Jakarta Gelar Pemberantasan Ikan Sapu‑Sapu Invasif

Bima J. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 110 dibaca
Bisik.id
Jakarta Gelar Pemberantasan Ikan Sapu‑Sapu Invasif

Gambar atau konten salah?

Gubernur Jakarta Pramono Anung memerintahkan pemberantasan ikan sapu-sapu di sejumlah wilayah Jakarta secara berkala. Populasi ikan ini sudah membeludak, menjadi invasif, dan merusak ekosistem perairan. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa ikan ini berbahaya untuk dikonsumsi.

Ikan sapu-sapu, yang sering dijumpai di perairan Indonesia, berasal dari genus Pterygoplichthys. Dalam taksonomi, ikan ini termasuk Kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Pisces, Ordo Siluridea, dan Famili Loricarinae.

Genus ini mencakup jenis-jenis seperti Hypostosmus, Hyposarcus, dan Pterygoplichthys. Spesies yang umum ditemukan di Indonesia adalah Hypostosmus sp, Hyposarcus pardalis, dan Pterygoplichthys pardalis.

Di Indonesia, genus Pterygoplichthys memiliki 22 spesies yang telah diidentifikasi. Dua spesies paling dikenal masyarakat adalah Pterygoplichthys disjunctivus dan Pterygoplichthys pardalis.

Morfologi ikan sapu-sapu menonjol karena tubuhnya ditutupi sisik keras namun fleksibel. Kepala pipih mirip ikan lele, dengan pola titik putih besar di abdomen. Mulut penghisap di bagian bawah kepala berfungsi menyedot makanan dan membersihkan permukaan.

Sirip dorsal memiliki jumlah 9 hingga 14, sedangkan sirip dada dilengkapi duri kecil seperti gigi. Ukuran tubuh dapat mencapai 40 cm, bahkan lebih, dan pertumbuhan cukup cepat, mencapai 35 cm dalam waktu dua tahun.

Walaupun sering disamakan, Pterygoplichthys disjunctivus dan Pterygoplichthys pardalis memiliki perbedaan mencolok di bagian abdomen. Usus panjang tersusun melingkar seperti spiral, menjadikan ikan ini herbivora. Namun spektrum makanannya luas, sehingga lebih tepat dikategorikan sebagai spesies eurifagik atau pemakan segala.

Ikan ini berasal dari kawasan sungai aliran deras dan jernih di Amerika Selatan, seperti Argentina Utara, Paraguay, dan Uruguay. Juga ditemukan di Brazil bagian selatan, tepatnya di Sungai Rio Paraguay, Rio de Plate, Rio Uruguay, dan Rio Panama. Kemampuan hidup di perairan tergenang seperti danau atau rawa-rawa membuatnya mudah beradaptasi.

Keunikan lain adalah kemampuannya bertahan di perairan dengan kadar oksigen terlarut rendah. Ikan ini sering disebut janitor fish karena bersih‑bersih akuarium dari ganggang dan kotoran. Adaptasi ini memungkinkan ia hidup di air tawar maupun air payau, bahkan di sungai yang mengering, bernapas lewat kulit, dan menggeliat mencari tempat tinggal baru.

Di alam liar, sapu-sapu membuat lubang di dasar sungai berlumpur untuk menempatkan sekitar 300 butir telur. Umur hidupnya berkisar 10 sampai 15 tahun. Ikan ini juga dapat bertahan hingga 30 jam di luar air bila memiliki cadangan oksigen di perutnya.

Meskipun tidak umum dikonsumsi, ikan sapu-sapu sebenarnya dapat dimakan. Namun, hanya ikan yang berasal dari perairan bersih dan hasil budidaya yang aman. Ikan yang hidup di perairan tercemar dan penuh polusi sebaiknya dihindari karena risiko kesehatan.

Sapu-sapu menarik karena morfologi unik dan kemampuan adaptasi luar biasa. Meskipun sering dianggap tidak berharga, ikan ini memiliki peran penting dalam ekosistem perairan dan potensi sebagai sumber pangan bergizi. Namun, populasi dan kondisi perairannya harus dipantau secara cermat.

Dengan demikian, upaya pemberantasan dan pengelolaan populasi ikan sapu-sapu di Jakarta menjadi penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan dan kesehatan masyarakat.

ikan sapu-sapupemberantasanekosistem perairanspesies invasifPterygoplichthysadaptasiJakartakesehatan masyarakat

Komentar

Memuat komentar...