Habitat Park SCBD: Kabur Sejenak ke Taman Satwa di Tengah Jakarta

Vera T. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Habitat Park SCBD: Kabur Sejenak ke Taman Satwa di Tengah Jakarta

Gambar atau konten salah?

Jakarta punya tempat baru buat kabur sejenak dari hiruk-pikuk gedung tinggi. Namanya Habitat Park SCBD. Ini bukan taman biasa. Tempat ini dirancang sebagai destinasi wisata yang juga mengedukasi pengunjung tentang alam dan satwa liar. Tujuannya, menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan di tengah kota.

Taman modern ini terbagi dalam tiga zona utama: Main Plaza, Botanical Garden, dan Animal Park. Setiap sudutnya dirancang dengan rapi, memadukan tanaman hijau yang asri dengan interaksi langsung bersama hewan. Sekitar 100 ekor binatang dari 42 spesies berbeda tinggal di sini. Mereka semua dijaga oleh 17 ranger yang sudah berpengalaman.

Warga Jakarta ternyata antusias banget. Buktinya, kunjungan harian bisa mencapai 400 hingga 500 orang. Di akhir pekan, angka itu melonjak drastis sampai 1.500 pengunjung. Berikut beberapa fakta unik tentang koleksi satwa di Habitat Park SCBD yang bikin tempat ini beda dari yang lain.

1. Binturong: Si Gemuk yang Wangi Popcorn

Di area Botanical Garden, ada rumah pohon khusus untuk binturong. Hewan ini adalah musang raksasa yang aktif di malam hari, alias nokturnal. Keunikan utamanya? Tubuhnya mengeluarkan aroma manis yang mirip banget dengan popcorn. Keberadaan binturong di sini sudah legal dan diawasi ketat oleh negara.

"Binturong itu hewan yang dilindungi, tapi kami punya izin tangkapnya. Setiap ekor punya sertifikat dari BKSDA," jelas Hanif (31), seorang Animal Curator di Habitat Park SCBD. Setiap binturong ditanami chip khusus yang berisi nomor izin resmi dari pihak berwenang. Jadi, kalau ada apa-apa, mereka bisa dilacak.

2. Otter: Mamalia Cerdas yang Hidup di Dua Alam

Berang-berang atau otter belakangan ini populer jadi peliharaan karena tingkahnya yang lucu dan jenaka. Tapi, Hanif mengingatkan bahwa sejatinya mereka adalah karnivora amfibi—hidup di dua alam, yaitu air dan darat. Perawatannya rumit dan bau. "Mereka mamalia yang hidup di dua alam, jadi repot," kata Hanif.

Sebagai makhluk sosial yang cerdas, otter nggak bisa hidup sendirian. Di Habitat Park, kandang mereka dilengkapi kolam berisi ikan hidup. Tujuannya untuk merangsang insting berburu alami mereka. Meski begitu, pakan utama tetap disiapkan perawat setiap pagi dan sore.

3. Kapibara: Si Paling Santai yang Jadi "Mas Bro"

Habitat Park jadi rumah buat tiga ekor kapibara. Hewan pengerat terbesar di dunia ini dijuluki "Mas Bro" oleh netizen. Mereka dikenal paling tenang dan santai. "Dia bisa bersahabat dengan buaya, karena nggak nganggap buaya itu musuh. Begitu juga sebaliknya," terang Hanif.

Kapibara mahir menyelam sampai 5 menit. Bulunya kasar, mirip ijuk. Uniknya lagi, gigi mereka terus tumbuh setiap tahun. Itu sebabnya mereka harus mengikis giginya di batang pohon. Kalau nggak, giginya bisa tumbuh terlalu panjang dan melukai diri sendiri.

4. Burung Unta: Pelari Cepat yang Agresif

Di kawasan SCBD, ada sepasang burung unta muda yang usianya masih di bawah satu tahun. Mereka adalah hewan diurnal, alias aktif di siang hari. Konsekuensinya, mereka rabun ayam—penglihatan terbatas di malam hari. "Kekuatannya ada di kaki. Bisa lari 70-80 km/jam," cerita Hanif.

Meski tubuhnya raksasa, ukuran otak burung unta ternyata lebih kecil dari bola matanya sendiri. Karakteristik mereka cenderung kurang cerdas dan agresif. Mereka suka menelan benda apa pun di sekitarnya. Karena itu, kebersihan kandang harus dipantau steril setiap hari.

5. Red Fox: Rubah Cantik Berbulu Merah

Di area Animal Park, pengunjung bisa melihat sepasang rubah merah (Red Fox) dengan bulu menyala. Habitat asli mereka butuh kondisi cuaca tertentu. Karena itu, pihak pengelola memasang alat khusus di kandang. "Kami kasih penghangat dan pendingin. Di alam aslinya, mereka butuh panas," ucap Hanif.

Kalau suhu di dalam kandang terlalu panas, bulu rubah yang menggemaskan itu bakal rontok. Jadi, suhu harus dijaga pas.

6. Ruang Burung Hantu: Pengendali Hama Alami

Taman ini punya ruangan khusus yang menampung 13 ekor burung hantu dari 10 spesies lokal berbeda. Burung hantu dikenal sebagai predator dengan kemampuan kamuflase tinggi. Mereka juga jadi pest control atau pembasmi hama paling efektif untuk ekosistem. "Tiga hektar lahan bisa diawasi sepasang burung hantu barn owl," ungkap Lukman (31), ranger yang jaga di kandang burung hantu.

Di bawah pengawasan ranger, pengunjung boleh menyentuh burung hantu yang sudah jinak. Kalau mereka merasa nyaman dan rileks, mereka akan mengangkat satu kaki untuk menghemat energi. Suara yang mereka keluarkan cuma panggilan komunikasi biasa, bukan tanda stres.

Lewat interaksi ini, Lukman menyelipkan pesan edukasi. "Jangan gunakan racun tikus untuk membunuh hama. Karena burung hantu makan hama itu. Racunnya bisa membunuh mereka," pungkasnya. Intinya, biarkan burung hantu tetap di alam liar. Jangan dipelihara di rumah.

Singkatnya, Habitat Park SCBD bukan cuma tempat rekreasi. Ini adalah ruang belajar langsung tentang satwa dan alam, yang dikemas dengan interaksi aman dan terawasi. Dari binturong yang wangi popcorn sampai burung unta yang lari kencang, setiap hewan punya cerita unik yang bisa bikin kita lebih peduli pada lingkungan sekitar.

Habitat ParkSCBDsatwaedukasikonservasibinturongkapibaraburung hantu

Komentar

Memuat komentar...