Harga Minyak Nabati Global Naik 21,5% Karena Pasokan Terbatas
Gambar atau konten salah?
Harga minyak nabati di pasar global mengalami lonjakan tajam. Menurut FAO, indeks harga minyak nabati naik 21,5 % pada Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Indeks harga biji‑bijian penghasil minyak dan bungkil kedelai juga tumbuh. Pada Mei 2026, indeks biji‑bijian penghasil minyak melonjak 12,7 % dan indeks bungkil kedelai naik 19,6 % dibandingkan tahun sebelumnya.
“Pada Mei 2026, indeks harga FAO untuk biji‑bijian penghasil minyak dan bungkil kedelai masing-masing melampaui level tahun lalu sebesar 12,7 % dan 19,6%. Sementara itu, indeks minyak nabati melonjak tajam sebesar 21,5 % dari posisi Mei 2025,”
FAO menyoroti bahwa tren kenaikan ini berakar pada masalah pasokan. Produksi minyak sawit di Asia Tenggara, negara produsen terbesar, mengalami perlambatan. Sementara itu, pasokan minyak bunga matahari menipis akibat ketegangan di wilayah Laut Hitam, termasuk Ukraina. Stok yang berkurang langsung mendorong harga internasional naik.
“Tren ini didorong oleh langkanya pasokan minyak sawit dan minyak bunga matahari,”
Konflik di Timur Tengah turut memperparah situasi. Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut mengakibatkan harga minyak mentah melonjak. Karena hubungan saling terkait di pasar komoditas energi, kenaikan minyak bumi turut menekan harga minyak nabati.
“Tren ini juga didorong oleh Lonjakan harga minyak mentah menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah,”
Di sisi lain, permintaan minyak nabati tidak hanya untuk bahan bakar kendaraan. Industri biofuel kini menuntut minyak kedelai dan minyak rapa secara masif. Kebijakan dan target mandat biofuel di Uni Eropa dan Amerika Serikat memaksa pasar menjadi sangat ketat.
“Prospek penguatan permintaan biofuel global menyusul peningkatan target wajib biofuel (mandat biofuel). Di sisi lain, minyak kedelai dan minyak rapa semakin mendapat dorongan dari kebijakan biofuel di Uni Eropa dan Amerika Serikat,”
Dengan kombinasi pasokan yang menipis, ketegangan geopolitik, dan permintaan biofuel yang meningkat, harga minyak nabati global diproyeksikan tetap berada di level tinggi. Pasar menunggu perkembangan produksi sawit dan bunga matahari serta dinamika politik di Timur Tengah untuk menentukan arah harga berikutnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BSI Green Zakat: Sampah Jadi Tabungan Emas Berkelanjutan
IHSG Tutup 6.177, 0,08%; Hang Seng Turun 1,59% di Buka
PT Harus Unggah RUPS Tahunan ke SABH Apindo Minta Penyesuaian
BEI Luncurkan Reformasi Pasar Saham untuk Batasi Manipulasi
BEI Hadapi Kritik MSCI: Perbaiki Informasi Investor Asing
Investor Asing Minat, KEK Gresik, Kendal, Bintan Perluas
Berita Terbaru
KPH Lawu Tegaskan Tidak Ada Indikasi Erupsi Gunung Lawu
Harga Minyak Nabati Global Naik 21,5% Karena Pasokan Terbatas
TAMU Rilis 18 Menu Nusantara Baru dengan Sentuhan Inovasi
Real Madrid tandatangani Marc Cucurella, kontrak sampai 2032
MBG 2026 Bawa Pemutusan Kontrak dan Gaji Rendah pada Guru
BSI Green Zakat: Sampah Jadi Tabungan Emas Berkelanjutan