Harga Obat Semarang Naik, BPJS Terancam Keterjangkauan
Gambar atau konten salah?
Semarang, kota di Jawa Tengah, mengalami lonjakan harga obat dan perlengkapan kesehatan. Banyak warga merasakan kenaikan ini, yang diperkirakan dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar mata uang.
Hani, seorang perawat berusia 40 tahun yang tinggal di Tembalang, sering membeli cairan infus dan perlengkapan home care untuk pasien di rumah. “Ya ngerasa banget semua sekarang naik, obat-obatan juga harganya naik,” kata Hani saat dihubungi, Jumat, 12 Juni 2026.
Menurutnya, kenaikan belum terlalu besar, namun beberapa barang rutin sudah mengalami penyesuaian harga. “Harga cairan infus jenis RL (Ringer Laktat) sama NaCl ukuran 500 cc itu naik. Sebelumnya harganya Rp 9 ribu sekarang jadi Rp 11 ribu per botol. Tapi beda-beda tiap apotek,” ujarnya.
Obat penurun demam juga kenaikan harganya. “Sanmol dari Rp 3.500 jadi Rp 4.500. Tapi ya kita tetap beli, kan biasanya kita sudah tersugesti sama obat itu. Kalau ganti yang lain nanti takutnya merasa nggak sembuh-sembuh,” ungkapnya.
Hani, yang juga bekerja di rumah sakit, menilai kenaikan ini dapat memberatkan masyarakat yang belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Selain biaya pemeriksaan, mereka harus menanggung obat secara pribadi. “Yang nggak punya BPJS jadi mikir kalau mau berobat, karena biaya berobat naik dan harga obat-obatan juga naik,” katanya.
Ia menambahkan, “Kenapa harga obat ikut naik terus? Kasihan orang-orang kecil yang BPJS-nya mati jadi terdampak, sehingga banyak yang datang berobatnya terlambat, kondisi sudah parah baru berobat.”
Indah, 27 tahun, yang bekerja di apotek, juga merasakan kenaikan ini. Ia menyebut, “Untuk beberapa PBF (pabrik besar farmasi) kebanyakan sih belum naik secara signifikan. Biasanya obat-obat paten yang naiknya lumayan banyak,” ucapnya.
Indah menjelaskan, “Obat paten itu kayak obat yang diproduksi sama perusahaan atau pabrik farmasi yang udah ngelewatin uji klinis yang panjang bertahun-tahun, terus jadi hak patennya perusahaan.” Ia menambahkan, “Harganya ada yang naik dari Rp 2-5 ribu paling kecil, kalau yang paling besar sekitar Rp 10-20 ribuan.”
Ketua IDI Kota Semarang, Prihatin Iman Nugroho, menegaskan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi pemicu kenaikan harga obat. “Memang dengan adanya kenaikan kurs rupiah terhadap dolar, potensi untuk kemungkinan terjadi peningkatan harga obat memang ada,” kata Nugroho saat dihubungi.
Ia menambahkan, “Karena bagaimanapun obat yang saat ini banyak digunakan di Indonesia itu banyak komponen yang masih dari impor. Sehingga memang sangat berpotensi ada kenaikan harga obat.”
Meski begitu, sampai saat ini belum ada laporan bahwa kenaikan harga obat mengganggu pelayanan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan di Semarang. “Sebelum itu tapi memang sudah ada beberapa obat yang kosong produksinya. Jadi apakah ini terkait langsung dengan kenaikan dolar, ini masih debatable, kita belum dapat info kenapa obat itu kosong,” jelasnya.
Nugroho tetap mengingatkan pentingnya menjaga ketersediaan dan keterjangkauan obat bagi masyarakat, terutama pasien penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan berkelanjutan. “Pasien kronis misalnya pada kasus hipertensi, kemudian kanker, ginjal, itu mereka harus mendapat obat-obatan yang digunakan untuk meminimalkan agar masalah kesehatan bisa dikontrol,” jelasnya.
Perubahan harga obat di Semarang menyoroti dampak fluktuasi mata uang terhadap kesehatan masyarakat. Kenaikan ini menambah beban bagi warga tanpa BPJS dan menimbulkan kekhawatiran tentang akses obat bagi pasien kronis. Keterlibatan IDI dan pengawasan PBF menjadi kunci untuk memastikan ketersediaan obat tetap terjaga di tengah kondisi ekonomi yang berubah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Dishub Banyumas Uji Coba Penutupan Jembatan Serayu 15‑30 Juni
15 Twibbon Gratis 1 Muharam 2026, Pilih Desainmu Sekarang
Wali Kota Solo Tuntun Kirab 1 Suro, Pastikan Kelancaran
Perbaikan Jembatan Serayu Banyumas Mulai Pekan Depan
Video Relawan SPPG Memakan Lampu Neon, Tidak Pamer
Unduh Gratis 50 Poster Tahun Baru Islam 1448 H Sekarang
Berita Terbaru
Ruxi Bonet Beralih Dari Lapangan ke Televisi Piala Dunia 2026
Fatty Liver Meningkat di Indonesia Terkait Obesitas
Cuaca Panas AS: Van Dijk Siap Hadapi Piala Dunia 2026
Meksiko Awali Piala Dunia 2026 2-0 Afrika Selatan di Azteca
McTominay tetap ikut Timnas Skotlandia meski sakit perut
PP Tunas: Komdigi Lindungi Anak dari Risiko Siber di Dunia
Kemdikbud Kaji Kasus Riset Palsu Rifaldy Fajar dan Rekan
Pasar Murah Palembang Bantu Atasi Inflasi, Perayaan HUT 1343