Rupiah Terus Merosot, Sentuh Rp18.129 per Dolar AS

Endah K. · 2 min baca · 1 jam lalu · 20 dibaca
Bisik.id
Rupiah Terus Merosot, Sentuh Rp18.129 per Dolar AS

Gambar atau konten salah?

Nilai tukar rupiah terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan siang ini, Senin 26 Oktober 2026. Mata uang Garuda tercatat berada di level lebih dari Rp 18.100 per dolar AS.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah melemah 0,24% ke posisi Rp 18.123 pada siang hari. Dolar AS kemudian terus menguat hingga menyentuh Rp 18.129 pada pukul 13.42 WIB. Padahal saat pembukaan perdagangan pagi tadi, dolar AS masih berada di Rp 18.080 atau menguat 0,11%.

Penguatan dolar AS tidak hanya terjadi terhadap rupiah. Mata uang Paman Sam juga bergerak naik terhadap mata uang utama dunia lainnya. Euro melemah 0,14% terhadap dolar. Yen Jepang turun 0,06%. Dolar Kanada juga melemah 0,06%.

Sementara itu, berdasarkan data RTI Business, dolar AS menguat 0,25% ke level Rp 18.112 pada pukul 13.32 WIB. Sepanjang tahun 2026, dolar AS tercatat telah menguat 8,60% terhadap rupiah.

Akar masalah pelemahan rupiah

Riset dari BRI Danareksa Sekuritas memperingatkan bahwa rupiah saat ini mendekati level terendah sepanjang sejarah. Pada Juli 2026, BRI Danareksa mencatat dolar AS sempat berada di level Rp 18.279.

Tekanan terhadap rupiah perlu diwaspadai, terutama menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada 29 Oktober 2026. Riset tersebut menyebutkan beberapa faktor yang memperburuk situasi: ketidakpastian arah kebijakan moneter AS, tekanan inflasi, dan potensi penguatan dolar AS lebih lanjut. Semua ini berpotensi meningkatkan volatilitas nilai tukar dan arus modal asing.

Pelemahan rupiah juga berpotensi menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Risiko yang mengintai antara lain arus modal keluar (capital outflow), kenaikan biaya impor, dan bertambahnya beban perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS.

"Bagi pasar domestik, pelemahan rupiah berpotensi menambah tekanan terhadap IHSG melalui risiko capital outflow, kenaikan biaya impor, dan meningkatnya beban perusahaan dengan utang berdenominasi dolar AS. Investor perlu mencermati pergerakan USD/IDR dan respons pasar terhadap keputusan The Fed," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas.

Rupiah yang terus melemah bukan sekadar angka di papan perdagangan. Dampaknya langsung terasa pada biaya impor yang membengkak dan beban utang perusahaan yang semakin berat. Keputusan The Fed pada akhir Oktober akan menjadi penentu apakah tekanan ini akan mereda atau justru bertambah kuat.

nilai tukar rupiahdolar ASpelemahan rupiahThe FedBRI DanareksaIHSG

Komentar

Memuat komentar...