Konflik Timur Tengah Tarik PHK Massal Manufaktur Indonesia

Mira T. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 94 dibaca
Bisik.id
Konflik Timur Tengah Tarik PHK Massal Manufaktur Indonesia

Gambar atau konten salah?

Di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa sektor manufaktur Indonesia sedang menghadapi tekanan akibat konflik di Timur Tengah yang dapat memicu PHK massal. Ia menegaskan kondisi ini perlu perhatian serius.

"Kita ini sekarang dalam kondisi yang memang harus diberi perhatian, dan yang menghadapi kondisi ini bukan hanya Indonesia," kata Agus kepada wartawan pada Selasa, 05 Mei 2026.

Menurutnya, tekanan tersebut muncul dari beberapa titik: rantai pasok yang terganggu, harga bahan baku produksi yang melonjak, dan pelemahan pasar global. Ia menilai semua ini bersifat sementara karena mayoritas berasal dari faktor global.

"Tekanan terhadap market, ada tekanan terhadap bahan baku. Itu memang dihadapi oleh semua negara, semua pihak, dan saya yakin ini sifatnya sementara. Saya yakin," jelasnya.

Agus menegaskan bahwa sektor manufaktur memiliki resiliensi yang kuat. Ia mengingatkan bahwa industri ini pernah melewati krisis besar, termasuk COVID-19, dan menunjukkan ketahanan yang luar biasa.

"Saya tetap percaya dengan resiliensi sektor manufaktur. Kita sudah berkali-kali mengalami krisis dengan magnitude yang luar biasa, terakhir COVID-19, di mana teman-teman manufaktur bisa menunjukkan resiliensinya," tegas Agus.

Selama beberapa bulan terakhir, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengingatkan tentang potensi PHK massal akibat pecahnya konflik di Timur Tengah. Informasi ini berasal dari para buruh di lapangan.

Presiden KSPI, Said Iqbal, menegaskan bahwa ancaman PHK paling terasa di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk benang, kain, dan polyester. Ia menambahkan bahwa serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor TPT, telah melaporkan situasi tersebut.

"Tapi realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester, dan sebagainya," katanya dalam konferensi pers virtual pada Senin, 04 Mei 2026.

Selain tekstil, industri plastik juga terancam karena lonjakan harga bahan baku impor. Biaya produksi naik seiring pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Dampak ini dapat merembet ke industri elektronik dan otomotif, yang banyak menggunakan komponen berbahan plastik. Sektor semen juga menghadapi tekanan akibat kelebihan pasokan (oversupply) dan permintaan yang melemah akibat konflik.

Secara keseluruhan, meski tekanan global menekan sektor manufaktur, para pemimpin industri dan pekerja tetap optimis bahwa ketahanan historis akan membantu melewati masa sulit ini.

manufaktur Indonesiakonflik Timur TengahPHK massalrantai pasokharga bahan bakuKSPIresiliensi

Komentar

Memuat komentar...