Gen Z Pertama Masuk DTKJ, Jessica Shally Anisa

Fandi R. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Gen Z Pertama Masuk DTKJ, Jessica Shally Anisa

Gambar atau konten salah?

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara resmi melantik 17 anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) untuk masa bakti 2026-2029 pada Jumat, 03 Juli 2026. Di antara para anggota yang dikukuhkan, ada satu nama yang mencuri perhatian: Jessica Shally Anisa. Perempuan berusia 25 tahun ini resmi menjadi anggota termuda sekaligus perwakilan pertama dari Generasi Z yang duduk di jajaran DTKJ periode ini.

DTKJ sendiri adalah lembaga mitra strategis bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Fokus utama lembaga ini adalah memberikan masukan, rekomendasi, dan solusi untuk berbagai persoalan transportasi yang ada di ibu kota. Di dalam struktur DTKJ, Jessica mendapatkan amanah untuk bertugas di Komisi Hukum dan Humas.

Cerita tentang bagaimana Jessica bisa bergabung dengan DTKJ cukup menarik. Ketertarikannya pada isu transportasi Jakarta bukanlah hal yang datang tiba-tiba. Ia melihat bahwa masalah transportasi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Jutaan orang di Jakarta mengandalkan moda transportasi setiap harinya. Mereka membutuhkannya untuk bekerja, pergi ke sekolah, berdagang, mengakses layanan publik, dan masih banyak lagi.

"Sistem transportasi yang nyaman, aman, terintegrasi, dan mudah diakses sangat mempengaruhi kualitas hidup warga Jakarta itu sendiri," ujar Jessica saat berbincang pada Rabu, 08 Juli 2026.

Latar belakang pendidikannya menjadi bekal yang kuat. Jessica adalah lulusan S1 dari Kırklareli Üniversitesi, Turki, dengan jurusan Urban and Regional Planning atau Perencanaan Wilayah dan Kota. Ia menegaskan bahwa ilmu yang didapatkannya selama kuliah menjadi fondasi untuk memahami transportasi sebagai bagian tak terpisahkan dari perencanaan kota secara keseluruhan.

Pria dengan nama lengkap Jessica Shally Anisa ini juga mencatatkan pengalaman riset yang relevan. Ia pernah terlibat dalam riset proyeksi penumpang LRT Jakarta. Selain itu, ia juga aktif dalam berbagai diskusi publik mengenai transportasi. Kombinasi antara pendidikan dan pengalaman inilah yang mendorongnya untuk mengambil peran lebih besar dengan berkontribusi di DTKJ.

Selama masa studi di Turki, Jessica banyak mempelajari soal tata ruang, konektivitas antar kawasan, dan integrasi antarmoda transportasi. Ia belajar bagaimana merencanakan kota yang benar-benar berorientasi pada kebutuhan masyarakat. "Saya mempelajari bagaimana simpul-simpul transportasi seperti bus, kereta, dan tram dapat terhubung secara efisien dalam satu sistem kota," tuturnya.

Ia juga menarik pelajaran dari karakter kota-kota di Turki. "Turki, khususnya kota besar seperti Istanbul, memiliki karakter urban yang padat, kompleks, dan dinamis. Banyak pelajaran dari sana yang relevan untuk melihat tantangan kota besar seperti Jakarta," sambungnya.

Namun, Jessica mengingatkan satu hal penting. Ia menekankan bahwa setiap kota memiliki konteks sosial, geografis, dan budaya mobilitas yang berbeda. "Karena itu, pendekatan dari kota lain perlu diterjemahkan secara hati-hati agar sesuai dengan kondisi Jakarta," ucapnya.

Ia memberi contoh konkret. Mobilitas warga Jakarta sangat dipengaruhi oleh pola komuter lintas wilayah. Banyak orang yang bergerak dari kawasan Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) menuju Jakarta, atau sebaliknya, setiap hari. Pola ini membuat integrasi antarmoda menjadi sangat krusial. Integrasi ini tidak hanya diperlukan di dalam wilayah Jakarta, tetapi juga lintas kota dan provinsi.

