ITB-IPB Ciptakan Rumpon Portabel untuk Nelayan
Gambar atau konten salah?
Sebuah inovasi teknologi perikanan hadir dari kerja sama dua perguruan tinggi negeri. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama IPB University menciptakan rumpon portabel. Alat ini dirancang untuk beroperasi di perairan yang lebih dalam, dengan harapan bisa meningkatkan hasil tangkapan para nelayan.
Rumpon sendiri adalah alat yang berfungsi mengumpulkan ikan. Cara kerjanya mirip seperti karang di laut—ikan-ikan tertarik dan berkumpul di sekitarnya, sehingga lebih mudah ditangkap. Inovasi ini lahir dari kebutuhan warga pesisir di Desa Kabetan, Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah. Sebagian besar penduduk desa itu adalah nelayan.
Permasalahannya, teknologi melaut yang mereka miliki masih sederhana. Nelayan di sana hanya bisa menjangkau perairan dangkal. Akibatnya, tangkapan mereka didominasi ikan karang. Nilai ekonominya lebih rendah dibandingkan ikan pelagis—ikan yang hidup di kolom air hingga lapisan tengah laut.
Lewat program pengabdian di Desa Kabetan, tim mencoba menerapkan inovasi yang sesuai kondisi lapangan. Alatnya harus mudah dioperasikan dan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. Mereka merancang rumpon portabel yang dilengkapi atraktor suara. Suara dari alat ini diharapkan menarik ikan pelagis untuk berkumpul di sekitar lokasi penangkapan.
Teknologi ini dirancang mampu beroperasi hingga kedalaman sekitar 30 meter. Kedalaman itu dinilai sesuai dengan kebutuhan nelayan di wilayah kepulauan. Desainnya juga disebut mudah dirakit dan dirawat.
Uji Coba di Lapangan
Sebelum diserahkan ke warga, tim melakukan uji lapangan untuk memvalidasi teknologi. Hasilnya menunjukkan, penggunaan rumpon portabel bisa meningkatkan jumlah tangkapan. Selain itu, jenis ikan yang diperoleh nelayan juga lebih beragam.
Berdasarkan hasil uji coba, tim kemudian menyempurnakan desain rumpon. Hasil akhirnya diterapkan di Desa Kabetan pada Juni 2026.
Pelatihan dan Pendampingan
Dalam proses penyerahan ke warga, bantuan yang diberikan meliputi enam unit rumpon portabel berbasis atraktor suara. Selain itu, ada 23 paket jaring insang monofilament dan 10 paket pancing ulur.
Warga tidak hanya menerima alat. Mereka juga mendapatkan pelatihan dan pendampingan. Para nelayan belajar cara memasang dan merawat rumpon portabel. Mereka juga diajarkan memanfaatkan alat tangkap yang lebih efektif dan ramah lingkungan. Tujuannya, warga bisa menggunakan teknologi ini secara mandiri dan berkelanjutan.
"Teknologi yang kami kembangkan harus dapat digunakan oleh masyarakat dalam kondisi nyata," kata Dr Ir Sri Raharno, S T, M T, dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB. Ia menambahkan, kegiatan ini tidak hanya sebatas menyerahkan alat. Ada pelatihan, pendampingan, dan implementasi langsung di lapangan. "Agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang," ujarnya.
Sri Raharno mengetuai tim pengabdian ini bersama Indria Herman, S T, M T, Ph D. Mereka berkolaborasi dengan Dr Roza Yusfiandayani, S Pi, dari Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University. Program ini juga melibatkan mahasiswa Program Doktor dan Program Sarjana Teknik Mesin ITB.
Energi Bersih untuk Pesisir
Tim pengabdian juga menyertakan lima unit lampu jalan tenaga surya. Lampu ini untuk mendukung aktivitas dan keselamatan warga di kawasan pesisir. Dengan adanya penerangan, warga diharapkan lebih nyaman dan aman. Mereka juga bisa memanfaatkan energi bersih di wilayah yang akses listriknya masih terbatas.
"Ke depan, teknologi dan model pendampingan yang dikembangkan di Desa Kabetan diharapkan dapat direplikasi di berbagai desa pesisir lainnya yang menghadapi tantangan serupa," ucap Sri Raharno.
Inovasi ini menunjukkan bagaimana teknologi sederhana bisa menjawab masalah mendasar nelayan. Bukan hanya soal alat tangkap, tetapi juga pendekatan yang memastikan warga benar-benar bisa menggunakannya. Kombinasi rumpon portabel, atraktor suara, dan energi surya menjadi satu paket yang saling mendukung. Tantangan ke depan adalah memperluas jangkauan program ini ke desa-desa lain dengan kondisi serupa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kelas Bisnis Pemula 16 Juli: Mulai dari Nol
Sertifikat BNSP Kini Jadi Syarat Wajib Trainer Perusahaan
Lukis Hewan Peliharaan, Alihkan Anak dari Layar Gadget
PTS Terancam Mati Akibat Kebijakan PTN Tanpa Batas
Stella Christie Koreksi Data 60 Ribu Kursi Kosong PTN
Anak Petani Gresik Lolos Beasiswa S2-S3 di Inggris dan Australia
Berita Terbaru
Kemendikdasmen Siapkan 7 Kebiasaan Anak Hebat untuk MPLS 2026
Potongan Ojol 8% Tak Raup Pendapatan
Studi Baru Bantah CO2 Penyebab Utama Antartika Membeku
Nekat Bakar Rumah Mantan Mertua, Wanita di PALI Diamuk Warga
11 Galon Berisi Uang Dolar Disita dari Rumah Eks Pejabat Irak
Trans Hotel Diskon 20% untuk Liburan Sekolah
BMKG: Hanya Satu Wilayah Lampung Diguyur Hujan Ringan
