Hantavirus vs Leptospirosis: Perbedaan Gejala dan Pencegahan

Fandi R. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 81 dibaca
Bisik.id
Hantavirus vs Leptospirosis: Perbedaan Gejala dan Pencegahan

Gambar atau konten salah?

Hantavirus dan Leptospirosis keduanya terkait dengan hewan pengerat, namun perbedaan mereka mulai dari penyebab, gejala, hingga cara penularan. Mengetahui perbedaan ini penting agar kita bisa mencegah paparan sejak dini.

Hantavirus berasal dari virus Orthohantavirus yang dibawa oleh berbagai jenis tikus dan celurut. Tikus-tikus yang berpotensi menularkan virus ini meliputi tikus got, tikus rumah, tikus belukar, tikus ladang, tikus sawah, dan mencit rumah. Virus ini menular lewat kontak langsung dengan hewan, atau lewat ekskresi—saliva, urine, atau feses—yang menempel pada luka kulit atau membran mukosa di mata, mulut, dan hidung. Selain itu, debu atau partikel yang terkontaminasi juga dapat menjadi sumber penularan.

Gejala hantavirus dibagi menjadi dua jenis penyakit utama:

  1. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) menyerang ginjal dan pembuluh darah. Masa inkubasinya 1‑2 minggu. Gejalanya meliputi demam atau menggigil, sakit punggung dan perut, perdarahan, mual, penglihatan kabur, serta sakit kepala hebat.
  2. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) menyerang paru‑paru dengan masa inkubasi 14‑17 hari. Gejala yang muncul adalah sesak napas akut, gagal napas, demam, kelelahan, dan nyeri otot, terutama pada otot besar seperti paha, pinggul, dan punggung.

Untuk mencegah penularan hantavirus, beberapa langkah penting meliputi:

  • Hindari kontak langsung dengan hewan pengerat dan ekskresinya.
  • Jaga kebersihan rumah dan tempat lama tidak dipakai.
  • Membersihkan dan mendisinfeksi kotoran serta urin hewan dengan disinfektan.
  • Jika tidak dapat dihindari, gunakan sarung tangan dan disinfektan saat bersentuhan.
  • Simak makanan dan minuman di tempat tertutup agar tidak menarik hewan.
  • Kelola sampah secara benar.

Berbeda dengan hantavirus, Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira interogans, yang juga dibawa oleh hewan. Bakteri ini dapat bertahan hidup bertahun‑tahun di ginjal hewan tanpa menimbulkan gejala. Hewan yang berpotensi menyebarkan bakteri ini termasuk tikus, babi, anjing, kuda, dan sapi.

Gejala leptospirosis tidak selalu muncul, namun pada kebanyakan kasus gejala muncul 2 hari hingga 4 minggu setelah infeksi. Gejala yang sering dialami meliputi demam, sakit kepala, mual, muntah, tidak nafsu makan, diare, mata merah, nyeri otot, sakit perut, serta bintik‑bintik merah pada kulit yang tetap terlihat saat ditekan.

Penularan leptospirosis dapat terjadi melalui:

  • Kontak langsung kulit dengan urine hewan pembawa bakteri.
  • Kontak kulit dengan air atau tanah terkontaminasi urine.
  • Ingesti makanan terkontaminasi urine.

Untuk mencegah leptospirosis, langkah-langkah berikut sangat dianjurkan:

  • Gunakan pakaian pelindung, sarung tangan, sepatu bot, dan pelindung mata saat bekerja di area berisiko.
  • Menutup luka dengan plester tahan air sebelum kontak dengan air di alam bebas.
  • Hindari kontak langsung dengan air yang terkontaminasi.
  • Minum air bersih yang terjamin kebersihannya.
  • Rajin mencuci tangan sebelum makan dan setelah kontak dengan hewan.
  • Jaga kebersihan lingkungan.
  • Vaksinasi hewan peliharaan atau ternak.

Dengan memahami perbedaan gejala, penyebab, dan cara penularan antara Hantavirus dan Leptospirosis, serta menerapkan langkah pencegahan yang tepat, kita dapat mengurangi risiko terpapar penyakit ini. Kesadaran dan tindakan preventif sederhana menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan masyarakat dari dua penyakit yang terkait dengan hewan pengerat.

HantavirusLeptospirosisTikusUrinPenularanGejalaPencegahan

Komentar

Memuat komentar...