Indah Wijayanti: Mahasiswa UGM Kurang Kemampuan Matematika
Gambar atau konten salah?
Prof Dr rer nat Indah Emilia Wijayanti, dosen Matematika Aljabar di Universitas Gadjah Mada, menyoroti penurunan kemampuan berpikir matematis pada generasi muda. Ia menyebut penurunan ini sebagai literasi matematika yang semakin merosot.
“Jika dibandingkan, mahasiswa baru program studi Matematika 5 tahun atau 10 tahun yang lalu memiliki kemampuan berpikir matematis yang lebih mumpuni dibanding sekarang,” ujarnya pada laman resmi UGM pada 31 Maret 2026.
Indah menjelaskan bahwa penurunan literasi matematika terjadi secara signifikan setiap kali mahasiswa baru diterima. Ia menilai bahwa mahasiswa 5–10 tahun lalu memiliki kemampuan berpikir matematis yang lebih baik dibandingkan dengan cohort saat ini.
Menurutnya, penurunan pemahaman matematika ini berhubungan erat dengan materi yang diberikan di sekolah. Semakin berkurangnya materi, semakin menurun pula pemahaman siswa di jenjang berikutnya. Akibatnya, proses belajar mahasiswa di perguruan tinggi pun terpengaruh.
Beberapa faktor memicu penurunan ini, salah satunya adalah teknologi. Teknologi dapat membantu siswa menyelesaikan ujian matematika, namun juga dapat mengalihkan perhatian. Indah menambahkan bahwa generasi sekarang mudah terdistraksi saat belajar.
“Teknologi mampu membantu siswa dalam menyelesaikan berbagai hal, termasuk mengerjakan ujian matematika,” jelasnya. Ia menekankan bahwa ketika siswa tidak fokus, materi guru sulit dipahami, menambah tantangan bagi pendidik matematika.
Untuk mengatasi masalah ini, Indah menekankan pentingnya kurikulum yang dinamis dan tidak terlalu terbatas oleh regulasi pemerintah. Ia mengusulkan agar perguruan tinggi diberi kebebasan dalam menentukan beban studi.
“Kami universitas, seharusnya diberi kebebasan untuk muatannya, turunkan kapasitasnya, sehingga mahasiswa bisa mengeksplorasi bidang yang diminati di luar matematika,” ungkapnya.
Di tingkat perguruan tinggi, ia menyarankan kampus menyediakan ruang lebih luas agar mahasiswa dapat mempelajari bidang lain sesuai minat. Langkah ini diharapkan menumbuhkan kemampuan berpikir yang lebih komprehensif.
Indah juga menekankan pentingnya latihan bagi mahasiswa. Ia mengatakan bahwa latihan adalah satu-satunya cara untuk menguasai matematika. Salah satu cara latihan adalah dengan mengerjakan soal-soal.
“Dengan berlatih, siswa dan mahasiswa akan mampu meningkatkan kompetensi sendiri, bahkan bisa fokus yang sesuai dengan minat mereka,” tambahnya.
Untuk para pengajar, Indah memberikan tips agar materi matematika disampaikan lebih menarik. Ia mencontohkan metode motivasi, teori, dan penerapan ilmu.
“Kita harus bisa mengemas dengan lebih menarik. Dan ini tidak mudah. Itu tantangan buat si pengajar. Biasanya gini, saya kasih motivasi dulu, kemudian saya masukin teorinya, teorinya kayak gini, lho. Setelah itu mereka baru saya ajak untuk terapkan,” ujarnya.
Kesimpulannya, penurunan literasi matematika di kalangan mahasiswa disebabkan oleh berkurangnya materi, teknologi yang mengalihkan fokus, dan kurangnya latihan. Solusi yang diusulkan melibatkan kurikulum yang lebih fleksibel, ruang eksplorasi bagi mahasiswa, serta pendekatan pengajaran yang lebih motivasional dan praktis.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
