Jasa Jastip Nyekar Surabaya Membantu Perantau Layanan
Gambar atau konten salah?
Di tengah riuh tradisi mudik dan ziarah Lebaran, tidak semua orang dapat pulang ke kampung halaman. Jarak, waktu, dan kondisi seringkali menjadi penghalang, sehingga rindu tak tersampaikan di pusara tetap bersemayam. Namun, dari keterbatasan itu lahirlah cara baru yang hangat dan penuh empati.
Seorang perempuan di Surabaya, Laifa Qodariyanti, memilih menjadi perpanjangan tangan bagi para perantau. Ia mengantarkan doa, merawat nisan, dan menjaga ikatan batin yang tak lekang oleh jarak. Layanan yang ia tawarkan dikenal dengan istilah jastip nyekar—jasa titip nyekar atau pengantaran ke makam.
1. Berangkat dari Kerinduan Anak Rantau
Laifa memulai jasa titip nyekar bukan semata mencari peluang, melainkan dari pengalaman pribadinya sebagai perantau yang tak bisa rutin mengunjungi makam sang ayah di Lampung. Perasaan kehilangan yang tertahan ia ubah menjadi bentuk empati bagi orang lain yang mengalami hal serupa. “Sebagai anak rantau, saya tidak bisa pulang ke Lampung dan nyekar ke makam ayah saya. Jadi saya merasa relate, makanya tertarik membuka jastip ini,” ungkap Laifa.
2. Terinspirasi dari Medsos Saat Ramadan
Ide jastip nyekar muncul secara spontan ketika Laifa melihat praktik serupa dilakukan oleh pengemudi ojek online. Ia mengaitkannya dengan momen Ramadan dan Lebaran yang identik dengan tradisi ziarah kubur. “Waktu itu saya lihat di media sosial ada ojol yang diminta tabur bunga di makam, terus langsung kepikiran, ini kan momen puasa dan Lebaran identik dengan tradisi nyekar. Saya pikir ini belum pernah ada, jadi aku coba saja buka jastip untuk perantau yang belum bisa pulang,” tuturnya.
3. Sempat Dikritik, Kini Fokus pada Esensi
Dalam perjalanannya, Laifa tak luput dari kritik yang menilai jasanya sebagai bentuk komersialisasi ibadah. Ia memilih menyikapinya dengan bijak tanpa kehilangan niat awalnya. Ia kemudian menyesuaikan konsep layanan dengan lebih menitikberatkan pada perawatan makam dan ketulusan doa, bukan pada aspek tambahan yang bersifat komersial. “Sekarang lebih fokus ke nyekar, tabur bunga, pembersihan area makam dan doa yang tulus aja, tidak saya jadikan tambahan berbayar,” tegasnya.
4. Layani Semua, Termasuk Non-Muslim
Laifa tidak membatasi layanan hanya untuk satu keyakinan. Ia tetap melayani permintaan dari non-Muslim dengan penyesuaian pada jenis layanan yang diberikan. Ia memahami batasan keyakinan masing-masing, sehingga layanan yang diberikan tetap menghormati perbedaan tanpa mengurangi nilai empati yang ia bawa. “Kalau yang non muslim hanya minta tabur bunga dan bersihkan rumput. Tidak minta didoakan. Soalnya kan kalau beda server nanti nggak masuk kan doanya,” jelas Laifa sedikit berkelakar.
5. Tantangan Mencari Makam yang Sulit Ditemukan
Dalam praktiknya, Laifa menghadapi tantangan teknis seperti menemukan makam dengan identitas yang sudah pudar. Ia harus berkoordinasi dengan penjaga makam untuk membantu proses pencarian, agar layanan yang diberikan tetap akurat dan sesuai permintaan pelanggan. “Yang DM lumayan banyak, tapi yang saya kerjakan baru belasan. Saya juga seleksi, misalnya kalau nama di batu nisan sudah tidak terlihat, kan susah dicari. Kalau nisannya masih terbaca dan aku masih kebingungan aku tanya ke juru kunci lokasi makamnya di mana,” katanya.
6. Jadi Solusi Rindu yang Lebih Terjangkau
Bagi Laifa, jasa ini bukan sekadar layanan, melainkan jembatan emosional bagi mereka yang ingin tetap terhubung dengan keluarga yang telah tiada tanpa harus pulang kampung. Dengan biaya yang relatif terjangkau, ia percaya jastip nyekar bisa menjadi alternatif bagi perantau untuk tetap menjaga tradisi sekaligus merawat makam dari kejauhan. “Memang doa bisa disampaikan di mana saja. Tapi alangkah lebih baik kalau makam tetap terawat. Kalau tidak bisa datang langsung, jastip nyekar bisa jadi solusi, apalagi biayanya lebih ekonomis dibandingkan pulang kampung,” pungkasnya.
Jasa ini menegaskan bahwa tradisi ziarah kubur tidak harus terikat pada kehadiran fisik. Dengan bantuan jasa titip nyekar, perantau dapat tetap mengucapkan doa, menabur bunga, dan merawat nisan tanpa harus menempuh perjalanan jauh. Layanan ini menonjolkan empati dan kepekaan terhadap kebutuhan emosional, sekaligus menjaga nilai spiritual yang melekat pada setiap tradisi. Dengan pendekatan yang sederhana namun tulus, Laifa menunjukkan bahwa solusi sederhana dapat mengisi kekosongan yang diakibatkan oleh keterbatasan waktu dan jarak.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Mihailo Perovic Tinggalkan Persebaya, Tak Lagi Pakai Seragam
Surabaya Pasang Pot Bunga di TPS Liar, Coba Hindari Sampah
Slamet Santoso Resmi Bergabung Sokol Pyrzyce, Klub Polandia
Delapan Kabupaten Jatim Siaga Darurat Kekeringan Surabaya
Persebaya Surabaya Resmi Berpisah dengan Mihailo Perovic
Santerra De Laponte: Tujuan Foto Keluarga di Pujon Malang
Berita Terbaru
Real Madrid Siap Tambah Bek: Konate, Dumfries, Mourinho
Pasangan Ganda Putri Raih Kemenangan di Indonesia Open 2026
Cisco Luncurkan Foundry Security Spec untuk Keamanan AI
PMDSU 2026: Beasiswa Magister‑Doktor Terbuka, Nambah Riset
BP3D Luncurkan Program Infrastruktur di Daerah Jauh
Menteri Keuangan: Rupiah Menurun, BI Jaga Stabilitas
