IHSG Anjlok 10,76%, Rupiah Tembus 18.000 Usai MSCI Umumkan Downgrade

Kartika D. · 2 min baca · 48 menit lalu · 23 dibaca
Bisik.id
IHSG Anjlok 10,76%, Rupiah Tembus 18.000 Usai MSCI Umumkan Downgrade

Gambar atau konten salah?

Jakarta — Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan berat pada hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam hingga 10,76 persen pada sesi pertama, menyentuh level 5.233. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah kembali menembus angka 18.000 per dolar Amerika Serikat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut tekanan ini berkaitan dengan pengumuman dari MSCI. Lembaga penyedia indeks saham global itu melaporkan bahwa status pasar modal Indonesia berpotensi diturunkan dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Yang menarik, jadwal pengumuman ini lebih cepat dari perkiraan pemerintah. Awalnya MSCI berjanji akan mengumumkan laporan tersebut pada November, bukan bulan ini. "Tentu ada akibat daripada pengumuman MSCI. Tapi pengumuman MSCI itu merupakan suatu hal yang katakanlah lebih cepat daripada ekspektasi. Kan sebetulnya mereka menjanjikannya di bulan November, tapi ini di Oktober," kata Airlangga saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (16 Oktober 2026).

Meski demikian, MSCI telah menetapkan jadwal baru untuk penyampaian laporan lanjutan terkait status pasar modal Indonesia. Target tersebut jatuh pada Maret, April, hingga Juni 2027. Selama periode itu, MSCI meminta otoritas terkait segera menerapkan langkah-langkah perbaikan yang telah dijanjikan sebelumnya.

"Namun mereka memberikan targetan baru lagi untuk tahun depan, di bulan Maret, di bulan April, dan di bulan Juni. Tentu yang mereka minta itu adalah implementasi dari apa yang sudah dijanjikan," ujarnya.

Airlangga menjelaskan bahwa proses penyesuaian langkah-langkah perbaikan menjadi regulasi di Indonesia memerlukan tahapan administratif sebelum akhirnya disahkan menjadi payung hukum. Ia mengakui bahwa periode implementasi yang berjalan saat ini dinilai terlalu panjang oleh MSCI.

"Tentu kalau kita lihat terkait dengan bidang implementasi daripada regulasi terhadap tindakan yang dilakukan oleh pasar modal, ini kan mereka merasa periodenya agak panjang. Nah, tentu ini yang harus dijelaskan mengapa prosesnya membutuhkan waktu," ucap Airlangga.

Ia menegaskan bahwa catatan dari MSCI ini akan menjadi bahan perbaikan penting yang harus terus digulirkan oleh pemerintah dan otoritas terkait. "Namun ini menjadi catatan bagi kita ke depan bahwa reform itu harus dijalankan dan progresnya itu harus kelihatan, terutama progresnya harus kelihatan bagi para investor, dalam negeri maupun luar negeri," tegasnya.

Kondisi ini menjadi ujian bagi pemerintah untuk meyakinkan investor bahwa arah perbaikan pasar modal tetap berjalan. Kejelasan regulasi dan percepatan implementasi menjadi kunci utama. Jika progres perbaikan tidak terlihat jelas, kepercayaan investor — baik domestik maupun asing — bisa semakin sulit dipulihkan. Padahal, kepercayaan tersebut menjadi fondasi utama untuk menjaga stabilitas pasar keuangan Indonesia ke depan.

IHSG merosotrupiah melemahMSCIEmerging MarketStandalone MarketAirlangga Hartartopasar modal Indonesiareformasi regulasi

Komentar

Memuat komentar...