Kurir Perempuan Lion Parcel: Tantangan dan Dukungan Lapangan
Gambar atau konten salah?
Semangat emansipasi Kartini masih menyala di dunia kerja. Perempuan kini memiliki banyak peluang, sekaligus tantangan. Salah satu contoh nyata adalah Putri, seorang kurir pengantar paket.
Setiap pagi, Putri menyiapkan tas berisi puluhan paket. Ia menempuh jalanan kota, melewati gang sempit, menyesuaikan diri dengan cuaca yang tak menentu, dan mengetuk pintu pelanggan satu per satu. Rutinitas ini menuntut ketelitian dan ketahanan fisik.
Putri memutuskan menjadi kurir penuh waktu di Lion Parcel sejak tahun lalu. Sebelumnya, ia sering membantu ibunya yang sudah lebih dari lima tahun bekerja di perusahaan yang sama. Ketika kesehatan ibu menurun, Putri mengambil alih tugas tersebut. “Dulu sering ikut dan bantu mama antar paket, sekarang lanjut sendiri,” ujar Putri dalam siaran pers yang ditulis pada 23 April 2026.
Menjadi kurir perempuan bukan tanpa hambatan. Di lapangan, ia sering menghadapi reaksi pelanggan yang beragam. Beberapa pelanggan terkejut, beberapa mengapresiasi, dan beberapa bahkan mempertanyakan kemampuannya. “Kadang pelanggan kaget kok kurirnya perempuan. Padahal kita-kita perempuan juga bisa jadi kurir,” ungkap Putri.
Nuraini, berusia 29 tahun, juga merasakan perlakuan yang kurang menyenangkan. Ia pernah menghadapi pelanggan yang genit. “Kadang ada yang genit, tapi saya tidak menanggapi. Saya fokus saja sama pekerjaan,” jelas Nuraini.
Tiara, 34 tahun, menghadapi tantangan dari lingkungannya sendiri. Awalnya keluarga menolak pekerjaannya karena ia perempuan. Namun, ia menunjukkan kenyamanan dan kepuasan dalam pekerjaan kurir. “Awalnya keluarga sempat nyuruh cari kerja lain karena saya perempuan. Tapi saya tunjukkan kalau saya nyaman dan menikmati pekerjaan sebagai kurir. Akhirnya mereka sekarang mendukung,” kata Tiara.
Di balik semua tantangan, ketiga kurir ini menemukan motivasi dalam kemampuan beradaptasi dan tetap fokus pada tujuan. Putri menyadari bahwa bekerja di lapangan berarti siap menghadapi berbagai situasi dan karakter pelanggan. Tiara dan Nuraini juga menegaskan pentingnya tetap bersyukur atas proses yang dilalui.
Beberapa momen berkesan datang dari interaksi dengan pelanggan. Putri pernah menerima tip ratusan ribu rupiah. “Ini menjadi salah satu momen berkesan karena pekerjaannya diapresiasi,” kata Putri.
Tiara menganggap interaksi sehari‑hari sebagai hal paling berkesan. “Serunya banyak ketemu orang baru, baik pelanggan, kurir lain, maupun tim Lion Parcel. Bahkan kadang ada pelanggan yang nyariin kalau udah lama gak antar paket,” ujarnya.
Nuraini menghargai fleksibilitas waktu yang diberikan. Sebagai ibu tiga anak, ia harus menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga. “Bersyukur di sini waktu juga fleksibel, jadi saya bisa mengatur waktu untuk keluarga,” katanya.
Lingkungan kerja di Lion Parcel juga menjadi faktor penting. Putri mengaku tim perusahaan merangkul dan melindunginya. Tiara menilai tidak ada perbedaan perlakuan antara kurir laki‑laki dan perempuan. Ketiganya sepakat bahwa dukungan tersebut memudahkan mereka beradaptasi.
Komitmen Lion Parcel terlihat lewat berbagai inisiatif. Sejak bergabung, kurir menerima pelatihan untuk memahami alur kerja, standar operasional, dan hal‑hal penting di lapangan. Perusahaan juga rutin mengadakan ruang interaksi, seperti kegiatan silaturahmi, di mana kurir dapat berbagi pengalaman, menyampaikan masukan, dan mendapatkan informasi terbaru tentang program perusahaan dalam suasana santai.
Inisiatif ini sejalan dengan tujuan Lion Parcel menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan terbuka bagi siapa pun. Saat ini, lebih dari 25% karyawan Lion Parcel adalah perempuan, dan beberapa di antaranya telah menempati posisi strategis di tingkat manajerial. Hal ini menunjukkan peran perempuan di industri logistik cukup signifikan, termasuk di level pengambilan keputusan.
Perjalanan Putri, Nuraini, dan Tiara menyoroti bagaimana perempuan dapat menempuh karier di bidang logistik, menghadapi tantangan, dan menemukan dukungan. Keberadaan mereka memperlihatkan bahwa fleksibilitas, pelatihan, dan lingkungan kerja yang suportif dapat membuka pintu bagi perempuan untuk berkembang di industri yang sebelumnya didominasi pria.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Tarif Listrik Tetap 2017, Subsidi Naik Rp201 Triliun
BEI Hadiri Pertemuan Investor Global, Kuatkan Pasar Modal
Purbaya Jelaskan Defisit APBN 3% di Pertemuan S&P Jakarta
AS Pasang Tarif 10% pada Impor Indonesia, Pemerintah Menelaah
Kementerian Perhubungan Realisasi 32,27% Anggaran Tahun 2026
IHSG Turun 2%+; LQ45 Laba Naik 29,9%, Investor Fokus Fundamental
Berita Terbaru
Kebakaran Hutan Musi Rawas Utara Terus, Muba Terkendali
Wakil Menteri Kunjungi SMP Tabanan, Cek Revitalisasi, MBG
Wakil Menteri Kunjungi SDN 3 Sembung Gede, Minta Revitalisasi
Hujan Lebat dan Petir Diprediksi Menyerang Medan Malam Ini
58 Hunian Terganggu Angin Kencang: Warga Kembali ke Tenda
Orang Tua Kritik Menu MBG Cibodas: Nugget, Anggur, Kedelai
Argentina Skuad Piala 2026: Messi Sang Unggul, Generasi Baru
Ika Sartika 50, Ditolak Lowongan Rumah Tangga di Ciamis
Ariston Perkenalkan Lini Pemanas Air Baru di Indonesia
Bandung Siapkan Mesin Insinerator 5 Ton/Jam untuk TPS Ciwastra
