Jokowi Injak Kepala Kerbau, Tradisi Lampung Tuai Perdebatan

Rudi H. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Jokowi Injak Kepala Kerbau, Tradisi Lampung Tuai Perdebatan

Gambar atau konten salah?

Prosesi adat di Lampung pada Sabtu, 27 Juni 2026, memicu perdebatan. Presiden ke-7 Joko Widodo, atau Jokowi, menerima gelar 'Baginda Pemuka Bangsa' dari Kedatun Keagungan Lampung. Dalam upacara itu, Jokowi duduk di kursi dengan pakaian adat lengkap. Di depannya, ada kepala kerbau di atas karpet merah. Ia kemudian menginjak kepala kerbau tersebut.

Tokoh adat Lampung, Mawardi Rahma Harirama, yang bergelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur, menjelaskan bahwa prosesi pemberian gelar adat atau muakhi ini sudah berlangsung ribuan tahun. Ini adalah bagian dari falsafah budaya Lampung yang disebut piil pesenggiri. Falsafah itu mengedepankan nemui nyimah, atau silaturahmi. Mawardi mengatakan hal itu saat menjelaskan tradisi yang dijalani Jokowi.

Namun, Ketua DPP PSI, Bestari Barus, mengklaim Jokowi tidak tahu akan ada ritual injak kepala kerbau. Menurut Bestari, Jokowi diundang untuk menerima penghargaan adat. Ia datang untuk menghormati undangan para tokoh dewan adat. Bestari menyampaikan hal ini kepada wartawan pada Jumat, 3 Juli 2026. "Ya, sebetulnya, itu kan kehadiran Pak Jokowi diundang untuk diberikan penghargaan adat setempat ya kan. Dengan gelar Baginda Pemuka Rakyat. Itu kan bukan juga Pak Jokowi yang menentukan harus jadi apa, beliau datang menghormati undangan para tokoh, tokoh dewan adat gitulah," kata Bestari.

Bestari menambahkan bahwa Jokowi mengaku kaget. Ia tidak tahu ada kepala kerbau di panggung. Jokowi bahkan sempat bergumam, "Wah, saya ndak tahu kalau ada kepala itu, kerbau." Begitu naik panggung, Jokowi melihat kepala kerbau dan disuruh duduk di depannya. Bestari mengatakan Jokowi sempat bergumam lagi, "Wah ini nanti ramai ini." Ketika diminta menjejakkan kaki di atas kepala kerbau, Jokowi berkata, "Waduh ini lebih ramai lagi nanti ini." Bestari menegaskan Jokowi sama sekali tidak tahu prosesi itu. Ia hanya ikut sebagai tanda penghargaan dari masyarakat Lampung.

Bestari juga menyerahkan penilaian kepada masyarakat. Ia menegaskan Jokowi tidak sedang main peran seperti sinetron. "Ya biarlah nanti masyarakat yang memberi penilaian, yang jelas Pak Jokowi tidak sedang main sinetron di situ, tapi sesuai dengan apa yang diarahkan para tetua adat setempat itu, gitu," kata dia. Jokowi menjalani upacara semata untuk menghormati ritual adat Lampung. Bestari mengulangi bahwa Jokowi tidak menyangka akan ada prosesi seperti itu, tetapi tidak menolak karena menghormati adat istiadat setempat.

Pendapat berbeda datang dari Ketua DPP PDIP, Deddy Sitorus. Ia menganggap klaim Jokowi tidak tahu itu tidak masuk akal. Deddy bahkan mendapat kabar bahwa Jokowi menjadi ketua panitia acara adat tersebut. "Jokowi mau injak kepala kerbau atau kepala ular ya silakan saja, nggak ada hubungan dengan kita. Yang saya dengar, Jokowi jadi ketua panitia kegiatan itu," kata Deddy kepada wartawan pada Jumat, 3 Juli 2026. "Sehingga sangat tidak masuk akal dan mungkin berbohong kalau dia bilang tidak tahu akan ada drama sinetron soal injak-menginjak itu. Bagi kami, terserahlah Jokowi mau lakukan apa saja untuk mencapai tujuannya, kita nggak ambil pusing," imbuh Deddy.

Anggota Komisi II DPR itu juga menyebut cerita yang beredar di publik bahwa Jokowi sendiri yang membuat dan memviralkan acara tersebut. Deddy menilai Jokowi melakukan hal itu agar namanya terus diperbincangkan. "Ini ceritanya, dia yang buat, dia yang waswas, dan dia pula yang viralkan. Bagi kami, itu cuma dagelan lucu-lucuan agar publik terus membicarakan dia," sambungnya.

Sementara itu, tokoh adat Lampung Pepadun, Suttan Seghayo Dipuncak Nur, Mawardi Harirama, memberikan penjelasan lebih dalam. Prosesi menginjak kepala kerbau merupakan bagian dari rangkaian adat Begawi Cakak Pepadun atau Munggah Bumi. Ritual ini diwariskan secara turun-temurun. Makna filosofisnya adalah simbol menghilangkan sifat-sifat buruk dalam diri manusia. Mawardi meminta masyarakat tidak mengaitkan prosesi adat ini dengan kepentingan politik. "Menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau untuk menghilangkan sifat-sifat binatang dalam diri, seperti sifat sombong, iri dengki, tamak, dan sifat buruk lainnya. Jadi tidak ada hubungan dengan politik," kata Mawardi pada Senin, 29 Juni 2026.

Perbedaan reaksi ini menunjukkan betapa sensitifnya simbol adat di ruang publik. Jokowi, yang saat itu sedang dalam safari politik di Lampung, mungkin tidak menduga ritual itu akan menjadi perdebatan nasional. Klaim PSI bahwa Jokowi tidak tahu berhadapan langsung dengan tuduhan PDIP bahwa ia justru menjadi penggerak acara. Fakta bahwa tokoh adat sendiri menegaskan ritual itu sudah berlangsung ribuan tahun dan tidak terkait politik—serta permintaan agar tidak dipolitisasi—seolah terabaikan oleh kedua kubu.

Intinya, peristiwa ini memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi adat bisa tertangkap dalam pusaran politik elektoral. Jokowi, yang sudah lama meninggalkan jabatan presiden, tetap menjadi pusat perhatian. Ritual adat yang seharusnya menjadi simbol pemurnian diri, malah menjadi alat kontestasi narasi antara pendukung dan lawan.

prosesi adat LampungJokowigelar Baginda Pemuka Bangsainjak kepala kerbaufalsafah piil pesenggirikontroversi politikritual Begawi Cakak Pepadun

Komentar

Memuat komentar...