Hasto Kusumo: Cara Pandang Bisnis Digital

Bima J. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Hasto Kusumo: Cara Pandang Bisnis Digital

Gambar atau konten salah?

Jakarta - Perubahan besar terjadi dalam dunia bisnis digital. Perusahaan kini butuh sistem pembayaran yang bisa mengikuti pertumbuhan mereka—bukan sekadar alat untuk menerima uang.

Masalahnya, banyak pihak masih menyamaratakan kebutuhan pembayaran berdasarkan ukuran bisnis. Itu kata Hasto Kusumo, Head of SME Business DOKU. Bisnis mikro dan perusahaan besar punya tingkat kerumitan yang berbeda.

"Yang sering orang lupakan adalah menganggap kebutuhan pembayaran itu sama di semua tingkat, sebagai penyelenggara jasa keuangan yang highly-regulated sering kali menyamaratakan solusi yang ditawarkan yang berakibat pada penerapan level regulasi yang sama. Yang pada kenyataannya kebutuhan di level mikro adalah kemudahan menerima pembayaran, mereka tidak mau proses yang merepotkan, di level lebih tinggi kebutuhan solusi pasti lebih kompleks, jadi regulasi yang diterapkan juga harus lebih rigid," ujar Hasto.

Bisnis kecil cuma butuh yang simpel. Tidak perlu ribet. Tapi begitu skala membesar, urusannya jadi lain. Pengelolaan transaksi, settlement, rekonsiliasi—semua harus rapi.

Pengalaman Lintas Industri Jadi Bekal

Hasto sebelumnya berkarier di beberapa industri digital. Telekomunikasi, e-commerce, digital identity. Semua itu membentuk cara pandangnya terhadap sistem pembayaran.

Dari telekomunikasi ia belajar satu hal: skala dan reliabilitas tidak bisa ditawar. Dari e-commerce ia melihat bagaimana ketergantungan pada satu kanal bisa berbahaya. Di digital identity, kepercayaan bukan gimmick marketing—tapi hasil dari sistem yang dirancang baik.

"Kami melayani berbagai macam industri dari yang mikro sampai dengan local brand dengan ratusan cabang, yang kami lakukan adalah memberikan apa yang mereka butuhkan dari yang hanya sekedar menerima pembayaran QRIS, sampai dengan proses settlement secara otomatis untuk ratusan cabang mereka, jadi use-casenya sangat luas di SME ini dari yang paling sederhana sampai yang sampai serumit enterprise," tuturnya.

Satu pengalaman yang berkesan: DOKU membantu jaringan bengkel dengan ratusan cabang. Fitur split settlement yang mereka pakai tidak cuma untuk menerima transaksi. Aliran keuangan antar cabang dan kantor pusat jadi lebih sederhana.

"Merchant yang kami berkembang bersama adalah salah-satu jaringan bengkel yang terdiri dari ratusan cabang. Dengan fitur split settlement kami, kami berhasil membantu mereka untuk mensimplifikasi laporan alau keuangan antar cabang dan juga di kantor pusat. Seringkali dampak yang diberikan oleh DOKU tidak langsung di sistem pembayarannya, tetapi mungkin lebih dari itu," kata Hasto.

Keamanan dan Kemudahan Harus Berjalan Bersama

Volume transaksi naik. Risiko fraud ikut naik. Tapi itu bukan alasan untuk bikin pelanggan capek verifikasi di setiap langkah.

"Keamanan dan kenyamanan itu sering dianggap trade-off, padahal pendekatan yang tepat bukan 'makin ketat makin aman.' Kami memakai layered, risk-based approach - bukan satu checkpoint seragam untuk semua transaksi. Transaksi dengan pola normal nyaris tanpa friksi tambahan; begitu ada anomali, lonjakan nominal, perangkat baru, lokasi tidak biasa, barulah lapisan verfikasi dan otentikasi dapat masuk secara adaptif. Proses pengamanan dilakukan tidak hanya pada saat transaksi terjadi, tetapi jauh sebelum itu, verifikasi merchant itu sendiri, serta post-monitoring juga dilakukan di sisi kami," jelas Hasto.

