Komalasari, 50 Tahun, Jaga Palang Pintu Perlintasan Tanpa Gaji

Cahyo S. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 52 dibaca
Bisik.id
Komalasari, 50 Tahun, Jaga Palang Pintu Perlintasan Tanpa Gaji

Gambar atau konten salah?

Di tengah matahari yang menyengat, debu jalanan menari di udara, berbaur dengan deru mesin kendaraan yang tak henti melintas. Meski begitu, kehidupan di sekitar perlintasan tetap berjalan. Di antara keramaian itu, Komalasari, seorang perempuan berusia 50 tahun, terlihat sibuk menjemur gabah padi di tepi perlintasan kereta api yang menghubungkan Cileunyi Wetan dan Rancaekek Wetan, Kabupaten Bandung.

Di balik aktivitas sehari-harinya, Komalasari menanggung tanggung jawab besar. Ia adalah penjaga palang pintu perlintasan swadaya, yang setiap saat harus sigap demi keselamatan pengguna jalan. Ketika tanda kereta akan melintas muncul—baik dari suara sirene, lampu peringatan, maupun isyarat dari arah Stasiun Rancaekek—Komalasari langsung bergegas meninggalkan jemuran gabahnya. Ia menurunkan palang besi sederhana yang menjadi satu‑satunya pengaman di perlintasan tersebut.

Setelah kereta melintas, palang kembali diangkat, memberi jalan bagi kendaraan dan warga yang menunggu. Rutinitas ini ia lakukan berulang kali setiap hari, di sela aktivitasnya sebagai petani. Sesekali, ia tampak beristirahat di sebuah pos sederhana yang dibangun warga, melepas lelah sebelum kembali siaga.

Menjaga perlintasan bukan perkara ringan. Komalasari menyadari bahwa kelengahan sedikit saja bisa berujung pada hilangnya nyawa. Karena itu, warga yang melintas seringkali memberikan uang seikhlasnya, dimasukkan ke dalam ember yang diletakkan di dekat palang sebagai bentuk apresiasi.

Palang pintu itu sendiri bukan hal baru bagi keluarganya. Sebelum Komalasari, tugas tersebut telah lama dijalankan oleh sang ibu, Onoh, berusia 70 tahun, yang hingga kini masih ikut menjaga secara bergantian. “Saya menjaga palang pintu baru tiga tahun, yang lebih lama Ibu saya yang bernama Mamah Onoh, lebih dari 10 tahun jaga,” ujar Komalasari, saat ditemui pada 29 April 2026.

Dalam kesehariannya, Onoh berjaga sejak pagi hingga sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah itu, Komalasari mengambil alih hingga menjelang petang, setelah sebelumnya ia bekerja di sawah. “Saya tinggal di Kampung Babakan Loa, Rancaekek. Jadi ini dijaga sama ibu saya pagi‑pagi, tah saya mah pagi‑pagi itu ke serang (sawah) dulu. Terus saya siangnya ke sini sambil jemur gabah padi,” katanya.

Selama malam, palang pintu ditutup sepenuhnya tanpa penjagaan. Langkah itu diambil untuk mencegah kendaraan melintas dan menghindari risiko kecelakaan. “Saya penjagaan hanya sampai maghrib, kalau malam biasanya tidak ada yang jaga, dan palang dalam posisi menutup,” ujarnya.

Pengalaman bertahun‑tahun membuat Komalasari hafal betul ritme perjalanan kereta. Namun, tantangan tetap ada, terutama menghadapi pengendara yang nekat menerobos palang. “Di sini juga banyak yang bandel suka nerobos, bilangnya ‘Ah Bu da masih jauh keretanya juga,’ Saya suka bales, ‘Kalau kecelakaan, pasti saya lagi yang disalahkan, ah saya mah sudah ngingetin,’ gitu aja saya mah,” ucapnya.

Ia juga mengaku mengikuti kabar kecelakaan kereta yang sempat terjadi di Bekasi. Peristiwa itu menjadi pengingat betapa pentingnya kewaspadaan di perlintasan sebidang. “Saya tahu ada kejadian tabrakan kereta di Bekasi kemarin. Semoga aja di sini mah dijauhkan dari kejadian kaya gitu yah,” ungkapnya.

Meski telah bertahun‑tahun mengabdikan diri, Komalasari mengaku belum pernah menerima perhatian ataupun gaji dari pihak terkait. Penghasilannya hanya berasal dari pemberian sukarela warga, yang jumlahnya pun tak menentu. “Tidak ada yang gajih, ini mah sukarela, paling ada yang ngasih dari pengendara seikhlasnya, dapet uang Rp 20 sampai Rp 30 ribu. Ini mah itung‑itung beramal, ibadah saja jaga palang pintu,” pungkasnya.

Di tengah keterbatasan, Komalasari tetap berdiri teguh menjalankan perannya. Bukan sekadar menjaga palang, tetapi juga menjaga keselamatan banyak orang, dengan ketulusan yang tak selalu terlihat, namun terasa nyata.

Keberadaan Komalasari dan Onoh menegaskan pentingnya peran warga dalam menjaga keselamatan di perlintasan. Meskipun tidak dibayar, mereka tetap melaksanakan tugasnya, mengingat potensi risiko yang dapat menimpa siapa saja di jalan.

Perlintasan keretaPalang pintuKomalasariOnohKeselamatanKewaspadaanSukarelaKecelakaan kereta

Komentar

Memuat komentar...