Lebih jauh lagi, budaya komuter di Jakarta memiliki tantangan tersendiri. Kebiasaan menggunakan kendaraan pribadi sudah mengakar kuat di masyarakat. Jakarta pun harus menghadapi berbagai persoalan sekaligus: penyediaan infrastruktur, peningkatan kualitas layanan, mengubah preferensi mobilitas warga, dan yang tidak kalah penting, membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap transportasi umum.

Bagi Jessica, ilmu perencanaan kota membantunya melihat bahwa solusi transportasi tidak bisa dibuat di ruang hampa. "Kebijakan yang baik harus mampu menjawab pertanyaan praktis warga: 'Apakah aksesnya mudah? Apakah perpindahan modanya nyaman? Apakah tarifnya terjangkau? Lalu apakah layanannya aman? Dan apakah informasi perjalanannya jelas?'," tuturnya.

Saat ditempatkan di Komisi Hukum dan Humas DTKJ, Jessica mengakui ada tantangan besar. Ia harus menerjemahkan berbagai regulasi dan kebijakan transportasi. Seringkali, dokumen-dokumen ini bersifat teknis, rumit, dan melibatkan banyak kewenangan yang berbeda. Tugasnya adalah membuat semua itu mudah dipahami oleh warga biasa. Bahasanya harus jelas, dekat dengan pengguna, dan relevan dengan kebutuhan mereka sehari-hari.

Di bidang hukum, Jessica menjelaskan, regulasi harus mampu mendukung integrasi layanan, menjamin keselamatan, memberikan kepastian pelayanan, dan berpihak kepada pengguna transportasi umum. Sementara di bidang kehumasan, fokusnya adalah pada komunikasi publik. Tujuannya adalah membangun kepercayaan. Masyarakat harus merasa bahwa suara, keluhan, dan pengalaman mereka benar-benar didengar dalam proses perumusan kebijakan.

Jessica berharap bisa mendorong komunikasi yang berbasis data dan kondisi di lapangan. Ia merujuk pada pengalaman risetnya di LRT Jakarta. Menurutnya, data sangat dibutuhkan untuk menjelaskan kebijakan dengan cara yang lebih konkret dan mudah dicerna. "Ajakan menggunakan transportasi umum perlu disampaikan dengan alasan yang jelas, seperti efesiensi waktu, penghematan biaya, pengurangan kemacetan, peningkatan keselamatan, serta dampak positif terhadap lingkungan," ucapnya.

Jessica juga punya pandangan khusus soal pendekatan kepada anak muda. Menurutnya, cara penyampaian informasi harus disesuaikan dengan kebiasaan mereka. Informasi soal rute, tarif, keamanan, kenyamanan, dan manfaat lingkungan harus disajikan secara praktis, berorientasi visual, dan mudah dibagikan. "Dan anak muda sendiri itu perlu melihat transportasi umum sebagai pilihan yang relevan dengan gaya hidup perkotaan, efesiensi, aman, terjangkau, terkoneksi secara digital, dan terakhir, mendukung kota yang lebih sehat," tuturnya.

Masuknya Jessica ke DTKJ menandai sebuah langkah baru. Untuk pertama kalinya, ada perwakilan Gen Z yang duduk di lembaga yang membahas kebijakan transportasi Jakarta. Dengan latar belakang pendidikan dan risetnya, ia menawarkan perspektif yang mungkin berbeda dari anggota lainnya. Ia juga membawa harapan agar suara anak muda dan kebutuhan warga yang paling praktis bisa lebih terwakili dalam setiap kebijakan transportasi ke depannya.

Pelantikan DTKJJessica Shally AnisaAnggota termudaTransportasi JakartaPerencanaan kotaGenerasi ZKomisi Hukum dan Humas

Komentar

Memuat komentar...