Gen Z Gemar Praktik Puasa Intermiten, Coba Tahu Manfaatnya

Sigit W. · 2 min baca · 28 hari lalu · 61 dibaca
Bisik.id
Gen Z Gemar Praktik Puasa Intermiten, Coba Tahu Manfaatnya

Gambar atau konten salah?

Di kalangan Gen Z, Intermittent Fasting atau puasa intermiten semakin sering dibicarakan. Banyak yang melihatnya sebagai cara hidup sehat yang tetap fleksibel, tanpa harus menahan diri dari makanan favorit.

Menurut laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Intermittent Fasting adalah metode mengatur pola makan dengan berpuasa pada periode tertentu. Kamu bisa menentukan kapan mulai puasa dan kapan boleh makan, tanpa harus memperketat jenis makanan yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi.

Selama puasa, tubuh hanya diizinkan minum cairan tanpa kalori. Tidak ada larangan terhadap makanan tertentu; fokusnya adalah pada disiplin jadwal makan. Jadi, kamu tetap bisa menikmati makanan biasa, hanya saja waktunya dibatasi.

Metode ini sering disarankan dengan interval 16 jam puasa dan 8 jam makan. Namun, durasi bisa disesuaikan sesuai kenyamanan masing‑masing. Sejak lama, puasa sudah dikenal sebagai cara bertahan hidup, dan kini dipakai untuk menata pola makan sehari‑hari.

Berikut beberapa manfaat utama Intermittent Fasting:

  • Pengurangan lemak tubuh – Dengan menurunkan kalori masuk karena jeda makan, tubuh mulai memanfaatkan cadangan lemak sebagai energi.
  • Mencegah inflamasi – Pola makan teratur dan terjadwal dapat menurunkan risiko peradangan, yang menjadi penyebab utama penyakit kronis.
  • Menurunkan resistensi insulin – Puasa dapat menurunkan gula darah sekitar 3‑6 % dan insulin hingga 20‑30 %, membantu mengurangi risiko diabetes tipe 2.
  • Menyehatkan jantung – Kolesterol LDL dan trigliserida menjadi lebih terkendali, sehingga risiko gangguan jantung berkurang.
  • Mencegah kanker – Saat tubuh tidak menerima asupan makanan, sel abnormal dapat mengalami proses penghancuran alami.
  • Detoksifikasi tubuh – Puasa memicu proses autophagy, mekanisme alami sel memusnahkan bagian rusak atau beracun dan menggunakannya kembali.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa Intermittent Fasting tidak hanya sekadar menurunkan berat badan. Ia juga memengaruhi berbagai indikator kesehatan, mulai dari metabolisme lemak hingga sensitivitas insulin. Dengan mengatur waktu makan, tubuh dapat lebih efisien membakar lemak dan mengontrol hormon yang berhubungan dengan rasa lapar.

Selain itu, puasa 16 jam sering dipilih karena cukup menengah bagi kebanyakan orang. Kamu masih punya waktu cukup lama untuk menikmati makanan di luar jam makan yang ditentukan, sehingga tidak terasa terlalu ketat. Hal ini membuat metode ini cocok bagi Gen Z yang aktif dan sering makan di luar.

Walaupun manfaatnya banyak, penting juga untuk memperhatikan kondisi kesehatan pribadi. Misalnya, orang dengan masalah gula darah atau yang sedang hamil sebaiknya berkonsultasi sebelum memulai pola puasa ini.

Dengan semua informasi di atas, Intermittent Fasting muncul sebagai pilihan yang mudah diterapkan dan menawarkan berbagai keuntungan kesehatan. Bagi yang ingin menjaga tubuh tetap sehat sekaligus menurunkan risiko penyakit kronis, metode ini bisa menjadi alternatif yang layak dipertimbangkan.

Intermittent Fastingpuasa intermitenGen ZdetoksifikasiinsulinjantungKemenkes

Komentar

Memuat komentar...