Fosil Rahang Gurita Raksasa Cretaceous Dapat 19 Meter di Jepang
Gambar atau konten salah?
Jutaan tahun lalu, laut dalam diperkirakan dihuni oleh makhluk mirip kraken, yang dikenal sebagai gurita raksasa. Fosil rahang mereka, panjangnya mencapai 19 meter, menjadi bukti utama.
Jurnal yang diterbitkan oleh Science pada 23 April 2026 menegaskan bahwa ukuran rahang ini menjadikan gurita tersebut sebagai cephalopoda terbesar yang pernah ada. Laporan ini dipublikasikan di 26 Mei 2026.
Namun, mempelajari fosil gurita tidak mudah. Sebagian besar tubuh lunaknya cepat terurai, sehingga hanya bagian keras seperti rahang yang dapat bertahan. Menurut Yasuhinro Iba, paleontolog di Universitas Hokkaido, Jepang, ini menjadi kendala utama.
Fosil rahang yang ditemukan berasal dari Jepang dan Pulau Vancouver, Kanada. Para peneliti menyebutkan bahwa fosil ini berasal dari Kapur Akhir, sekitar 72 hingga 100 juta tahun lalu.
Di periode itu, dinosaurus masih menguasai daratan. Meski begitu, laut dalam juga dipenuhi makhluk besar, termasuk gurita raksasa yang kini menjadi fokus penelitian.
Iba dan rekan-rekannya meneliti 15 fosil rahang cephalopoda. Mereka mengukur setiap rahang dengan teliti dan membandingkannya dengan spesies gurita serta cumi-cumi yang masih hidup maupun punah.
Selain itu, tim tersebut menemukan 12 fosil rahang tambahan yang tertanam dalam batuan di Jepang. Batuan tersebut digiling lapis demi lapis dan difoto pada setiap langkahnya, memastikan detail tidak hilang.
Dengan bantuan kecerdasan buatan, para peneliti membuat model digital terperinci dari fosil yang terlalu rapuh untuk ditambang secara tradisional. Model ini membantu mereka memvisualisasikan bentuk asli rahang tersebut.
Awalnya, 27 cephalopoda ini dianggap berasal dari lima spesies punah yang berbeda. Namun, setelah analisis lebih lanjut, mereka diklasifikasikan kembali menjadi hanya dua spesies: Nanaimoteuthis jeletzkyi dan N. haggarti.
Perbandingan dengan rahang cephalopoda lainnya menunjukkan bahwa makhluk ini merupakan gurita bersirip purba. Gurita bersirip modern, seperti dumbo, memiliki selaput di antara lengannya dan sirip di ujung tubuhnya.
Kerabat purba ini jauh lebih besar. Rahang bawah terbesar milik N. haggarti dapat menampung buah seukuran jeruk bali, dan ukurannya sekitar 50% lebih besar daripada rahang cumi-cumi raksasa modern yang panjangnya 12 meter.
Iba dan rekan-rekannya memperkirakan bahwa jika termasuk payung lengan N. haggarti yang mengembang, panjangnya bisa mencapai antara 7 hingga 19 meter. “Hewan itu mungkin termasuk di antara invertebrata terbesar dalam sejarah Bumi,” kata Iba.
Dengan ukuran tersebut, N. haggarti mungkin menyaingi atau bahkan melampaui predator laut terbesar pada masa itu, seperti reptil raksasa mosasaurus dan plesiosaurus berleher panjang.
Temuan ini menunjukkan bahwa ekosistem laut purba lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya. Puncak rantai makanan laut, yang selama ini dianggap didominasi oleh vertebrata besar, ternyata juga diisi oleh invertebrata raksasa seperti gurita ini.
“Studi kami menunjukkan bahwa invertebrata raksasa—gurita—juga menduduki peran itu pada periode Cretaceous,” pungkas Iba.
Penelitian ini menambah pemahaman kita tentang kehidupan laut masa lampau. Gurita raksasa ini tidak hanya menakjubkan karena ukurannya, tetapi juga karena peran pentingnya dalam jaringan ekologi laut.
Dengan bukti fosil yang kuat dan analisis digital, para ilmuwan kini dapat menggambarkan lebih jelas bagaimana makhluk besar ini hidup dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Penemuan ini membuka pintu bagi studi lebih lanjut tentang evolusi cephalopoda dan dinamika ekosistem laut Cretaceous.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SAP Tunjuk Verena Siow Pimpin Asia Pasifik
Tembok Hijau Afrika: 8.000 Km Lawan Gurun Sahara
Binus Tuan Rumah KTT Pendidikan Asia Pasifik 2026
Yunani Bayar Nelayan Rp 90 Ribu Per Kg Ikan Buntal Beracun
Kiper Tanpa Klub, Vozinha Kini Dikagumi 25 Juta Orang
Studi Baru: Hobbit Flores Ternyata Pemakan Bangkai
Berita Terbaru
Pria 68 Tahun Temukan Cincin Emas Romawi Langka di Somerset
Pelatih Norwegia Redam Sorotan Haaland Hadapi Brasil
Skin Starlight Belerick Juli 2026: Tampil Gagah Sebagai Benteng Api
Pria Toraja Meninggal Akibat Rabies Setelah Abaikan Gigitan Anjing
Faunaland Targetkan Bandung Zoo Segera Buka
MagangHub Kemnaker 2026 Dibuka 15 Juli
Brasil vs Norwegia: Rekor Buruk Ancelotti
Oli Tumpah di Jalan Agus Salim Batu, Dua Motor Terjatuh
Mengapa Korban Tak Bisa Tinggalkan Pasangan Toksik
