Harga BBM Hong Kong Rp70.000/Liter, Meningkat Paling Tinggi
Gambar atau konten salah?
Gejolak di Timur Tengah memaksa harga minyak dunia naik. Dampaknya langsung terasa pada harga bahan bakar minyak (BBM) di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat. Saat ini, harga BBM di AS telah melesat hingga US$ 4 per galon atau setara Rp 67.920 (kurs Rp 16.980). Kenaikan ini menjadi yang tertinggi sejak 2022. Satu galon setara 3,7 liter.
Di Hong Kong, situasi lebih parah. Penduduk di sana harus membayar US$ 15,6 per galon, setara Rp 264.888 per galon. Jika dihitung per liter, harga tersebut mencapai sekitar Rp 70.000 per liter. Sebelum konflik Timur Tengah memuncak, harga bensin di wilayah ini sudah menjadi yang tertinggi di dunia menurut data GlobalPetrolPrices.com.
John Lee, pemimpin Hong Kong, mengungkapkan keprihatinannya atas lonjakan harga minyak bulan lalu. Ia berkata, "Saya khawatir dengan kenaikan harga minyak bulan lalu, dan saya berjanji akan memantau fluktuasi harga dengan cermat." Lee menegaskan bahwa pasokan energi tetap aman karena Hong Kong memperoleh sekitar 80 % produk minyaknya dari China daratan. Ia menambahkan, "Dengan keuntungan memiliki dukungan kuat dari negara induk, Hong Kong mampu mempertahankan pasokan energi yang stabil di tengah kekurangan energi di banyak wilayah dan kota di seluruh dunia." Pernyataan tersebut diambil pada 04 April 2026.
Konflik yang melibatkan negara-negara Teluk penghasil minyak dan penutupan jalur pengiriman penting di Selat Hormuz telah menyebabkan harga minyak dunia melonjak selama sebulan terakhir. Kondisi ini membuat harga bensin di Hong Kong sangat tinggi, meski wilayah tersebut sangat bergantung pada energi dari Timur Tengah.
Walaupun pemilik mobil pribadi di Hong Kong tidak banyak, para ekonom memperingatkan bahwa harga bensin yang sangat tinggi dapat menambah inflasi dan meningkatkan biaya logistik. Efek panjangnya akan berdampak pada sektor lain, seperti transportasi publik dan industri manufaktur.
Dalam beberapa hari terakhir, media lokal melaporkan bahwa semakin banyak pemilik mobil memilih mengisi bahan bakar di China daratan, di mana harganya lebih rendah hingga sepertiga dibandingkan di Hong Kong. Keputusan ini menunjukkan betapa pentingnya diversifikasi sumber energi bagi kota yang sangat tergantung pada pasokan dari luar negeri.
Secara keseluruhan, gejolak di Timur Tengah tidak hanya memengaruhi harga minyak, tetapi juga menimbulkan tekanan ekonomi di kota-kota yang bergantung pada pasokan energi asing. Hong Kong, meski memiliki dukungan kuat dari China, tetap menghadapi tantangan dalam menjaga kestabilan harga BBM bagi warganya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Tarif Listrik Tetap 2017, Subsidi Naik Rp201 Triliun
Purbaya Jelaskan Defisit APBN 3% di Pertemuan S&P Jakarta
AS Pasang Tarif 10% pada Impor Indonesia, Pemerintah Menelaah
Kementerian Perhubungan Realisasi 32,27% Anggaran Tahun 2026
Rumor Pengunduran Purbaya Yudhi Sadewa, Reshuffle Kabinet?
Indonesia Mulai Transisi Ekspor SDA Satu Pintu lewat DSI Pemerintah
Berita Terbaru
Persaingan Tinggi pada UTBK Plus Unair 2026 Untuk Mahasiswa
Influencer Jakarta Viral Cosplay Disabilitas, Kontroversial
Prabowo Tekankan Standar 8 Potong Ayam MBG, Kumink Jelaskan
Gamelan Bali dan Tarian Tampil di Pagi SF Indo Cita
Wuling Eksion: SUV Plug‑In Hybrid dengan Empat Mode Energi
Indonesia vs Timor Leste: Duel AFF U-19 2026 Live Streaming
Fadia/Tiwi Raih Kemenangan di Perempatfinal Indonesia Open
Debat Tutup Program Studi: Wisnu vs Menteri Yuliarto
