Jamkrindo Catat Penjaminan Rp271,2 Triliun

Wati N. · 2 min baca · 55 menit lalu · 16 dibaca
Bisik.id
Jamkrindo Catat Penjaminan Rp271,2 Triliun

Gambar atau konten salah?

PT Jaminan Kredit Indonesia (Persero), yang lebih dikenal dengan nama Jamkrindo, baru saja merilis laporan kinerja mereka. Hingga September 2026, perusahaan ini mencatat volume penjaminan yang cukup besar, yaitu Rp 271,20 triliun. Angka tersebut didapat dari penjaminan terhadap 2,97 juta usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi (UMKM-K). Dampaknya, sebanyak 9,46 juta tenaga kerja ikut tersokong.

Direktur Utama Jamkrindo, Abdul Bari, menjelaskan bahwa dari hasil tersebut, perusahaan juga membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp 1,1 triliun. Menurutnya, ini bukan sekadar angka. Ini adalah bukti bahwa strategi bisnis yang dijalankan selama ini sudah tepat. Adaptif terhadap perubahan, risiko dikelola dengan ketat, dan peluang pertumbuhan dimanfaatkan secara terukur.

"Bagi Jamkrindo, menjaga kinerja bukan semata-mata tentang pertumbuhan bisnis, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut memiliki fondasi yang kuat dan memberikan manfaat jangka panjang," kata Abdul Bari. Ia menyampaikan hal ini di sela-sela acara Pemimpin Redaksi Gathering Jamkrindo di Semarang, pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Ia menambahkan, "Kami terus memperkuat kapasitas perusahaan, meningkatkan kualitas pengelolaan risiko, serta mengoptimalkan peluang bisnis agar dapat memberikan kontribusi yang semakin besar bagi UMKM dan perekonomian nasional."

Selain fokus pada kinerja pembiayaan, Jamkrindo juga bergerak di sisi lain. Perusahaan ini mendukung penuh arahan dari pemegang saham. Arahannya jelas: melakukan penyederhanaan atau streamlining pada klaster penjaminan konvensional dan syariah. Langkah ini dinilai penting. Tujuannya adalah membangun struktur industri yang lebih efisien, terintegrasi, dan optimal.

"Kami mendukung upaya penguatan struktur industri yang mempertimbangkan kelayakan bisnis, efektivitas operasional, pengelolaan risiko, serta keberlanjutan jangka panjang," ujar Abdul Bari. Ia menekankan bahwa penguatan kapasitas perusahaan harus berjalan seiring dengan peningkatan kontribusi bagi perekonomian. Semua ini, katanya, selaras dengan aspirasi pemegang saham. Tujuan Jamkrindo ke depan adalah menjadi perusahaan yang semakin feasible, sizeable, sustainable, dan bahkan menjadi pemain global.

Langkah penyederhanaan ini juga sejalan dengan peta jalan atau roadmap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) soal pemurnian industri penjaminan. Sebagai bagian dari penataan portofolio, Jamkrindo sedang mengkaji opsi terbaik. Salah satunya adalah rencana transfer portofolio bisnis penjaminan dari entitas non-penjaminan atau asuransi di lingkungan IFG (tahap I) kepada Jamkrindo.

"Langkah ini diharapkan dapat mengoptimalkan sinergi dan kapasitas industri agar semakin efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan," tegas Abdul Bari.

Dari dalam perusahaan, Jamkrindo mengandalkan transformasi yang disebut IMPACT. Kepanjangannya: Independence, Market, People, Agility, Competitiveness, and Technology. Transformasi ini mencakup beberapa hal. Mulai dari kemandirian insan penjaminan, perluasan pasar, penguatan kompetensi sumber daya manusia, peningkatan kelincahan (agility), penguatan daya saing, hingga optimalisasi digital dan ketahanan sistem teknologi.

"Dengan semangat menjamin lebih luas dan berdampak lebih nyata, kami berkomitmen untuk terus berkontribusi lebih besar dalam membangun industri penjaminan nasional yang efisien dan berdaya saing, sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi UMKM," pungkas Abdul Bari.

Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan bahwa Jamkrindo tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis semata. Mereka juga berupaya memperkuat fondasi internal dan struktur industri. Transformasi IMPACT dan dukungan terhadap arahan pemegang saham menjadi kunci. Tujuannya jelas: memperluas akses pembiayaan bagi UMKM dan memperkuat posisi industri penjaminan nasional.

JamkrindoUMKMpenjaminankinerjatransformasiIMPACT

Komentar

Memuat komentar...