IHSG Naik 1,59% Meski Asing Net Sell Rp1,03 Triliun

Sinta R. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
IHSG Naik 1,59% Meski Asing Net Sell Rp1,03 Triliun

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026. Indeks berhasil naik 1,59% ke posisi 6.401,89. Beberapa saham mencatatkan kenaikan harga yang cukup besar. Saham BYAN melesat 20,00%, MPRO naik 17,92%, dan SRAJ bertambah 15,38%. Namun tidak semuanya mengalami nasib baik. BREN justru terkoreksi 2,46%, TPIA turun 2,43%, dan BBCA melemah 0,39%.

Yang menarik, penguatan IHSG ini terjadi saat investor asing justru masih menjual saham mereka. Di pasar reguler, tercatat aksi jual bersih (net sell) asing sebesar Rp396,50 miliar. Angkanya lebih besar lagi jika dihitung secara keseluruhan pasar, yaitu net sell Rp1,03 triliun.

Semua sektor saham yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup hijau. Dari total 11 sektor, tidak ada satu pun yang berada di zona merah. Sektor dengan kenaikan paling tinggi adalah Healthcare, yang naik 3,09%.

Berbeda dengan Indonesia, bursa Amerika Serikat justru berakhir di zona merah pada waktu yang sama. Dow Jones turun 0,51% ke level 53.459. S&P 500 melemah 0,52% menjadi 7.745. Sedangkan Nasdaq terkoreksi 0,32% ke 26.644.

Dari dalam negeri, ada kabar mengenai regulasi baru. Pemerintah menargetkan aturan tentang Bursa Mineral dan Komoditas Strategis bisa selesai pada 17 September. Bursa ini direncanakan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027. Dengan hadirnya bursa komoditas, diharapkan proses penentuan harga (price discovery) menjadi lebih baik. Keuntungan lainnya adalah posisi tawar perusahaan tambang dalam negeri bisa lebih kuat.

Beberapa aset Indonesia di luar negeri juga ikut bergerak. ETF EIDO tercatat naik 0,96%. Sementara indeks MSCI Indonesia juga menguat tipis 0,21%.

Kinerja Emiten

Sumi Indo Kabel Tbk (IKBI)

IKBI punya target penjualan yang ambisius. Perusahaan menargetkan penjualan sebesar USD266 juta pada tahun 2026. Target ini naik 15,65% jika dibandingkan dengan realisasi penjualan di tahun sebelumnya yang mencapai USD230 juta.

Target ini didorong oleh prospek bisnis kabel listrik dan jaringan tegangan menengah. Permintaan diperkirakan datang dari berbagai proyek, seperti pengembangan jaringan listrik, integrasi energi terbarukan, dan modernisasi infrastruktur.

Meski begitu, hingga paruh pertama 2026, IKBI baru membukukan penjualan sebesar USD75,43 juta. Angka ini baru sekitar 28,36% dari target tahunan. Artinya, perusahaan harus bekerja keras di semester kedua. Mereka perlu meraih penjualan sekitar USD190,57 juta untuk bisa mencapai target di akhir tahun.

Dari sisi pendapatan, sebenarnya IKBI tumbuh 18,11% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun ada masalah. Beban pokok penjualan naik lebih tinggi, yaitu 21,40%. Akibatnya, laba bruto perusahaan justru turun 20,88% menjadi hanya USD3,94 juta.

Saham IKBI pada perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026 ditutup di harga Rp550 per lembar. Secara teknikal, saham ini berpotensi tertekan menuju area Rp530. Sebab, sudah tiga sesi berturut-turut harga saham berada di bawah garis EMA (Exponential Moving Average) 21.

Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII)

BPII memutuskan untuk membagikan dividen tunai interim untuk tahun buku 2026. Besarnya dividen adalah Rp3,54 per saham. Total dividen yang akan dibayarkan mencapai Rp34,98 miliar. Periode yang dicakup adalah hingga 30 Juni 2026.

Pembagian ini setara dengan rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio sebesar 81,68%. Angka ini dihitung dari laba bersih yang bisa diatribusikan kepada pemilik induk perusahaan pada semester I 2026, yaitu sebesar Rp42,83 miliar. Keputusan ini sudah disetujui oleh Direksi dan Dewan Komisaris pada 12 Agustus 2026.

Selama semester I 2026, BPII mencatat pendapatan jasa asuransi sebesar Rp936,34 miliar. Ada juga pendapatan dari jasa transportasi yang mencapai Rp346 miliar. Sementara pendapatan dari jasa manajemen investasi dan lainnya tercatat Rp219,23 miliar.

Perusahaan juga membukukan pendapatan keuangan neto sebesar Rp20,47 miliar dan pendapatan lain-lain neto Rp34,42 miliar.

Saham BPII pada Jumat, 14 Agustus 2026 ditutup menguat 4,98% ke level Rp464 per saham. Dengan harga tersebut, dividen interim Rp3,54 memberikan imbal hasil dividen (dividend yield) sekitar 0,76%.

Tanggal cum date dividen untuk pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 26 Agustus 2026. Pembayaran dividen sendiri dijadwalkan pada 11 September 2026.

Siloam International Hospitals Tbk (SILO)

SILO berencana mengambil alih seluruh saham 14 perusahaan. Perusahaan-perusahaan ini memiliki aset properti rumah sakit dan merupakan entitas anak dari First Real Estate Investment Trust (First REIT).

Nilai transaksi ini diperkirakan mencapai Rp6,91 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 67,57% dari total ekuitas SILO per 31 Maret 2026.

Nilai kesepakatan awal atas aset properti tersebut adalah Rp9 triliun. Namun setelah diperhitungkan dengan penyesuaian aset dan liabilitas bersih serta komitmen belanja modal, nilai transaksi yang diperhitungkan menjadi sekitar minus Rp2,09 triliun.

Proses akuisisi akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama menggunakan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (Conditional Share Purchase Agreement atau CSPA). Kemudian dilanjutkan dengan Perjanjian Opsi Put (Put Option Agreement atau POA). Kedua perjanjian telah ditandatangani pada 1 April 2026.

SILO berencana menggunakan pinjaman bank untuk mendanai akuisisi ini. Berdasarkan proforma per 31 Maret 2026, transaksi ini akan meningkatkan utang bank jangka panjang sekitar Rp8,88 triliun. Total liabilitas juga naik sebesar Rp8,62 triliun. Di sisi lain, kas dan setara kas diproyeksikan berkurang sekitar Rp12,39 juta menjadi Rp1,19 triliun.

Rekomendasi Saham

Berikut adalah rekomendasi saham yang beredar:

  • PGEO – Beli di 1080-1090 | Target Harga (TP) 1110-1130 | Stop Loss (SL) 1030
  • PACK – Beli di 290-294 | TP 300-304 | SL 276
  • INET – Beli di 228-232 | TP 238-242 | SL 216
  • DSNG – Beli di 1325-1335 | TP 1350-1380 | SL 1260
  • EXCL – Beli di 2780-2800 | TP 2830-2890 | SL 2620

Perlu diingat, semua analisis dan rekomendasi saham ini bersifat informatif. Bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan tetap ada di tangan investor masing-masing.

Secara keseluruhan, meski IHSG ditutup hijau, pelemahan di bursa Amerika dan aksi jual asing masih mewarnai perdagangan. Kinerja emiten seperti IKBI dan BPII menunjukkan hasil campuran, sementara SILO mengambil langkah ekspansi besar melalui akuisisi properti rumah sakit.

IHSGsahamregulasibursadividenakuisisirekomendasi

Komentar

Memuat komentar...