemen di Universitas Oxford, berpendapat manfaat ekonomi jangka panjang dari penyelenggaraan ajang sebesar Piala Dunia pada kenyataannya tidak pernah benar-benar terwujud. Menurutnya, kota-kota tuan rumah justru biasanya mengalami penurunan jumlah pengunjung yang cukup besar karena banyak orang memilih menghindari kekacauan selama turnamen.

Meskipun mungkin terjadi peningkatan perekrutan tenaga kerja, Budzier berpendapat pekerjaan yang tersedia umumnya hanya bergaji rendah di sektor perhotelan. "Ajang ini menciptakan lapangan kerja, tetapi tidak menciptakan kekayaan," katanya.

Data resmi menunjukkan perekrutan di pub, bar, dan restoran di Amerika Serikat meningkat menjelang turnamen pada bulan Mei, tetapi lonjakan itu hanya berlangsung singkat. Menurut Budzier, sebagian besar pertandingan Piala Dunia kali ini menggunakan stadion, hotel, kompleks latihan, dan infrastruktur transportasi yang sudah ada. Dengan begitu, tidak akan ada manfaat ekonomi dari sisi pembangunan.

Hotel dan Akomodasi

Hotel dan akomodasi semula diramal menjadi sektor paling untung. Tapi kenyataannya, permintaan kamar hotel yang diperkirakan tinggi tidak terwujud.

Bagi pelaku industri hotel di Amerika Serikat, antusiasme menjelang turnamen tidak membuahkan hasil yang diharapkan. American Hotel and Lodging Association (AHLA) menuduh FIFA memesan terlalu banyak kamar hotel untuk kebutuhannya sendiri sehingga menciptakan permintaan yang semu. FIFA mengatakan tidak mengakui tuduhan tersebut.

Laboure dari Deutsche Bank Research mengatakan hal serupa juga terjadi di Prancis pada tahun 1998 ketika permintaan tidak memenuhi ekspektasi. "Pada bulan April, 80% operator hotel di Amerika Serikat mengatakan tingkat pemesanan masih di bawah proyeksi awal mereka. Dua pertiga pengelola hotel di New York melaporkan pemesanan yang lebih lemah dari perkiraan, dan di Seattle hampir 80% mengalami hal yang sama," papar Laboure. "Banyak di antara mereka menyebut turnamen ini sebagai peristiwa yang tidak berdampak."

Dari semua pihak yang terlibat, FIFA dan sponsor besar menjadi yang paling diuntungkan secara finansial. Sementara fans, kota tuan rumah, dan bahkan hotel justru menghadapi kenyataan pahit: euforia sepak bola tidak selalu sejalan dengan keuntungan ekonomi.

Piala Dunia 2026FIFAkeuntungan finansialsponsorfans sepak bolatiket mahalkota tuan rumah

Komentar

Memuat komentar...