Kabut Asap Batalkan 1.700 Penerbangan di Indonesia
Gambar atau konten salah?
Kementerian Perhubungan melaporkan bahwa kebakaran hutan dan lahan telah mengganggu ribuan penerbangan di Indonesia. Tepatnya, sejak 14 Agustus hingga 25 Oktober 2026, sebanyak 3.030 penerbangan terkena dampak kabut asap. Dari total 154 rute yang terdampak, sekitar 1.700 penerbangan—atau 56 persen—terpaksa dibatalkan.
Lukman F Laisa, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, menyampaikan data ini dalam sebuah pertemuan media di Jakarta Pusat pada Senin, 26 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa pihaknya sudah menerbitkan dua surat edaran. Pertama, Surat Edaran Nomor SE-MHB 4 Tahun 2026 tentang peningkatan kewaspadaan terhadap bahaya karhutla. Kedua, Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SE-DJPU 19 Tahun 2026 tentang mitigasi risiko dampak kebakaran terhadap operasional penerbangan. Kedua aturan ini sudah disosialisasikan ke berbagai pihak, termasuk badan usaha angkutan udara.
"Dari 78 bandara itu ada 3.000 sejak tanggal 14 Agustus sampai 25 Oktober 3.030 penerbangan terdampak. Ada 154 rute, 56% dibatalkan. Sekitar 1.700 penerbangan itu dibatalkan," kata Lukman.
Rute penerbangan yang paling parah terkena dampak berada di Kalimantan. Kota-kota seperti Pontianak, Singkawang, Palangkaraya, dan Pangkalan Bun mendominasi daftar tersebut. Bukan hanya penerbangan komersial, penerbangan perintis juga ikut terganggu.
Dalam periode yang sama, Kemenhub mencatat ada 617 penerbangan perintis yang bermasalah. Rinciannya: 431 rute dari maskapai Susi Air, 154 rute dari Smart Aviation, 20 rute dari Asian One Air, dan 12 rute dari PT Amal. "Itu Susi Air itu 431 terdampak, Smart Cakrawala 154, Asian One Air 20, dan PT Amal 12. Itu total itu ada 617 penerbangan perintis juga. Itu paling banyak di daerah Papua, kemudian Kalimantan dan juga Maluku," tambah Lukman.
Lukman memastikan penerbangan internasional belum terkena dampak signifikan. Bandara Internasional Soekarno-Hatta masih aman untuk aktivitas lepas landas dan mendarat. Yang jadi kekhawatiran utama adalah bandara-bandara di Kalimantan yang fasilitas alat bantu pendaratannya—seperti Instrument Landing System (ILS)—masih terbatas dan belum berkategori tinggi. "Sejauh ini enggak, karena di Jakarta kan bisa take off, landing. Bandara-bandara kan yang dikhawatirkan itu adalah bandara-bandara yang di Kalimantan, apalagi yang belum punya alat instrumen landing system," ujarnya.
Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap penerbangan sangat nyata, terutama di wilayah yang infrastruktur bandaranya belum lengkap. Lebih dari separuh rute yang terdampak akhirnya dibatalkan, dan penerbangan perintis—yang sering menjadi tulang punggung transportasi di daerah terpencil—juga tidak luput dari gangguan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
