IEA Peringatkan Krisis Avtur Eropa, Selat Hormuz Tutup
Gambar atau konten salah?
Fatih Birol, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), mengingatkan bahwa Eropa dapat mengalami krisis bahan bakar penerbangan (avtur) dalam enam minggu ke depan. Ia menegaskan bahwa krisis ini muncul akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memengaruhi Selat Hormuz sejak akhir Februari.
Menurut Fatih, penutupan Selat Hormuz menandai krisis energi terbesar yang pernah dialami dunia. Ia menilai perang ini akan berdampak besar pada perekonomian dan inflasi global. “Dahulu ada sebuah kelompok bernama ‘Dire Straits’ (situasi genting). Sekarang situasinya memang genting, dan ini akan berdampak besar pada perekonomian global. Semakin lama berlanjut, semakin buruk dampaknya bagi pertumbuhan ekonomi dan inflasi di seluruh dunia,” ujarnya, dikutip dari CNBC pada 16 April 2026.
Ia menambahkan bahwa harga bensin, gas, dan listrik akan naik, dan beberapa wilayah dunia akan merasakan dampak lebih buruk daripada yang lain. “Harga bensin yang lebih tinggi, harga gas yang lebih tinggi, harga listrik yang tinggi, dengan beberapa bagian dunia terkena dampak lebih buruk daripada yang lain,” lanjut Fatih.
Fatih sebelumnya sudah memperingatkan bahwa krisis energi akan semakin parah pada bulan April seiring penurunan suplai minyak. Ia menyebutkan bahwa pada bulan tersebut, dunia kehilangan minyak dua kali lipat dibandingkan bulan Maret. “Kehilangan minyak pada bulan April akan dua kali lipat dari kehilangan minyak pada bulan Maret. Di atas itu semua ada LNG dan lainnya. Ini akan berdampak pada inflasi, saya pikir ini akan memangkas pertumbuhan ekonomi di banyak negara, terutama negara-negara berkembang. Di banyak negara, penjatahan energi mungkin akan segera terjadi,” jelas Fatih.
Para analis juga menyoroti dampak pada industri penerbangan. Kepala ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, mengatakan maskapai penerbangan sangat bergantung pada berapa banyak barel yang akan mengalir melalui Selat Hormuz. Ia menilai bahwa gangguan pada maskapai akan merusak perekonomian dunia. Di Eropa, perjalanan udara menghasilkan US$ 1 triliun terhadap PDB dan mendukung 14 juta lapangan kerja.
Salah satu maskapai penerbangan asal Eropa, EasyJet, mengeluhkan bahwa konflik di Timur Tengah meningkatkan biaya bahan bakar, yang berdampak pada pemesanan pelanggan.
Secara keseluruhan, peringatan Fatih menyoroti betapa rapuhnya rantai pasokan energi global, terutama bagi sektor penerbangan. Krisis ini tidak hanya memengaruhi harga energi, tetapi juga dapat memicu penjatahan energi dan menurunkan pertumbuhan ekonomi di banyak negara, termasuk negara berkembang. Dampak ini menandai pentingnya kebijakan energi yang stabil dan diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada jalur pasokan yang rentan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SKK Migas Catat 1,500 BOPD Saat Ini, Target 20,000 BOPD
Produksi Minyak Nasional 576k BOPD, Masih Di Bawah Target
BBM Subsidi Tetap Stabil, Harga Tidak Naik Meski Minyak Naik
Kimia Farma Menunggu Arahan Bio Farma, Danantara Siap Pisahkan
KAI Siap Luncurkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer
Perpanjang ke Bekasi, Tangerang: 48 Stasiun, 600k Penumpang
Berita Terbaru
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
Raymond-Indra dan Nikolaus-Joaquin Kalah, Fokus Tampil
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
