Harga Minyak Tembus US$105, Subsidi Energi Bengkak Rp376,8 Triliun
Gambar atau konten salah?
Harga minyak mentah di pasar global kembali meroket. Penyebab utamanya adalah ketegangan politik antarnegara. Dua patokan harga minyak dunia, yaitu Brent dan West Texas Intermediate (WTI), kini bertengger di level tertinggi.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara angkat bicara. Ia menjelaskan bagaimana lonjakan ini berdampak langsung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam sebuah acara di Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Jumat, 10 Oktober 2026, ia memaparkan data terbaru.
"Harga komoditas kalau kita lihat itu, Brent itu sebelah kiri atas US$ 102 per barel. Tapi hari-hari ini kita sudah melihat US$ 105 dan ini semua pasti akan ada implikasi ke APBN kita. Implikasi kepada pendapatan, implikasi kepada belanja dan seterusnya," ujar Suahasil.
Angka US$ 105 per barel itu bukan sekadar angka. Ini adalah level yang sempat ditembus harga minyak global beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini memicu efek berantai pada keuangan negara.
Salah satu dampak yang paling terasa adalah membengkaknya pengeluaran untuk subsidi energi. Pemerintah harus merogoh kocek lebih dalam. Hingga akhir September 2026, total pembayaran subsidi dan kompensasi energi sudah mencapai Rp 376,8 triliun.
Jumlah ini sangat besar. Realisasinya sudah setara dengan 84,3% dari pagu yang dialokasikan dalam APBN. Yang lebih mencengangkan, angka ini melonjak 54,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Tahun lalu baru dibayarkan Rp 244,6 triliun, tahun ini sudah kita bayarkan Rp 376,8 triliun," jelas Suahasil.
Sejak tahun 2026, pembayaran subsidi dan kompensasi dilakukan setiap bulan. Sebagian besar dana ini mengalir ke Pertamina dan PLN. Subsidi dan kompensasi yang dibayarkan per September 2026 tercatat lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
Kenaikan pembayaran ini seiring dengan meningkatnya konsumsi barang-barang bersubsidi. Volume konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) tercatat mencapai 13.408,6 ribu kiloliter (KL). Angka ini naik 9,1% secara tahunan. Sementara itu, konsumsi LPG juga naik menjadi 5.761 juta kg, atau tumbuh 2,2%.
Suahasil tidak hanya berbicara tentang minyak. Ia juga menyoroti pergerakan harga komoditas lain. Beberapa komoditas justru mengalami pelemahan harga dalam beberapa bulan terakhir.
Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) tercatat di angka US$ 1.090,7 per ton. Nikel berada di level US$ 15.634 per ton. Batu bara harganya turun menjadi US$ 149,3 per ton. Emas melemah ke level US$ 4.182 per troy ounce. Sementara tembaga berada di US$ 14.244 per ton.
Menurut Suahasil, penyebab utama dari semua gejolak harga ini adalah ketidakpastian global. Kondisi ini tidak hanya mempengaruhi harga komoditas, tetapi juga prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
"Ini tentu akan memiliki implikasi pada pertumbuhan ekonomi, termasuk pertumbuhan ekonomi negara maju maupun negara berkembang. Bukan hanya kepada pertumbuhan ekonomi efeknya tapi juga kepada harga-harga komoditas," terangnya.
Lebih lanjut, Suahasil menambahkan bahwa sejumlah lembaga internasional telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini. Proyeksi untuk tahun 2026 ini bahkan lebih rendah dari proyeksi tahun 2025.
"Lembaga-lembaga internasional menurunkan proyeksi pertumbuhan global lebih rendah. Pertumbuhan global 2026 ini diproyeksikan lebih rendah dari pada pertumbuhan tahun 2025," pungkasnya.
Kondisi ini menunjukkan betapa rapuhnya perekonomian global saat ini. Kenaikan harga minyak yang dipicu konflik geopolitik langsung membebani anggaran negara melalui subsidi energi. Di sisi lain, pelemahan harga komoditas andalan ekspor seperti CPO, batu bara, dan nikel bisa menekan pendapatan negara. Pemerintah harus pintar-pintar mengelola APBN di tengah tekanan yang datang dari berbagai arah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Rp180 Triliun
40 SPBU Bertema MotoGP Hadir di Seluruh Indonesia
PLTA Batang Toru Mulai Digenangi, Tambah Daya 510 MW
Trump Cabut Sanksi Solar Rusia, Harga Langsung Turun
Moratorium Smelter Nikel, Investor China Terancam
Bulog Bebaskan Kopdes Merah Putih Pasok Beras SPHP Tanpa Batas
Berita Terbaru
Harga Minyak Tembus US$105, Subsidi Energi Bengkak Rp376,8 Triliun
Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Rp180 Triliun
40 SPBU Bertema MotoGP Hadir di Seluruh Indonesia
PLTA Batang Toru Mulai Digenangi, Tambah Daya 510 MW
Trump Cabut Sanksi Solar Rusia, Harga Langsung Turun
Moratorium Smelter Nikel, Investor China Terancam
MKNT Jajaki Energi Terbarukan, Semua Masih Kajian Awal
9 Perusahaan Antre IPO di BEI, Kesehatan Dominasi
