Kamar Dagang Hangzhou Resmi Hadir di Indonesia
Gambar atau konten salah?
Kamar Dagang Hangzhou resmi hadir di Indonesia. Peresmiannya dilakukan pada Kamis, 05 November 2026, bertepatan dengan acara Business Gathering yang mempertemukan pengusaha asal Hangzhou, China, dengan para pemangku kepentingan strategis di Indonesia.
Acara Business Gathering ini digagas oleh PT Halimun Reka Mandiri. Perusahaan nasional ini fokus pada kemitraan bisnis dengan China dan bergerak di berbagai bidang, seperti industri berbasis teknologi, industri pertahanan, manufaktur, perdagangan, investasi, pelayaran, pertambangan, serta horeka.
Ye Daifeng, Presiden Perhimpunan Pengusaha Hangzhou di Indonesia, mengatakan bahwa perkumpulan ini dibentuk sebagai jembatan strategis. Tujuannya menghubungkan potensi industri dan semangat kewirausahaan kota Hangzhou dengan pasar Indonesia. Langkah ini menegaskan posisi Jakarta sebagai pintu gerbang investasi nasional dan Hangzhou sebagai pusat inovasi, teknologi, serta industri maju di China.
"Hangzhou adalah kota yang memiliki semangat inovasi luar biasa. Kami ingin menghubungkan keunggulan teknologi, industri, dan kewirausahaan Hangzhou dengan potensi sumber daya serta pasar Indonesia. Kepatuhan terhadap hukum di Indonesia bukanlah hambatan, melainkan pondasi paling kokoh bagi keberlanjutan bisnis," tegas Ye Daifeng dalam acara Business Gathering Indonesia-Hangzhou Chambers of Commerce di Jakarta Pusat pada Kamis, 05 November 2026.
Menurut Ye Daifeng, kehadiran Kamar Dagang Hangzhou di Indonesia bukan sekadar simbolis. Ini adalah jembatan resmi yang menghubungkan ekosistem bisnis kedua negara secara langsung.
Kamar Dagang Hangzhou di Indonesia bisa membuka akses pasar. Ini mempermudah pelaku usaha Indonesia untuk menembus pasar dan menjalin kemitraan strategis di Hangzhou serta wilayah China bagian selatan.
Kamar Dagang Hangzhou juga bisa menjadi sumber transfer teknologi. Organisasi ini mendorong pertukaran pengetahuan, teknologi canggih, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal.
Selanjutnya, perkumpulan ini mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kedua negara. Mereka mendorong alokasi investasi produktif yang berpotensi membuka lapangan kerja baru di berbagai sektor industri.
Kamar Dagang Hangzhou juga menjadi jembatan dalam hal perizinan bagi kedua negara. Baik untuk kemudahan prosedur investasi maupun exit permit bagi talent yang berkepentingan. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah siap memfasilitasi kemudahan berinvestasi serta kemitraan bisnis secara transparan dan adil.
"Harapan kami adalah agar semangat dan nilai-nilai kewirausahaan Hangzhou dapat berakar kuat di bumi Indonesia, tumbuh berkembang, dan pada akhirnya menghasilkan manfaat serta keberhasilan yang nyata bagi kedua belah pihak," ujar Ye Daifeng.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Lembaga Kerja Sama Ekonomi, Sosial, dan Budaya Indonesia-China, Sudrajat, menyambut positif peresmian perkumpulan pengusaha asal ibu kota Provinsi Zhejiang tersebut.
Sudrajat mengungkapkan bahwa organisasi yang dipimpinnya telah berdiri sejak diinisiasi pada tahun 1980 dan resmi dilantik pada tahun 1987. Ia merupakan pemimpin kedua setelah Wakil Presiden periode 1988-1993 Sudharmono, yang kala itu menjabat sebagai Ketua Kadin.
Menurut Sudrajat, pada tahun 1980 Indonesia dan Tiongkok sempat mengalami pemutusan hubungan diplomatik sejak tahun 1967 akibat peristiwa G30S/PKI. Di tengah kebuntuan politik tersebut, inisiatif diplomasi dagang mulai digagas.
"Waktu itu Pak Sudharmono melapor kepada Presiden Soeharto, 'Pak, kita sudah lama tidak ada hubungan dengan Tiongkok sejak tahun 1967, bagaimana kalau kita mulai buka dagang saja?'," kata Sudrajat menceritakan kembali sejarah tersebut.
Sudrajat menambahkan, dari fondasi sejarah perdagangan yang dirintis di masa lalu, kerja sama bilateral kedua negara kini telah berkembang pesat dan mencapai level yang jauh lebih modern.
Jika pada masa-masa awal volume perdagangan hanya berkisar pada angka belasan miliar dolar, kini nilai perdagangan Indonesia-Tiongkok telah menembus angka US$ 168 miliar dan terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.
"Jika dulu di tahun 2006 perdagangan kita masih berada di angka belasan miliar dolar, kini nilainya telah menembus US$ 168 miliar. Angka ini kami targetkan dapat segera mencapai US$ 200 miliar," ujarnya.
Lebih lanjut, Sudrajat menekankan pentingnya peran Hangzhou sebagai pusat ekonomi digital dan inovasi teknologi China. Kehadiran perhimpunan ini diharapkan tidak hanya mendorong investasi sektor riil dan UMKM, tetapi juga memperkuat kolaborasi di bidang ekonomi digital (digital intelligence economy), transfer teknologi, serta program beasiswa pendidikan bagi generasi muda kedua negara.
"Menjadi motor penggerak untuk menciptakan lapangan kerja, transfer teknologi, UMKM yang tentu bukan hanya dagang bakso dan segala macam, tapi UMKM yang membuat karburator mobil, yang membuat PCB telepon, dan segala macamnya. Baik UMKM di Indonesia yang bisa go digital, belajar dari Hangzhou, maupun UMKM Tiongkok yang bisa tumbuh bersama di Indonesia," tegas Sudrajat.
Peresmian Kamar Dagang Hangzhou di Indonesia menandai langkah baru dalam hubungan bisnis kedua negara. Hangzhou dikenal sebagai pusat inovasi dan teknologi di China, sementara Indonesia menawarkan pasar yang besar dan sumber daya alam yang melimpah. Kerja sama ini diharapkan bisa saling menguntungkan, terutama dalam transfer teknologi dan pengembangan UMKM. Nilai perdagangan Indonesia-Tiongkok yang sudah mencapai US$ 168 miliar menunjukkan betapa eratnya hubungan ekonomi kedua negara, dan target US$ 200 miliar menjadi ambisi yang ingin dicapai bersama.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pinjol Tembus Rp 106 Triliun, Kredit Macet 5,36%
Investor Pasar Modal Tembus 33,55 Juta di Oktober 2026
26 Perusahaan Antre IPO, Target Dana Rp24 Triliun
OJK Desak MNC Bank Segera Selesaikan Keluhan Nasabah
IHSG Ditutup Hijau di 5.030, Naik 2,25 Persen
Aset Asuransi Tembus Rp1.192 Triliun per September 2026
