Indonesia: Impor Singkong Dihentikan, Harga Petani Naik
Gambar atau konten salah?
Pemerintah resmi menghentikan impor singkong dan ubi. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengumumkan keputusan ini di Jakarta, Senin 16 Oktober 2026. Langkah ini disebutnya langsung berdampak pada kenaikan harga di tingkat petani.
Amran menjelaskan, sebelumnya harga singkong terus merosot dan memicu aksi demo dari para petani. "Itu harga ubi singkong dulu demo terus-menerus, turun terus-menerus," katanya dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat. Setelah impor ditutup, harga di lapangan naik menjadi Rp 3.000 per kilogram. Petani pun menyambut gembira perubahan ini.
Bukan hanya harga yang membaik. Indonesia kini bersiap mengirim singkong ke luar negeri. Ekspor perdana dijadwalkan minggu depan. "Bayangkan, impor menjadi ekspor dalam waktu singkat," ujar Amran. Ia menambahkan, jika petani diuntungkan, mereka akan terus berproduksi. Swasembada pangan pun terjadi dengan sendirinya. Bahkan, negara bisa mengekspor.
Amran juga menyoroti komoditas telur ayam. Menurutnya, produksi telur saat ini sudah surplus dan siap diekspor. Namun ada masalah besar. Harga di tingkat peternak hanya Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per kilogram. Seharusnya, kata Amran, harga itu berada di kisaran Rp 26.000 sampai Rp 30.000. Ironisnya, konsumen membayar Rp 40.000 hingga Rp 45.000 per kilogram. Angka ini jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan. Amran menyebut situasi ini sebagai anomali.
Pemerintah sudah bergerak. Amran mengaku telah berkoordinasi dengan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) dan Kapolri. Penindakan terhadap pihak-pihak yang bermain harga pun mulai dilakukan. "Baru diumumkan, harga sudah turun di konsumen. Jadi ini kabar baik," katanya.
Kebijakan menutup impor singkong dan ubi menjadi langkah nyata untuk melindungi petani lokal. Dalam waktu singkat, Indonesia berubah dari negara pengimpor menjadi pengekspor singkong. Namun tantangan distribusi dan disparitas harga masih menjadi pekerjaan rumah, terutama untuk komoditas telur ayam.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
