Harga Tiket Naik 74% Karena Kekurangan Avtur Global Indonesia
Gambar atau konten salah?
Maskapai penerbangan di Eropa dan Asia menghadapi risiko kekurangan bahan bakar (avtur) karena konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Banyak maskapai yang mengimpor bahan bakar, sehingga mereka mengalami pembatalan penerbangan dan penyesuaian jadwal.
Kekurangan pasokan global memicu kenaikan harga bahan bakar, kata Matt Smith, Kepala Analis AS di perusahaan konsultan energi Kpler. Smith menegaskan bahwa kenaikan ini akan memengaruhi harga tiket pesawat bagi penumpang hingga beberapa bulan ke depan. “Ini akan memakan waktu setidaknya hingga Juli dan bahkan itu mungkin terlalu optimis saat ini,” katanya, dikutip dari CNN, Selasa, 21 April 2026.
Walaupun ada kemungkinan Selat Hormuz dibuka kembali, situasi perjalanan sudah terpengaruh. United Airlines misalnya, telah memotong jadwal sekitar 5% selama enam bulan ke depan. Penurunan jadwal ini mencerminkan upaya maskapai untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar yang sulit didapat.
Biaya bahan bakar adalah biaya terbesar kedua bagi maskapai setelah tenaga kerja. Sebagai contoh, sebuah jet komersial biasanya memerlukan sekitar 800 galon bahan bakar per jam, sementara pesawat berbadan lebar memerlukan lebih banyak lagi. Hal ini menambah tekanan pada anggaran maskapai.
Empat maskapai terbesar di Amerika Serikat—United, American, Delta, dan Southwest—menghabiskan rata-rata sekitar US$ 100 juta per hari untuk bahan bakar pada tahun lalu. Jumlah ini meningkat drastis sejak dimulainya konflik. Delta baru saja mengumumkan bahwa mereka dapat mengeluarkan tambahan US$ 2 miliar untuk bahan bakar tahun ini, meskipun mereka memiliki kilang sendiri. United, di sisi lain, memperkirakan tambahan US$ 11 miliar jika situasi tetap seperti sekarang.
Perubahan harga terlihat jelas di tiket pesawat. Data dari Deutsche Bank menunjukkan bahwa tiket ke destinasi populer seperti penerbangan AS ke Karibia naik 74% dibandingkan awal bulan ini, sementara tiket ke Hawaii dari daratan AS naik 21%. Kenaikan ini memberi gambaran nyata tentang dampak ekonomi bagi penumpang.
Menurut data Kpler, beberapa pengekspor bahan bakar jet seperti Kuwait dan Bahrain menahan produk mereka karena penutupan Selat Hormuz. Lebih dari 20% pasokan bahan bakar jet yang melewati laut global pada tahun lalu melalui Selat Hormuz, dengan lebih dari dua pertiganya menuju Eropa.
Willie Walsh, Direktur Asosiasi Transportasi Udara Internasional, menegaskan bahwa negara-negara Asia mulai membatasi ekspor bahan bakar jet. Hal ini dapat menambah tekanan pada harga bahan bakar jet di Amerika Serikat. “Bahkan jika Selat Hormuz segera dibuka kembali secara permanen, butuh waktu berminggu-minggu bagi minyak dan bahan bakar jet yang terperangkap untuk sampai ke pelanggan di Eropa dan Asia. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk memulai kembali produksi minyak dan bahan bakar jet yang terhenti akibat perang,” tambah Walsh.
Secara keseluruhan, konflik ini menimbulkan ketidakpastian bagi industri penerbangan global. Maskapai harus menyesuaikan operasi mereka, sementara penumpang mungkin menanggung biaya tambahan. Dampak jangka panjang masih belum jelas, namun tekanan pada pasokan bahan bakar dan harga tiket pesawat akan terus memengaruhi perjalanan udara di dunia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
