IHSG Anjlok 2,2% Dipicu Inflasi AS dan Konflik Timur Tengah

Dedi S. · 3 min baca · 12 jam lalu · 50 dibaca
Bisik.id
IHSG Anjlok 2,2% Dipicu Inflasi AS dan Konflik Timur Tengah

Gambar atau konten salah?

Jakarta — Bursa saham Indonesia dibuka dengan tekanan berat pada Kamis, 15 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 2,20% ke posisi 5.812,45 sekitar pukul 11.00 WIB, berdasarkan data RTI Business.

Penurunan ini tidak berdiri sendiri. Hampir seluruh bursa Asia Pasifik ikut tertekan. Indeks Straits Times Singapura melemah 0,90% ke 5.374,75. Shanghai Composite Index turun 1,98% ke 3.692,64. Hang Seng Index melemah 1,47% ke 23.955,58. Yang paling dalam koreksinya adalah Nikkei 225 Jepang, yang anjlok 4,71% ke level 64.555.

Pemicu utamanya datang dari Amerika Serikat. Data inflasi AS untuk September 2026 dirilis di atas perkiraan pasar. Angka inflasi tercatat 3,7% secara tahunan (year on year/YoY), masih jauh dari target bank sentral AS.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan koreksi IHSG sejalan dengan pergerakan bursa global pasca-rilis data tersebut. Ia menjelaskan bahwa angka inflasi yang masih tinggi membuat bank sentral AS, The Fed, cenderung hawkish — artinya mempertahankan arah kebijakan moneter yang ketat.

Pelaku pasar kini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) satu kali lagi sebelum akhir tahun. Kenaikan ini, menurut Herditya, akan mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury/UST) naik. Saat ini yield UST sudah berada di atas 5%.

Dampaknya akan terasa di negara berkembang seperti Indonesia. "Akan ada kenaikan FFR 1 kali sebelum akhir 2026. Kami memperkirakan, dengan adanya nada hawkish ini, akan meningkatkan yield UST yang saat ini masih berada di atas 5% serta akan meningkatkan outflow dari EM," ujarnya.

Arus modal asing keluar (outflow) dari pasar emerging market menjadi kekhawatiran utama. Ketika imbal hasil di AS menarik, investor cenderung menarik dananya dari pasar negara berkembang dan memindahkannya ke aset yang lebih aman.

Riset BRI Danareksa Sekuritas menyebut beberapa sentimen lain yang ikut menekan IHSG. Salah satunya, indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS September yang melampaui konsensus. Inflasi inti mencapai 2,6%. Kondisi ini memperkuat posisi dolar AS dan berpotensi menekan nilai tukar rupiah. Risiko arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang pun meningkat.

Faktor lain yang memberatkan adalah eskalasi konflik Timur Tengah. Ancaman dari kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi. Harga minyak menjadi lebih fluktuatif, dan ketidakpastian pasar global kian besar.

Namun ada satu catatan positif dari China. Surplus dagang China pada September mencapai US$ 133,53 miliar. Ekspor tumbuh 36,3% dan impor naik 31% YoY. Angka ini sebenarnya baik untuk permintaan komoditas Indonesia. Hanya saja, sentimen positif itu belum cukup kuat untuk menahan tekanan global yang sedang berlangsung.

Kondisi pasar hari ini menggambarkan bagaimana keputusan bank sentral negara maju masih menjadi penentu utama arah pergerakan modal di negara berkembang. Ketika imbal hasil di AS menarik, dana asing cenderung keluar dari pasar seperti Indonesia. Belum lagi ketegangan geopolitik yang masih membayangi, termasuk ancaman kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi yang berpotensi mengganggu pasokan energi dan membuat harga minyak bergejolak.

Di tengah tekanan itu, ada satu catatan positif dari China. Surplus dagang September mencapai US$ 133,53 miliar, dengan ekspor tumbuh 36,3% dan impor naik 31% YoY. BRI Danareksa Sekuritas menilai ini menjadi angin segar bagi permintaan komoditas Indonesia, meski dampaknya terhadap IHSG tertahan oleh sentimen negatif global yang mendominasi perdagangan hari ini.

Pelemahan rupiah dan potensi arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang menjadi risiko yang paling diwaspadai. Penguatan dolar AS akibat kebijakan The Fed yang ketat biasanya mendorong investor menarik dananya dari pasar seperti Indonesia dan memindahkannya ke aset yang lebih aman.

Konflik Timur Tengah ikut menambah ketidakpastian. Ancaman Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi meningkatkan risiko gangguan pasokan energi. Harga minyak yang volatil membuat pelaku pasar semakin berhati-hati.

Di tengah tekanan itu, ada satu kabar positif dari China. Surplus dagang September mencapai US$ 133,53 miliar, dengan ekspor tumbuh 36,3% dan impor naik 31% YoY. Data ini sebenarnya baik untuk permintaan komoditas Indonesia, tetapi belum cukup kuat untuk menahan IHSG dari tekanan global yang dominan.

Kondisi pasar hari ini menggambarkan bagaimana keputusan bank sentral negara maju masih menjadi penentu utama arah pergerakan modal di kawasan. Data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan langsung mengubah ekspektasi pelaku pasar terhadap suku bunga global, dan pasar negara berkembang yang lebih sensitif terhadap arus modal asing menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

IHSGinflasi ASThe Fedoutflowrupiahkonflik Timur Tengahharga minyaksurplus dagang China

Komentar

Memuat komentar...