Kadin: Fundamental Ekonomi RI Masih Kuat

Rizki W. · 2 min baca · 1 jam lalu · 19 dibaca
Bisik.id
Kadin: Fundamental Ekonomi RI Masih Kuat

Gambar atau konten salah?

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, angkat bicara soal kekhawatiran banyak pihak terhadap kondisi ekonomi tanah air. Belakangan, banyak pertanyaan datang ke Kadin—apakah Indonesia sedang menuju krisis?

Menurut Anindya, cara terbaik menjawabnya adalah dengan melihat fundamental ekonomi nasional. Ia membandingkan situasi sekarang dengan masa-masa sulit sebelumnya. Pada krisis 1998, ekonomi Indonesia minus 13 persen. Saat pandemi COVID-19 melanda di 2020, minus 2,1 persen. Kini, pertumbuhan ekonomi berada di angka plus 5,1 persen.

"Banyak yang menanyakan kepada kami, apakah Indonesia diambang krisis? Menurut kami lebih baik kita melihat ke fundamental saja," ujar Anindya dalam sambutannya di Rapimnas Kadin Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Ia menambahkan, berdasarkan data fundamental tersebut, pihaknya bisa menyampaikan bahwa kondisi ekonomi Indonesia cukup kuat. Bukan berarti tidak ada masalah. Tapi melihat angka-angka dasar, posisi Indonesia masih kokoh.

Hal yang sama, kata Anindya, berlaku untuk pasar modal dan keuangan. Memang ada tekanan. Arus modal asing yang keluar mencapai Rp 124 triliun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah hingga 40 persen. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh Rp 18.170 per dolar AS.

Tapi lagi-lagi, Anindya meminta publik melihat fundamental. Penanaman Modal Asing (PMA) saat ini tercatat Rp 270 triliun. Rata-rata laba bersih emiten tumbuh 16 persen. Cadangan devisa mencapai US$ 146 miliar. Pertumbuhan kredit secara tahunan berada di angka 13,3 persen.

"Kita tidak mengatakan yang sebelah kiri tidak ada, ada. Dan musti diwaspadai. Tapi kembali ke fundamental dan saya rasa itu yang paling tepat supaya kita tidak terpengaruh dari hingar-bingar," tegasnya.

Anindya juga mengakui ekonomi global sedang tidak mudah. Banyak negara besar mulai menyiapkan cadangan darurat. Amerika Serikat, misalnya, membangun cadangan bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah Inggris bahkan mengimbau warganya menyiapkan kebutuhan mandiri selama 72 jam untuk menghadapi situasi darurat.

Di tengah ketidakpastian global, Indonesia menurut Anindya terus memperkuat kemandirian. Fokusnya ada pada sektor pangan, air, dan energi. Ini adalah langkah antisipatif yang dinilai penting.

"Jadi bisa kita bilang, di tahun 2025 mengatakan Indonesia adalah bright spot. Ini disampaikan bukan oleh kita tapi oleh IMF. Dan saya sampaikan di sini, Indonesia continues the bright spot. Kenapa? Karena kita resilient atau mempunyai daya tahan berdasarkan data dan juga daya tahan berdasarkan alam yang diberikan," pungkasnya.

Pernyataan Anindya ini muncul di tengah kekhawatiran sejumlah pihak terhadap arah ekonomi Indonesia. Dengan membandingkan data fundamental dari masa krisis sebelumnya, ia ingin menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di jalur yang positif. Tekanan di pasar modal dan nilai tukar memang nyata, tapi fundamental ekonomi seperti PMA, laba emiten, dan cadangan devisa menunjukkan ketahanan. Di level global, ketidakpastian memang tinggi, dan Indonesia meresponsnya dengan memperkuat kemandirian di sektor-sektor strategis.

ekonomi Indonesiafundamental ekonomiKadinpertumbuhan ekonomiPMAcadangan devisakemandirian pangan

Komentar

Memuat komentar...