Kemenkes Tegaskan Pendekatan Holistik Bagi Jemaah Haji 2026

Rudi H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 58 dibaca
Bisik.id
Kemenkes Tegaskan Pendekatan Holistik Bagi Jemaah Haji 2026

Gambar atau konten salah?

Kementerian Kesehatan RI menegaskan perlunya pendekatan holistik bagi jemaah haji agar dapat beribadah dengan tenang. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi menegaskan bahwa Hajj 2026 akan menjadi salah satu perhelatan spiritual terbesar, dengan 1,8 juta jamaah dari seluruh dunia, termasuk 221 ribu jamaah asal Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sekitar 11 ribu adalah lansia yang menghadapi tantangan lebih berat, baik secara fisik maupun mental. “Ibadah haji adalah puncak spiritual umat Islam, namun di balik makna religius yang mendalam, perjalanan ini juga membawa tantangan besar bagi kesehatan jiwa,” ujarnya pada 24 Juni 2026.

Perubahan lingkungan, kepadatan jutaan jamaah, serta tekanan fisik dan emosional dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan mental,” sambung Imran. Menurut laporan Kemenkes, sebanyak 10‑15% jamaah membutuhkan perhatian khusus terkait kesehatan jiwa, sementara 30‑40% mengalami gangguan tidur akibat perubahan ritme sirkadian dan aktivitas ibadah yang padat.

Data dari Balai Pengobatan Haji Indonesia menunjukkan lansia adalah kelompok paling rentan, dengan 80% pasien gangguan jiwa yang dirawat menunjukkan gejala demensia. Imran menyoroti cuaca di Makkah saat ini mencapai rata‑rata 35‑38 derajat Celsius, dengan kelembapan rendah. Kondisi ini dapat memicu dehidrasi, kelelahan, dan gangguan tidur.

Selain itu, aturan baru dari Arab Saudi yang lebih ketat terkait visa, akses ke Makkah, hingga penggunaan aplikasi digital Nusuk menambah tekanan psikologis. Terutama bagi jamaah yang kurang terbiasa dengan teknologi atau khawatir akan sanksi berat jika melanggar.

Pelaksanaan tawaf dan sa'i yang intens juga dapat menimbulkan kelelahan emosional, sementara masa kepulangan menuntut adaptasi ulang setelah pengalaman spiritual yang intens. Faktor lainnya, seperti perbedaan budaya, keterbatasan fasilitas, dan interaksi dalam kerumunan besar juga dapat menimbulkan rasa frustrasi dan isolasi.

“Semua ini menunjukkan bahwa persiapan mental dan penataan ekspektasi menjadi sama pentingnya dengan persiapan fisik, agar jamaah mampu menerima dinamika ibadah dengan tenang dan tidak terbebani harapan yang terlalu tinggi,” terang Imran.

Untuk menghadapinya, diperlukan pendekatan holistik. Konseling pra‑keberangkatan yang menyertakan pelatihan manajemen stres, pengaturan jadwal ibadah dengan waktu istirahat yang cukup, serta perhatian pada hidrasi serta nutrisi menjadi strategi utama. “Petugas kesehatan haji kini dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi serius,” tutupnya.

Kesimpulannya, persiapan mental yang matang, didukung oleh layanan kesehatan khusus, menjadi kunci bagi jemaah haji untuk menjalani ibadah dengan damai dan aman, mengingat tantangan fisik, emosional, dan lingkungan yang kompleks.

Kementerian Kesehatan RIHaji 2026Kesehatan JiwaLansiaStresDehidrasiKonseling Pra-berangkat

Komentar

Memuat komentar...