IHSG Melemah, Aksi Jual Asing Tembus Rp1,39 Triliun

Yuli S. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
IHSG Melemah, Aksi Jual Asing Tembus Rp1,39 Triliun

Gambar atau konten salah?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 13 Agustus 2025. Indeks turun 1,13% ke posisi 6.301,77. Meski demikian, sejumlah saham mencatat penguatan. BBCA naik 0,39%, MPRO melonjak 4,35%, dan BBNI bertambah 0,84%.

Tekanan jual cukup terasa. Saham AMMN turun 3,43%, BRPT terkoreksi 4,36%, dan BREN melemah 2,40%. Investor asing mencatatkan penjualan bersih atau net sell senilai Rp1,39 triliun di pasar reguler. Jika dihitung di seluruh pasar, angka itu mencapai Rp1,41 triliun.

Hampir seluruh sektor saham berakhir di zona merah. Sebanyak 11 sektor melemah. Sektor Basic Materials menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 2,93%.

Pergerakan bursa domestik ini terjadi di tengah penguatan pasar saham Amerika Serikat. Dow Jones naik 0,13% ke 53.839. S&P 500 menguat 0,65% ke 7.798. Nasdaq bertambah 0,81% ke 26.803.

Pelaku pasar masih mencermati dampak aksi jual asing. Sepuluh emiten Indonesia baru saja dikeluarkan dari indeks MSCI. Satu emiten dari kategori Global Standard dan sembilan lainnya dari Small Cap. Kondisi ini turut tercermin dari penurunan ETF EIDO sebesar 1,65% dan MSCI Indonesia sebesar 0,33%.

Di tengah pergerakan IHSG, sejumlah kabar emiten juga menjadi perhatian. Mulai dari rencana perubahan pengendali EKAD hingga pengembangan bisnis ELSA dan proyek HPAL INCO.

PT Ekadharma International Tbk (EKAD)

EKAD berpotensi mengalami perubahan pengendali. Pemegang saham mayoritas EKAD, PT Ekadharma Inti Perkasa (EIP), telah menandatangani Letter of Intent for Equity Acquisition dengan Fujian Youyi Adhesive Tape Group Co., Ltd. Perusahaan asal China itu bergerak di industri pita perekat.

Fujian Youyi menargetkan pembelian 51% saham EKAD. Jumlahnya sekitar 1,78 miliar saham. Seluruh saham yang menjadi objek transaksi berasal dari kepemilikan EIP. Saat ini EIP memegang 82,26% saham EKAD.

Meski LoI telah ditandatangani, EKAD menyatakan kesepakatan tersebut belum memberikan pengaruh terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan. Nilai transaksi dan waktu penyelesaian akuisisi belum disampaikan.

PT Elnusa Tbk (ELSA)

ELSA terus mengembangkan layanan Geoscience & Reservoir Services (GRS). Salah satunya melalui pemanfaatan berbagai teknologi untuk kegiatan akuisisi data. Teknologi yang dikembangkan mencakup seismic, wireless/nodal, Vibroseis, Ocean Bottom Nodes (OBN), hingga non-seismic survey.

Untuk menunjang kegiatan tersebut, ELSA memiliki lebih dari 100 set peralatan surveying, navigation, dan positioning. Perseroan juga memiliki 250 set seismic drilling, lebih dari 25.000 channel recording & cable system, sembilan unit Vibroseis, satu Indonesian Seismic Vessel, 2.000 OBN, 8.000 Onshore SmartSolo Nodes, serta 25.000 Onshore Stryde Nodes.

Dari sisi operasional, ELSA juga memiliki fasilitas supply chain terintegrasi dengan luas sekitar 4.505 meter persegi. Fasilitas tersebut digunakan dalam pengelolaan material dan peralatan, mulai dari penerimaan hingga mobilisasi ke lokasi operasi. Sementara itu, saham ELSA saat ini masih berada dalam rentang perdagangan Rp665 hingga Rp715.

PT Vale Indonesia Tbk (INCO)

INCO melanjutkan pengembangan tiga proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) yang masuk dalam Indonesia Growth Project (IGP). Proyek Pomalaa menjadi yang paling maju. Hingga Juli 2026, progresnya telah mendekati 100% dan mencapai tahap mechanical completion.

Fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas produksi 120.000 ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun dengan nilai investasi US$3,40 miliar. Penyelesaian proyek ditargetkan pada Desember 2026.

Proyek Bahodopi memiliki nilai investasi US$1,40 miliar dan kapasitas produksi 66.000 ton MHP per tahun. Proyek ini ditargetkan mencapai mechanical completion pada Maret 2027. Sementara itu, proyek Sorowako memiliki nilai investasi sekitar US$1,40 miliar dengan kapasitas sekitar 60.000 ton MHP. Pengembangannya dijadwalkan pada 2027-2028.

Pengembangan HPAL membuka ruang bagi INCO untuk mengolah cadangan limonit sekaligus memperluas produk yang masuk ke rantai pasok bahan baku baterai. Namun, kontribusi terhadap kinerja keuangan diperkirakan lebih terasa setelah fasilitas memasuki tahap ramp-up dan mencapai tingkat utilisasi komersial.

Rekomendasi Saham Hari Ini

  • EXCL - Buy 2590-2620 | TP 2660-2700 | SL 2470
  • PNLF - Buy 230-234 | TP 240-244 | SL 220
  • HBAT - Buy 216-220 | TP 226-230 | SL 204
  • GPRA - Buy 106-108 | TP 110-112 | SL 101
  • ASPR - Buy 158-160 | TP 163-167 | SL 150

Perlu diingat bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Tekanan jual asing pasca pengeluaran emiten dari indeks MSCI masih membayangi IHSG. Namun, beberapa emiten seperti EKAD, ELSA, dan INCO memiliki katalis bisnis yang patut dicermati. EKAD dengan potensi akuisisi, ELSA dengan pengembangan layanan geoscience, dan INCO dengan proyek HPAL yang mendekati penyelesaian.

IHSG melemahsaham BBCAnet sell asingMSCI Indonesiaakuisisi EKADproyek HPAL INCOrekomendasi saham

Komentar

Memuat komentar...