Ikan Sapu‑Sapu Bisa Berjalan di Darat, Ancaman
Gambar atau konten salah?
Ikan sapu-sapu, sejenis ikan dari keluarga Loricariidae, dikenal sebagai hama di berbagai negara. Di Indonesia, mereka mengganggu ekosistem perairan dengan mengkonsumsi alga yang menjadi makanan dan tempat berlindung bagi makhluk air lain. Namun, cara tradisional membuang ikan ke daratan tidak cukup untuk menghilangkan mereka. Ikan ini dapat berjalan di darat dan kembali ke air atau mencari tempat baru.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu mampu bergerak di tanah menggunakan teknik yang disebut reffling. Dengan memantul ekor dan siripnya, mereka mendorong tubuhnya maju. Hal ini menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu memiliki mekanisme unik yang belum banyak diketahui.
Tim ilmuwan Amerika, Noah R Bressman, Callen H Morrison, dan Miriam A Ashley‑Ross, mempublikasikan temuan ini di Jurnal Ichthyology & Herpetology, Volume 109, Issue 2, tahun 2021. Riset ini didorong oleh laporan warga dan pemerintah kota tentang keberadaan ikan sapu-sapu di daratan. Penelitian ini juga menilai dampak ekologis kritis.
“Kulit tubuhnya memang tebal seperti baju zirah yang mengurangi fleksibilitas dibanding ikan lain. Tapi dia punya trik lain yaitu memantulkan ekor dan siripnya untuk mendorong badannya maju,” kata Bressman. Ikan ini memiliki kulit yang keras, namun tetap dapat memanfaatkan gerakan ekor untuk menanjak di permukaan tanah.
Di Florida, burung bangau Heron biru menjadi predator alami ikan sapu-sapu. Burung ini mencoba memakan ikan, namun kulit keras ikan membuatnya gagal. Setelah gagal, burung tersebut membuang ikan ke daratan, di mana ikan tersebut kemudian dapat berjalan kembali ke sungai.
Praktik pemancing juga serupa. Ketika mereka menemukan ikan sapu-sapu, mereka seringkali membuangnya di pinggir sungai atau danau. Ikan tersebut tidak hanya kembali ke air, tetapi juga dapat berpindah ke wilayah air tawar baru, memperluas jangkauan invasifnya.
Ikan sapu-sapu dapat bertahan hidup di daratan hingga 20 jam. Kulit tameng mereka membantu mempertahankan air di tubuh, sehingga mereka tidak cepat kering. Namun, mereka tidak menyukai air dingin; sungai dan danau dengan suhu rendah tidak menjadi tempat tinggal mereka.
Distribusi ikan ini meluas dari Eropa hingga India, dan di Amerika di wilayah dengan sungai hangat. Mereka tidak dapat hidup di air dingin, namun perubahan iklim membuat air menjadi lebih hangat, sehingga wilayah yang sebelumnya tidak cocok kini menjadi layak.
“Ikan ini sudah tersebar dari Eropa sampai India dan ada di Amerika yang air sungainya lebih hangat. Mereka tidak bisa hidup di air yang dingin, tapi karena perubahan iklim, air semakin hangat. Jangan membantu penyebaran ikan sapu-sapu dengan membuangnya dari akuarium ke sungai,” pungkasnya.
Dengan pemahaman ini, membuang ikan sapu-sapu ke daratan tidak cukup. Ikan tersebut dapat kembali ke sungai. Cara yang lebih efektif mungkin adalah mengubur atau menghancurkan mereka di tempat yang aman.
Ikan sapu-sapu menunjukkan kemampuan adaptasi yang menakjubkan, memanfaatkan kulit keras dan gerakan ekor untuk bertahan di lingkungan yang tidak biasa. Penelitian ini menekankan pentingnya tindakan pencegahan yang lebih ketat untuk mengendalikan penyebaran spesies invasif ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
Berita Terbaru
Webinar AI untuk Riset Akademik: Percepat Skripsi dan Tesis
Menteri Dorong Rektor Naikkan Gaji Dosen
Stella Christie: Kunci RI Kuasai AI Ada di Data
SPP SMA Negeri Jawa Barat Akan Dihidupkan Kembali?
Prabowo Hentikan MBG untuk Anak Orang Kaya
BGN Kaji Libatkan Kantin Sekolah untuk MBG
DPR Desak Penataan Taxiway Bandara Halim
Menkeu Purbaya: Surat Tambahan Anggaran IKN Rp 2,86 T Belum Sampai
