FTSE Naikkan Status Bursa Vietnam, Target Dana Masuk Rp 106 Triliun

Andi B. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
FTSE Naikkan Status Bursa Vietnam, Target Dana Masuk Rp 106 Triliun

Gambar atau konten salah?

FTSE Russell, lembaga penyedia indeks saham global, dikabarkan akan menaikkan status bursa saham Vietnam menjadi Secondary Emerging Market dalam pengumuman klasifikasi ulang pada Senin mendatang. Menjelang pengumuman penting ini, minat investor asing terhadap saham-saham Vietnam mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Kenaikan kelas bursa Vietnam ini diperkirakan akan meningkatkan eksposur global terhadap saham-saham negara tersebut. FTSE sendiri memperkirakan akan ada aliran modal masuk ke saham Vietnam mencapai US$ 6 miliar, atau setara dengan sekitar Rp 106,87 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.812 per dolar AS). Proses transisi ini rencananya akan berlangsung dalam empat tahap hingga tahun 2027. Saat ini, bursa saham Vietnam masih berstatus frontier market dalam klasifikasi FTSE.

"Tonggak sejarah ini mencerminkan kemajuan luar biasa yang telah dicapai Vietnam dalam memperkuat pasar modalnya," kata kepala eksekutif FTSE, Fiona Bassett, pada Minggu, 20 September 2026.

Manajemen investasi Asia-Pasifik dari Vanguard, Duncan Burns, juga menyatakan akan meningkatkan eksposur perusahaannya di pasar saham Vietnam. Manajer aset tersebut bahkan berencana meningkatkan investasinya menjadi US$ 2,5 miliar, atau sekitar Rp 44,53 triliun, selama beberapa tahun ke depan. Angka investasi ini disebut masih bisa meningkat secara signifikan melampaui US$ 2,5 miliar setelah dana kelolaan aktif mulai dialokasikan ke pasar. Kondisi ini diperkirakan turut membantu menghidupkan kembali minat asing terhadap saham Vietnam.

Data menunjukkan bahwa investor luar negeri membeli saham senilai 2,7 triliun dong di Bursa Efek Ho Chi Minh pada pekan 14 hingga 18 September. Namun, secara keseluruhan sepanjang tahun ini, mereka masih tercatat sebagai penjual bersih dengan nilai sekitar 91 triliun dong.

Pada bulan Agustus lalu, FTSE telah mengidentifikasi 27 saham Vietnam yang memenuhi syarat untuk masuk dalam klasifikasi Indeks FTSE Global All Cap. Beberapa nama besar termasuk di dalamnya, seperti konglomerat Vingroup, perusahaan teknologi FPT, dan perusahaan pembuat baja Hoa Phat Group.

SSI Research memperkirakan bahwa arus dana ETF pada tahap pertama akan banyak masuk ke saham bank swasta VPBank, pengembang properti Vinhomes, FPT, dan Hoa Phat. Namun, Vingroup justru diperkirakan akan mengalami arus dana keluar bersih sekitar US$ 28 juta. Menurut SSI Research, hal ini disebabkan oleh penjualan dari ETF yang sudah ada yang diperkirakan lebih besar dibandingkan pembelian saham Vingroup akibat kenaikan peringkatnya.

"Kenaikan peringkat FTSE merupakan pertanda dalam perjalanan menuju kesadaran dan keterlibatan yang lebih besar dari investor asing," kata Ketua Dynam Capital, Craig Martin. Ia menambahkan, "Pasar tetap relatif murah dan pertumbuhan pendapatan masih kuat."

Meskipun ada optimisme, kinerja pasar saham Vietnam masih relatif tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga. Indeks VN-Index baru naik sekitar 1,4% sepanjang tahun ini. Sebagai perbandingan, berdasarkan data LSEG, indeks di Thailand naik sekitar 24% dan Singapura naik 21% pada periode yang sama. Padahal, tahun lalu Vietnam menjadi pasar saham dengan kinerja terbaik di Asia Tenggara, didorong oleh ekspektasi investor terhadap reklasifikasi FTSE.

Sejumlah tantangan masih membayangi pasar saham Vietnam. Batasan kepemilikan asing dan keterbatasan free float pada sejumlah perusahaan menjadi kendala utama. Pencapaian kenaikan peringkat ini juga kembali memunculkan harapan bahwa Vietnam akan mendapat peningkatan peringkat dari MSCI di masa mendatang. Investor menilai bahwa penerapan mekanisme kliring melalui central counterparty (CCP), yang diperkirakan paling cepat dimulai pada 2027, dapat membantu Vietnam memenuhi persyaratan akses pasar MSCI.

Kenaikan status oleh FTSE ini menjadi langkah penting bagi pasar modal Vietnam. Meski antusiasme investor asing mulai terlihat, tantangan struktural seperti aturan kepemilikan asing dan keterbatasan jumlah saham yang beredar masih perlu diatasi. Keberhasilan Vietnam dalam mengimplementasikan mekanisme kliring baru akan menjadi kunci untuk menarik lebih banyak investasi dan mungkin mendapatkan pengakuan serupa dari lembaga pemeringkat lainnya.

FTSE RussellVietnamSecondary Emerging Marketsaham Vietnaminvestor asingreklasifikasialiran modal

Komentar

Memuat komentar...