Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz

Dedi S. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz

Gambar atau konten salah?

Irak dan Suriah sepakat menghidupkan kembali pipa minyak yang menghubungkan kedua negara. Kesepakatan ini menjadi jalur alternatif setelah Selat Hormuz kembali memanas akibat serangan balasan antara Iran dan Amerika Serikat.

Penandatanganan dilakukan pada Jumat lalu dalam pertemuan puncak Kamar Dagang di Washington. Acara itu membahas investasi AS di Irak. Menteri Energi AS Chris Wright memimpin proses penandatanganan yang melibatkan CEO Basra Oil Company, Bassem Abdul Karim Nasr, dan CEO Syrian Petroleum Company, Youssef Qablawi.

"Ada banyak peluang untuk mendorong perbaikan di Irak, meningkatkan produksi minyak, mengurangi ketergantungan pada negara-negara tetangga yang bermusuhan, serta menghadirkan kebebasan, kemakmuran, dan energi yang melimpah bagi bangsa Irak," kata Wright, seperti dikutip dari CNBC, Minggu 19 Juli 2026.

Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), pipa Irak dan Suriah membentang dari Kirkuk di Irak utara hingga pesisir Mediterania di Suriah. Kapasitas terpasangnya mencapai 700 ribu barel per hari. Jalur ini sudah ditutup sejak rusak akibat invasi AS ke Irak pada 2003.

Irak adalah produsen minyak terbesar kedua di OPEC. Negara itu sangat terpukul oleh gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz selama konflik AS-Iran. Baghdad sangat bergantung pada pelabuhan Basra di Teluk Persia karena pilihan jalur pipa untuk menyalurkan minyak ke pasar global sangat terbatas.

Data OPEC menunjukkan produksi minyak Irak turun lebih dari 50% menjadi sekitar 1,9 juta barel per hari pada Juni. Bandingkan dengan sekitar 4,2 juta barel per hari pada Februari, sebelum AS dan Israel menyerang Iran.

Sejak konflik AS dan Iran pecah, beberapa negara Teluk langsung berencana memperluas kapasitas pipa untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Uni Emirat Arab sedang membangun pipa kedua menuju Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman. Proyek ini akan melipatgandakan kapasitas ekspornya di luar selat tersebut.

Arab Saudi juga mempertimbangkan perluasan pipa menuju Laut Merah dengan kapasitas tambahan 2 juta barel per hari. Kini giliran Irak dan Suriah yang mengikuti langkah serupa.

Para analis menilai pipa bisa menjadi langkah mitigasi terhadap risiko geopolitik di Selat Hormuz. Namun langkah ini tidak menyelesaikan ancaman mendasar yang ditimbulkan Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan.

"Masalahnya bukan pada jalur air tersebut. Masalahnya adalah Iran dapat menggunakan senjata untuk menyerang fasilitas pemuatan, stasiun pemompaan, stasiun akhir, terminal-terminal tersebut, serta unit penyimpanan dari jaringan pipa ini," ujar Bob McNally, pendiri Rapidan Energy.

Kesepakatan ini menunjukkan bagaimana negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah berusaha mencari rute alternatif di tengah ketegangan yang terus berlangsung. Namun ancaman terhadap infrastruktur energi tetap ada, terlepas dari jalur mana yang digunakan.

pipa minyakIrakSuriahSelat Hormuzalternatifkonflikenergi

Komentar

Memuat komentar...