Klungkung Sambut Galungan: Barong Ngelawang di Tugu Monumen

Putri N. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Klungkung Sambut Galungan: Barong Ngelawang di Tugu Monumen

Gambar atau konten salah?

Di Kabupaten Klungkung, Bali, suasana Hari Raya Galungan semakin hidup berkat tradisi ngelawang. Anak‑anak di sekitar Tugu Monumen Puputan Ida Dewa Agung Jambe dan Alun‑Alun Ida Dewa Agung Jambe menampilkan pementasan seni sakral yang menawan.

Di sore hari 18 Juni 2026, beberapa kelompok kesenian anak‑anak—yang disebut sekaa—mulai memerankan barong. Mereka menari dan menampilkan barong berkepala babi, baik bangkung maupun bangkal, di tengah keramaian warga yang datang menonton. Suasana menjadi riuh, namun tetap teratur.

Salah satu pemain barong, I Made Malvin Dani Suara, yang kini duduk di bangku kelas VI SDN 1 Semarapura Kangin, mengungkapkan, “Sudah ngelawang sejak hari raya Galungan kemarin.” Ia berasal dari kelompok kesenian (sekaa) Bangkal Siwa, Desa Besang Kangin, Kecamatan Klungkung, Klungkung, Bali.

Malvin menjelaskan, “Ini yang kami mainkan Barong Bangkal. Barong bangkal adalah babi jantan. Sedangkan barong bangkung babi betina. Lebih kecil ukurannya.” Ia menambahkan bahwa tradisi ngelawang sudah ia jalankan sejak dua tahun lalu, dan ia telah memerankan barong pada tiga kali Galungan dan Kuningan.

Tradisi ini tidak hanya dimulai pada hari Manis Galungan, sehari setelah Galungan, melainkan sudah menarik perhatian sejak 17 Juni 2026 malam, tepat pada Hari Raya Galungan. Malvin berkata, “Kami mulai ngelawang dari malam Galungan kemarin untuk menghibur warga yang sedang berkumpul bersama keluarga. Respon masyarakat sangat luar biasa, makanya sore ini kami lanjut pusatkan di area monumen. Ada juga yang main di alun‑alun.”

Selama pertunjukan, penonton—terutama anak‑anak—suka memberikan punia, uang sumbangan, ke dalam mulut barong. Malvin melaporkan, “Ada yang ngasih Rp 5 ribu, ada juga yang ngasih Rp 10 ribu.”

Seorang warga Klungkung, I Nengah Sugiarta, menjelaskan makna di balik ngelawang. Ia menyebut, “Ngelawang merupakan rangkaian utama dari perayaan Galungan. Secara filosofis, barong yang menyerupai babi hutan ini dipercaya berfungsi sebagai penolak bala (bala patra). Kehadiran barong yang mengitari pusat kota Klungkung ini diharapkan mampu menetralisir energi negatif serta membawa keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.”

Ia menambahkan, “Kalau dulu barong ini akan masuk ke rumah‑rumah warga. Sesuai dari arti ngelawang yang berasal dari kata 'lawang' yang berarti pintu. Sekarang di beberapa desa masih ada yang masuk ke rumah‑rumah. Tapi lebih banyak dipusatkan di monumen dan alun‑alun kota.”

Dengan penampilan barong yang memikat, klungkung menampilkan kembali warisan budaya yang kaya. Tradisi ngelawang tidak hanya menjadi hiburan, melainkan juga simbol kepercayaan dan kebersamaan masyarakat setempat. Kehadiran barong di ruang publik menegaskan pentingnya menjaga nilai‑nilai leluhur dalam kehidupan modern.

GalunganNgelawangBarongKlungkungBaliTradisi budayaBarong Bangkal

Komentar

Memuat komentar...