Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Gambar atau konten salah?
Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Setelah menutup Selat Hormuz, Iran dikabarkan meminta kelompok Houthi di Yaman untuk bersiap menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah. Langkah ini disebut sebagai antisipasi jika Amerika Serikat menyerang infrastruktur listrik Iran.
Tiga sumber internal yang berbicara secara anonim mengatakan kepada Reuters pada Jumat, 17 Juli 2026, bahwa permintaan tersebut sudah diterima Houthi. Artinya, dua jalur ekspor minyak paling penting di dunia berpotensi lumpuh total.
Namun, ketiga sumber itu tidak memberikan rincian lebih lanjut. Tidak dijelaskan bagaimana pesan itu disampaikan atau apakah rencana penutupan Laut Merah terkait langsung dengan ancaman Presiden AS Donald Trump pada Selasa, 14 Juli lalu. Trump saat itu mengancam akan menyerang infrastruktur listrik Iran.
Sumber yang dekat dengan Houthi mengatakan kelompok itu sudah menyelesaikan persiapan untuk menyerang pelayaran internasional. Rudal dan drone telah ditempatkan di sekitar Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk menuju Laut Merah.
Houthi kini hanya menunggu perintah untuk memulai operasi pemblokiran. Keputusan kapan Selat Bab el-Mandeb akan ditutup berada di tangan perwakilan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang sudah berada di Yaman.
Sebagai tanda meningkatnya ketegangan, Houthi sudah menembakkan rudal ke Arab Saudi. Mereka menuduh kerajaan itu membom bandara di bawah kendali mereka pada Senin, 14 Juli lalu. Menurut Houthi, serangan itu melanggar gencatan senjata yang sudah berjalan selama empat tahun terakhir.
Analis utama urusan Timur Tengah di perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft, Torbjorn Solvedt, mengatakan peningkatan ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi terjadi pada waktu yang buruk. Jika konflik bersenjata benar-benar terjadi, sejumlah fasilitas energi bisa terganggu.
"Jika pertempuran meningkat dan meluas ke infrastruktur ekspor dan pelayaran Laut Merah, itu akan mengancam satu-satunya jalur alternatif utama untuk ekspor minyak dari kawasan tersebut," kata Solvedt.
Sejak penutupan Selat Hormuz akibat perang AS melawan Iran, sebagian besar minyak dari kawasan Teluk telah dialihkan ke Laut Merah melalui pipa Arab Saudi. Kini jalur air tersebut membawa sekitar 7% pasokan energi global.
Arab Saudi, salah satu produsen minyak dunia, telah mengalihkan 70% ekspor energinya melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Serangan langsung di area itu akan menjadi masalah besar bagi pasar minyak dunia.
Salah satu sumber regional mengatakan upaya menutup Selat Bab el-Mandeb tidak akan sulit. Siapa pun bisa melakukannya meski hanya bermodal senjata api sederhana.
"Siapa pun dengan senapan dapat mengganggu pelayaran. Anda tidak perlu memiliki rudal canggih untuk mengganggu pelayaran," ucap sumber itu.
Dengan dua jalur energi utama—Selat Hormuz dan Laut Merah—terancam, pasokan minyak global berada dalam posisi rentan. Ketegangan antara Iran, Houthi, dan AS menciptakan situasi yang bisa mengganggu stabilitas energi dunia dalam waktu dekat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026