Kaki Lima Festival 2026 di Leuven perkenalkan Indonesia ke Eropa

Wahyu T. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Kaki Lima Festival 2026 di Leuven perkenalkan Indonesia ke Eropa

Gambar atau konten salah?

Kaki Lima Festival 2026 baru saja berlangsung di kota Leuven, Belgia. Acara ini bukan sekadar festival biasa—ini adalah upaya untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Eropa lewat budaya, seni, dan produk-produk kreatif buatan anak bangsa.

Festival yang digelar di HAL5 Leuven ini merupakan hasil kerja sama antara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Belgia, Native Indonesia, PPI Belgia, Commpassion id, dan Quindo. Tahun ini menandai edisi keempat penyelenggaraannya. Sejak awal, acara ini memang dirancang sebagai ruang pertemuan budaya—tempat di mana orang Belgia dan warga Eropa lainnya bisa melihat langsung seperti apa Indonesia lewat makanan, pakaian, tarian, dan kerajinan tangan.

Yang hadir di festival ini bukan hanya pengunjung biasa. Ada Duta Besar Republik Indonesia untuk Belgia, Andy Rachmianto, yang datang. Wali Kota Leuven, Mohamed Ridouani, juga hadir. Co-Founder Native Indonesia, Indah Virginia, ikut meramaikan acara bersama warga lokal Belgia yang penasaran dengan Indonesia.

Indah Virginia mengatakan dalam sambutannya, "Kami sangat bersyukur melihat semakin banyak masyarakat internasional yang tertarik mengenal Indonesia melalui cerita, tradisi, kuliner, dan kreativitasnya. Rasa ingin tahu itu menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai latar belakang dan menciptakan ruang yang inklusif bagi semua."

Sepanjang festival, pengunjung bisa menikmati berbagai pengalaman. Ada pertunjukan seni tradisional. Ada workshop budaya. Ada sesi berkain—di mana orang diajari cara memakai kain tradisional Indonesia. Dan tentu saja, ada kuliner serta produk kreatif asli Indonesia yang dipamerkan.

Satu momen yang paling menarik perhatian adalah saat para pengunjung—yang sebagian besar adalah warga lokal Belgia—diajak menari tari Bali di atas panggung. Mereka terlihat sangat menikmati. Semua seni pertunjukan yang ditampilkan di atas panggung mendapat sambutan hangat. Pendekatan interaktif semacam ini memang jadi salah satu kekuatan utama festival. Bukan sekadar menonton, tapi mereka ikut terlibat langsung.

Dari sisi produk ekonomi kreatif, ada satu program yang menonjol: Berkain. Program ini digagas oleh Dekranasda Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Di festival ini, mereka memperkenalkan kain Sasirangan—salah satu warisan wastra Indonesia yang punya nilai budaya dan sejarah yang kaya. Antusiasme pengunjung menunjukkan bahwa produk ekonomi kreatif Indonesia bisa dikemas secara modern dan tetap diterima oleh audiens dari berbagai negara.

Momentum dari festival ini tidak berhenti di sini. Rencananya, akan ada Indonesia Creative Week Belgium (ICWB) 2026 yang dijadwalkan pada Oktober mendatang. Lewat program itu, ICWB diharapkan bisa menjadi ajang promosi budaya Indonesia di Eropa. Lebih dari itu, acara ini juga diharapkan membuka peluang kolaborasi yang berkelanjutan, memperluas akses pasar global, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia.

Festival Kaki Lima di Leuven ini menunjukkan satu hal sederhana: orang Eropa ternyata tertarik pada Indonesia. Bukan hanya karena eksotismenya, tapi karena mereka bisa melihat, menyentuh, dan merasakan langsung apa yang ditawarkan. Dari tarian di atas panggung hingga kain Sasirangan yang diperkenalkan, semuanya jadi bukti bahwa diplomasi budaya bisa berjalan dengan cara yang santai tapi tetap berdampak.

KBRI BelgiaFestival Kaki Limabudaya Indonesiaekonomi kreatifkain Sasirangandiplomasi budayatari Bali

Komentar

Memuat komentar...