Industri Mamin Waspadai Kenaikan Biaya Kemasan Akibat Konflik Timur Tengah
Gambar atau konten salah?
Konflik di Timur Tengah yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz mulai menjadi perhatian bagi industri dalam negeri, terutama sektor makanan dan minuman. Tekanan yang dihadapi oleh industri ini tidak berasal dari konsumsi energi, tetapi dari biaya logistik dan kenaikan harga kemasan plastik yang terbuat dari minyak.
Putu Juli Ardika, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, menjelaskan bahwa industri makanan dan minuman bukanlah sektor yang mengkonsumsi energi dalam jumlah besar seperti industri kimia, logam, atau semen. "Kami tidak terlalu terpengaruh oleh energi, namun logistik sangat berpengaruh terhadap semua sektor," ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenperin, Jakarta Selatan pada 13 Maret 2026.
Lebih lanjut, Putu menekankan bahwa tekanan yang lebih signifikan berasal dari kemasan. Banyak produk makanan dan minuman menggunakan kemasan plastik yang berbasis petroleum. Ketika harga minyak dan bahan baku petrokimia meningkat akibat konflik, biaya kemasan juga ikut naik. "Yang paling berdampak pada industri kami adalah kemasan, terutama plastik yang berasal dari petroleum," jelasnya.
Kenaikan biaya kemasan tidak dapat dianggap remeh karena pada beberapa produk, biaya kemasan bisa lebih tinggi daripada isi produk itu sendiri. Contohnya, pada air minum dalam kemasan, biaya kemasan sering kali lebih dominan dibandingkan dengan nilai isi produk.
Hal ini berimbas pada biaya produksi di sektor makanan dan minuman. Namun, Putu menegaskan bahwa dampak kenaikan harga belum terasa karena produk yang ada di pasar saat ini masih berasal dari stok yang sudah ada sebelumnya. "Untuk Idulfitri dan Lebaran, semua produk sudah terdistribusi dan aman, jadi tidak perlu khawatir," tegasnya.
Putu juga menyebutkan rencananya untuk berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin. Hal ini penting karena industri plastik sebagai bahan baku kemasan berada di bawah sektor tersebut. Selain itu, koordinasi juga akan dilakukan dengan GAPMMI dan pelaku industri kemasan untuk mencari langkah mitigasi yang tepat.
Melihat kondisi ini, industri makanan dan minuman harus siap menghadapi tantangan dari kenaikan biaya kemasan yang bisa mempengaruhi harga di pasaran. Upaya kolaborasi antar sektor menjadi langkah penting untuk mengatasi masalah ini dan menjaga stabilitas industri.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pemerintah Pertimbangkan Angkat KSPI Said Iqbal ke Kabinet
PGN Layanan Mata Gratis: 300 Peserta Diperiksa Jakarta
Kementerian Energi Tinjau Penundaan Batu Bara China PT DSI
Prabowo Kunjungi Danantara untuk Fokus AI dan Robotik
Nanik Deyang Dilantik Kepala BGN, Fokus Makan Bergizi
Dolar AmAs Tetap Unjuk Kuat, Listrik Rumah Tangga Tak Naik
Berita Terbaru
Jonatan Christie Batalkan Alwi Farhan, Raih Papan Indonesia
Jadwal Salat Denpasar 05 Juni 2026: Subuh, Zuhur, Asar
Jakarta Menang di Short Course, Ade Jona Cita Olimpiade
BMKG Prediksi Cuaca Jawa Timur 5 Juni 2026: Variasi Tinggi
McDonald's Indonesia Gelar Kampanye FIFA World Cup 2026
ORADO Resmi Jadi Anggota KONI, Domino Menjadi Olahraga Nasional
Suporter AS Kekecewa: Tempat Duduk Piala Dunia 2026 Terbagi
Batam Siapkan Jalan & Landfill TPA Telaga Punggur, Rp45,45 M
