Hashim: Ekonomi Riil RI Rp 10.000 T Tak Tercatat
Gambar atau konten salah?
Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, menyampaikan pandangan bahwa ekonomi Indonesia sebenarnya jauh lebih besar dari angka Produk Domestik Bruto (PDB) resmi yang tercatat sekitar Rp 25.000 triliun. Menurutnya, ada data yang menunjukkan porsi ekonomi Indonesia yang lebih besar.
Hashim merujuk pada data Bank Dunia yang menunjukkan sekitar 35-40% kegiatan ekonomi di Indonesia tidak tercatat. Jika dijumlahkan, nilainya mencapai Rp 10.000 triliun. Angka ini, menurut Hashim, merupakan kabar baik bagi perekonomian Indonesia.
"Menurut Bank Dunia, kurang lebih 35% sampai 40% kegiatan ekonomi di Indonesia tidak tercatat. Itu zaman dulu namanya black market. Sekarang, zaman modern, tidak boleh kita bicara black market. Maka sekarang istilahnya grey market, dan ternyata ekonomi kita 30% sampai 40% tidak tercatat. Itu berarti ada kurang lebih Rp 10.000 triliun yang tidak tercatat," ujar Hashim saat membuka Rapimnas Kadin Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Dengan angka tersebut, Hashim menilai Indonesia seharusnya bisa menempati posisi 12 atau bahkan 11 sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Ia kemudian memberikan contoh sederhana mengapa transaksi bernilai jumbo tersebut tidak tercatat.
Aktivitas ekonomi harian masyarakat, baik dari kalangan menengah maupun atas, banyak yang berjalan secara tunai tanpa kwitansi maupun pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Hashim memberikan contoh pribadi: "Saya biasanya tukang rambut datang ke tempat saya sekali sebulan, dia charge fee upah dan upah itu saya bayar tanpa kwitansi, dan tanpa kwitansi, PPN 11% tidak dipungut, dan ternyata istri saya ada tukang pijat namanya Yanti, juga datang sekali dua minggu, kalau saya sekali sebulan, dan Yanti itu juga tidak berikan kwitansi dan tidak dipungut 11%."
Dari jutaan transaksi serupa, Hashim menyebut dapat terkumpul nilai fantastis hingga Rp 10.000 triliun. "Ternyata ada jutaan transaksi seperti dilakukan oleh Anton dan Yanti, kali ratusan juta dan sebagian-sebagian jumlahnya, termasuk mungkin warung tegal, beauty salon, atau yang mana, semua transaksi itu berupa tunai, kurang lebih menurut Bank Dunia, Rp 10.000 triliun. Itu the good news," terangnya.
Pernyataan Hashim ini menyoroti fenomena ekonomi grey market yang selama ini tidak tercatat dalam statistik resmi. Transaksi-transaksi kecil yang dilakukan secara tunai, seperti jasa potong rambut atau pijat, jika diakumulasi secara nasional, menghasilkan angka yang sangat besar. Ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi riil di Indonesia mungkin jauh lebih dinamis dari yang tercermin dalam data PDB resmi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Hashim Wanti 32,7 Juta Investor Kecewa Akibat Ancaman MSCI
IHSG Kembali Terpuruk ke Level 5.000
Pandu Saham Minoritas Supra Sekuritas Kena Sanksi OJK
OJK Rilis Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan 2026-2030
Investor Asing Keluhkan Rencana MSCI Downgrade Pasar Modal RI
BI Tanggapi Ancaman MSCI, Rupiah Bisa Tertekan
