Kasus Gagal Ginjal Malaysia Naik, Biaya 11 Triliun Rupiah

Sigit W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 52 dibaca
Bisik.id
Kasus Gagal Ginjal Malaysia Naik, Biaya 11 Triliun Rupiah

Gambar atau konten salah?

Malaysia kini menjadi sorotan karena lonjakan kasus gagal ginjal. Biaya layanan kesehatan untuk penyakit ini melonjak menjadi RM 3,3 miliar atau Rp 11 triliun, dibandingkan RM 572 juta pada 01 Januari 2010 atau lebih dari Rp 1 triliun.

Menteri Kesehatan, Datuk Seri Dr Dzulkefly Ahmad, mengungkapkan bahwa lebih dari lima juta orang di Malaysia menghadapi kondisi tersebut. Prevalensi penyakit ginjal kronis naik dari 9 % pada 01 Januari 2011 menjadi 15,5 % pada 01 Januari 2025.

Menurutnya, kebanyakan pemicu gagal ginjal terkait komplikasi diabetes. Pemerintah menambah cukai minuman manis untuk menekan konsumsi gula tinggi.

Pajak tersebut menghasilkan pendapatan sebesar RM 54,9 juta atau Rp 186 miliar tahun lalu, dengan RM 21 juta atau Rp 71,4 miliar dialokasikan kembali ke kementerian kesehatan.

"Setiap hari, 28 warga Malaysia didiagnosis mengalami gagal ginjal dan harus memulai pengobatan dialisis," kata Dr Dzulkefly, dikutip dari media lokal.

Ia memperingatkan bahwa penyakit ini tidak hanya memengaruhi kualitas hidup, tetapi juga memberikan tekanan finansial besar bagi negara. "Jika kita gagal bertindak tegas sekarang, lebih dari 106.000 warga Malaysia akan membutuhkan perawatan dialisis pada 01 Januari 2040," tambahnya.

Uang dari cukai minuman manis juga digunakan untuk membiayai obat Sodium‑Glucose Transport Protein 2 (SGLT2) inhibitor, kelompok obat yang terbukti membantu mengobati diabetes serta mengurangi risiko komplikasi penyakit ginjal.

Kementerian juga mendorong kebijakan peritoneal dialysis first, yaitu mengutamakan pasien yang memenuhi syarat untuk menjalani dialisis di rumah. Pendekatan ini bertujuan mengurangi kepadatan di pusat perawatan, menekan biaya kesehatan, serta meningkatkan kualitas hidup pasien.

Pada 01 Januari 2025, kementerian mengalokasikan RM 40 juta untuk dialisis peritoneal, dengan tingkat penggunaan meningkat menjadi 42 % pasien di fasilitas kesehatan publik, dibandingkan 36,6 % pada 01 Januari 2020.

Kasus gagal ginjal di Malaysia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Kebijakan cukai minuman manis dan alokasi dana untuk perawatan dialisis di rumah menjadi langkah penting dalam mengurangi beban finansial dan meningkatkan akses perawatan bagi pasien.

Malaysiagagal ginjalbiaya kesehatandiabetescukai minuman manisdialisisSGLT2 inhibitordialisis peritoneal

Komentar

Memuat komentar...