AI juga mulai dimanfaatkan. Bukan sebagai gimmick. Tapi untuk dua hal: proteksi dan efisiensi. DOKU mengembangkan teknologi AI-ready agar merchant yang pakai AI bisa langsung integrasi.

"Mengingat saat ini audiens dan pelaku bisnis sudah sangat familiar dengan kapabilitas AI, kami memfokuskan implementasinya bukan lagi sebagai gimmick fitur dasar, tapi langsung pada dua layer operasional esensial: proteksi dan efisiensi. Kami mengembangkan teknologi yang AI-ready sehingga merchant yang operasionalnya menggunakan AI, sudah bisa menggunakan layanan kami bahkan untuk integrasinya," kata Hasto.

Ekspansi ke Luar Negeri, Siapkan Infrastruktur dari Awal

Local brand mulai melebarkan pasar ke luar negeri. Banyak yang baru mikirin infrastruktur pembayaran setelah volume transaksi besar. Itu keliru, kata Hasto.

"Untuk bisnis yang mulai berekspansi ke pasar internasional, infrastruktur pembayaran perlu dipersiapkan sejak awal, bukan setelah volume transaksinya besar. Yang penting bukan hanya bisa menerima pembayaran dari luar negeri, tetapi juga mendukung berbagai metode pembayaran lokal, mata uang, settlement, rekonsiliasi, dan manajemen risiko di masing-masing pasar," ujarnya.

Ekspansi juga bukan cuma soal naiknya penjualan. Fondasi operasional dan keuangan harus siap. Cash flow harus kuat.

"Pelaku bisnis juga perlu melihat ekspansi bukan sekadar memperluas penjualan, tetapi membangun fondasi yang bisa scalable. Mulai dari pasar yang paling relevan, pahami perilaku konsumennya, dan pastikan operasional serta cash flow siap mengikuti pertumbuhan," kata Hasto.

Pertumbuhan yang sehat, lanjutnya, adalah ketika penjualan meningkat tapi margin, cash flow, operasional, dan pengalaman pelanggan tetap terjaga.

"Jadi jangan hanya mengejar growth, bangun sistem yang mampu menopang growth tersebut. Pertumbuhan yang sehat adalah ketika penjualan meningkat, tetapi margin, cash flow, operasional, dan pengalaman pelanggan tetap terjaga," lanjutnya.

Membangun Ekosistem Digital yang Lebih Matang

Adopsi QRIS di Indonesia tinggi. Tapi itu baru satu indikator. Ekosistem yang benar-benar matang belum tercapai.

"Secara metrik volume dan adopsi QRIS, kita memang terlihat sangat tinggi. Tapi secara infrastruktur ekosistem, kita masih di tahap awal. Cashless society yang matang bukan sekadar soal orang membayar tanpa uang fisik. Ini tentang seberapa dalam infrastruktur digital tersebut terintegrasi ke workflow bisnis," jelas Hasto.

Tantangan selanjutnya: bagaimana bisnis menengah dan local brand bisa mandiri secara digital. Punya kanal penjualan sendiri. Mengelola cash flow. Mengantisipasi fraud.

"Tantangannya sekarang adalah bagaimana local brand bisa membangun kanal penjualan mandiri (owned channel), mengelola cash flow, dan memitigasi fraud secara independen. Di sinilah segmen bisnis menengah akan menjadi motor penentunya. Jika mereka bisa mandiri secara digital, barulah kita bisa bicara soal ekosistem yang benar-benar mature," pungkas Hasto.

Indonesia masih dalam perjalanan menuju ekosistem digital yang matang. Adopsi tinggi belum berarti infrastruktur siap. Bisnis menengah dan local brand jadi kunci—jika mereka bisa mandiri secara digital, ekosistem yang benar-benar matang baru bisa terwujud. Pertumbuhan bukan segalanya; sistem yang menopang pertumbuhan itu yang lebih penting.

sistem pembayaran digitalkebutuhan bisnisregulasikeamanan transaksiQRISekosistem digitalpertumbuhan bisnis

Komentar

Memuat komentar...