Jembatan Serayu Cepat Rampung, Perahu Tak Balik Modal
Gambar atau konten salah?
Perbaikan Jembatan Serayu di Kabupaten Banyumas ternyata selesai lebih cepat dari yang direncanakan. Akibatnya, para penyedia jasa perahu penyeberangan yang membantu warga menyeberang Sungai Serayu harus menghentikan operasional mereka lebih awal dari perkiraan.
Awalnya, proyek perbaikan jembatan ini ditargetkan rampung pada 30 Juli 2026. Namun, jembatan tersebut sudah bisa digunakan kembali pada Senin, 06 Juli 2026. Selama hampir tiga pekan penutupan total sejak 15 Juni 2026, perahu-perahu yang biasanya dipakai untuk mengangkut pasir beralih fungsi menjadi alat transportasi penyeberangan bagi masyarakat.
Layanan ini muncul dari inisiatif para pemilik perahu. Mereka ingin membantu warga yang enggan memutar lewat jalur Mandirancan-Papringan. Tapi ternyata, tidak semua penyedia jasa perahu itu mendapatkan untung.
Salah satu penyedia jasa penyeberangan dari kawasan Klenteng Banyumas, Kuat, mengaku belum sempat balik modal. Usahanya baru berjalan sekitar dua pekan. Kuat bersama rekan-rekannya menyewa dua perahu nelayan dari Cilacap untuk melayani penyeberangan.
Selain biaya sewa perahu harian, mereka juga mengeluarkan dana lebih dari Rp10 juta. Uang itu dipakai untuk membangun dek dan jalur turun kendaraan. "Perahunya sewa nelayan dari Cilacap, bayarnya harian. Untuk bikin dek sama jalur turun habis sekitar Rp 10 jutaan lebih. Perahunya ada dua," kata Kuat pada Selasa, 07 Juli 2026.
Ia mengaku awalnya mengira penutupan Jembatan Serayu akan berlangsung hingga akhir Juli, sesuai jadwal proyek. Tapi karena pekerjaan selesai lebih cepat, operasional penyeberangan pun ikut berakhir lebih dini. "Baru jalan dua minggu. Tahunya penutupan sampai akhir Juli, ternyata jembatan dibuka lebih cepat. Nggak balik modal," jelasnya.
Pekerja Perahu Dapat Rp 120 Ribu Per Hari
Sementara itu, seorang pekerja perahu penyeberangan bernama Ponco mengatakan para pekerja bisa mendapat Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per hari. Ia menegaskan bahwa pihak yang membantu menyeberangkan warga sebenarnya tidak semata-mata mengejar keuntungan. Fokus utama mereka adalah membantu mobilitas masyarakat yang terdampak penutupan jembatan.
"Daripada perahu nganggur tidak mengangkut pasir, akhirnya kami inisiatif membantu masyarakat untuk penyeberangan. Kami tidak memikirkan untung-rugi, yang penting masyarakat terbantu," kata Ponco.
Menurutnya, kawasan dermaga yang berada dekat Pasar Banyumas menjadi titik penyeberangan paling ramai. Setiap hari, pejalan kaki, pelajar, pedagang, hingga pengendara sepeda motor memanfaatkan jasa penyeberangan tersebut. Ponco bahkan ikut menjadi kuli panggul untuk membantu memindahkan barang bawaan penumpang dari perahu ke kendaraan.
"Di sini memang strategis, dekat pasar, alun-alun, angkutan umum juga ngetem di sini. Jadi ramai sekali," ujarnya.
Meski terlihat sederhana, penyediaan layanan penyeberangan membutuhkan modal yang tidak sedikit. Para pemilik perahu harus membuat rakit, jalur akses, hingga mengganti kayu baru demi menjamin keselamatan penumpang. "Modal tiap perahu beda-beda. Ada yang Rp 2 juta, Rp 3 juta sampai Rp 5 juta tergantung ukuran perahu. Yang penting konstruksinya kuat karena sekali jalan bisa mengangkut sampai 15 sepeda motor beserta penumpangnya," jelas Ponco.
Selama penutupan jembatan, ada tiga perahu yang beroperasi dari dermaga tersebut. Pendapatan kotor setiap harinya diperkirakan mencapai sekitar Rp5 juta. Tapi uang itu masih harus dipotong biaya operasional seperti bahan bakar, konsumsi, hingga upah pekerja. "Ada nakhoda, tukang tarik tambang, kernet. Pekerja rata-rata dapat Rp 100 ribu sampai Rp 120 ribu per hari. Kalau pemilik perahu ya istilahnya cuma balik modal, untungnya tipis," katanya.
Sebelum Jembatan Serayu kembali dibuka, para pengelola perahu bahkan menggelar syukuran dan selametan. Itu sebagai ungkapan rasa syukur karena operasional penyeberangan berjalan lancar tanpa kecelakaan. Kini seluruh perahu kembali difungsikan seperti semula untuk mengangkut pasir. "Mulai hari ini perahu dibongkar lagi, diperbaiki yang bocor atau lapuk. Besok sudah mulai angkut pasir lagi," ucap Ponco.
Jembatan Sungai Serayu yang menghubungkan Kecamatan Banyumas dan Kecamatan Kalibagor kembali dibuka untuk seluruh kendaraan mulai Senin, 06 Juli 2026 pukul 08.00 WIB. Pengerjaan jembatan selesai lebih cepat dari yang direncanakan. Semula, renovasi jembatan ditargetkan berlangsung selama 45 hari kalender sejak 15 Juni 2026. Namun pekerjaan berhasil dirampungkan lebih awal karena dilakukan tanpa henti selama 24 jam.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.2 Provinsi Jawa Tengah, Nandang Sungkono, mengatakan percepatan proyek dilakukan dengan sistem kerja penuh selama sehari semalam. "Selesai lebih cepat karena kita kerjakan 24 jam," kata Nandang pada Minggu, 05 Juli 2026.
Perbaikan Jembatan Serayu yang selesai lebih cepat membawa konsekuensi bagi para penyedia jasa perahu penyeberangan. Mereka yang sudah mengeluarkan modal untuk menyewa perahu dan membangun fasilitas harus menerima kenyataan bahwa usaha mereka berakhir lebih awal dari perkiraan. Meski ada yang belum balik modal, para pekerja dan pemilik perahu tetap bersyukur karena operasional berjalan lancar dan masyarakat terbantu selama masa penutupan jembatan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kecelakaan Kerja Lagi di PLTSa Solo, Tangan Patah
Tarif Parkir Rp10.000 di Simpang Lima, Dishub Panggil Juru Parkir
Hasil Ujian Mandiri Undip 2026 Diumumkan Hari Ini
Mortir Aktif Ditemukan di Rumah Warga Semarang
Pasar Johar Semarang Diserbu Pemburu Seragam Sekolah
Tabrak Lari di Brebes, Kaki Korban Putus dan Menyangkut di Pohon
Berita Terbaru
18 Tim OPD Trenggalek Bertanding di Turnamen Futsal
Nenek Buta Huruf di Jombang Terjerat Utang Rp 140 Juta
Merek Teh China Didenda Rp27 M Gegara Logo Mirip Louis Vuitton
Argentina vs Mesir di 16 Besar Piala Dunia
Martinez Sebut Ronaldo Ikon Sepak Bola Jelang Piala Dunia 2026
KBB Sambut Reaktivasi Bandara Husein 2026
Kecelakaan Kerja Lagi di PLTSa Solo, Tangan Patah
Argentina Vs Mesir: Messi Incar 8 Gol di Piala Dunia
