Laba Bersih PTBA Tembus Rp4,41 Triliun di Kuartal III 2026

Guntur P. · 4 min baca · 1 jam lalu · 28 dibaca
Bisik.id
Laba Bersih PTBA Tembus Rp4,41 Triliun di Kuartal III 2026

Gambar atau konten salah?

PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) baru saja mengumumkan laporan keuangan mereka untuk sembilan bulan pertama tahun 2026, tepatnya hingga 30 September 2026. Angka-angka yang mereka laporkan cukup menarik. Laba bersih yang dicatat mencapai Rp 4,41 triliun, sementara EBITDA berada di Rp 7,19 triliun. Margin laba bersih dan EBITDA masing-masing adalah 13% dan 20%.

Kuartal ketiga tahun ini menjadi titik balik bagi kinerja operasional PTBA. Dibandingkan kuartal sebelumnya, produksi mereka melonjak 17% dan penjualan naik 2%. Yang paling menonjol, harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) mengalami kenaikan 7% secara kuartalan dan 18% jika dibandingkan tahun lalu.

Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, menjelaskan situasi ini. "Di tengah dinamika industri batu bara dan tantangan operasional sepanjang tahun 2026, PTBA berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid hingga kuartal III 2026. Pencapaian ini didukung oleh pemulihan produksi yang semakin baik pada kuartal III, optimalisasi bauran penjualan dengan memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara, serta pengelolaan biaya dan operasional yang disiplin," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Kamis, 29 Oktober 2026. Ia menambahkan, "Ke depan, Perseroan akan terus memperkuat efisiensi di seluruh rantai bisnis, mengoptimalkan peluang pasar domestik dan ekspor, serta memastikan pengembangan infrastruktur logistik dapat segera berjalan agar mendukung pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan."

Pendapatan dan Harga Jual

Total pendapatan usaha PTBA hingga September 2026 mencapai Rp 35,20 triliun. Angka ini naik 12% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini terutama didorong oleh ASP yang melesat 18% secara tahunan. Ini sejalan dengan penguatan harga batu bara global, yang terlihat dari kenaikan indeks Newcastle dan ICI-3 masing-masing 25% dan 26%.

Kenaikan harga ini berhasil mengompensasi penurunan volume penjualan sebesar 4%. Dari total penjualan, pasar domestik menyumbang 52%, sisanya 48% dari ekspor. Lima negara tujuan ekspor terbesar PTBA adalah Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand.

Beban Pokok dan Operasional

Beban pokok pendapatan PTBA tercatat Rp 27,94 triliun, naik tipis 1% secara tahunan. Salah satu penyebabnya adalah harga bahan bakar yang melonjak 36%, yang otomatis menambah biaya operasional penambangan dan pengangkutan batu bara.

Tapi ada kabar baik. Tekanan biaya ini bisa diimbangi dengan penurunan stripping ratio dari 5,98 kali menjadi 5,59 kali. Selain itu, volume produksi dan angkutan batu bara masing-masing turun 4% dan 10% secara tahunan. Kombinasi ini membantu PTBA mengendalikan beban pokok pendapatan.

Sementara itu, beban operasional perusahaan naik Rp 266,77 miliar atau 13% secara tahunan, seiring dengan meningkatnya aktivitas operasional.

Penghasilan dan Biaya Keuangan

Penghasilan keuangan PTBA meningkat 16% menjadi Rp 183,50 miliar. Kenaikan ini ditopang oleh penempatan deposito berjangka, termasuk untuk pengelolaan likuiditas dan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sesuai aturan yang berlaku.

Di sisi lain, biaya keuangan justru turun drastis 45% menjadi Rp 136,52 miliar. Ini karena perusahaan sudah menyelesaikan fasilitas kredit modal kerja pada akhir 2025, sehingga beban bunga berkurang. Bagian laba neto dari entitas asosiasi dan ventura bersama juga meningkat 75% menjadi Rp 581,31 miliar.

Dengan pertumbuhan pendapatan dan pengendalian beban, PTBA mencatat laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 4,41 triliun.

Total Aset

Hingga 30 September 2026, total aset PTBA mencapai Rp 51,55 triliun. Ini naik 17% dari posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp 43,92 triliun. Kenaikan ini didorong oleh deposito berjangka, piutang usaha seiring penguatan harga jual, dan kenaikan pajak dibayar di muka terkait restitusi PPN.

Liabilitas dan Ekuitas

Total liabilitas perusahaan tercatat Rp 24,31 triliun pada 30 September 2026, naik 14% dari posisi akhir Desember 2025. Peningkatan ini dipengaruhi oleh kewajiban operasional dan penambahan pinjaman bank untuk Proyek Tanjung Enim-Kramasan.

Sementara itu, total ekuitas naik 20% menjadi Rp 27,24 triliun, didorong oleh peningkatan saldo laba seiring pencapaian laba bersih.

Arus Kas

Arus kas bersih dari aktivitas operasi naik dari Rp 4,20 triliun menjadi Rp 4,44 triliun, atau naik 9% secara tahunan. Kenaikan ini karena peningkatan profitabilitas dan penurunan pembayaran pada pemasok serta bunga.

Arus kas untuk aktivitas investasi naik dari Rp 2,21 triliun menjadi Rp 3,50 triliun, terutama untuk penempatan deposito berjangka atas DHE.

Sebaliknya, arus kas untuk aktivitas pendanaan turun dari Rp 2,17 triliun menjadi Rp 0,70 triliun. Penurunan ini karena pembayaran dividen yang lebih rendah dan peningkatan penerimaan pinjaman jangka panjang untuk Proyek Tanjung Enim-Kramasan.

Corporate Secretary Division Head Eko Prayitno menyampaikan komitmen perusahaan. "Ke depan, PTBA akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, serta percepatan penyelesaian proyek-proyek strategis. Sejalan dengan itu, Perseroan juga terus mendorong diversifikasi usaha melalui pengembangan bisnis energi dan hilirisasi batu bara sebagai bagian dari transformasi menuju perusahaan energi yang berkelanjutan. Berbagai langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat daya saing Perseroan sekaligus menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan," pungkasnya.

Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan PTBA berhasil memanfaatkan momentum kenaikan harga batu bara global untuk mendongkrak pendapatan, meskipun volume penjualan menurun. Efisiensi operasional dan pengelolaan biaya menjadi kunci di tengah tantangan industri. Proyek strategis seperti Tanjung Enim-Kramasan juga mulai menunjukkan dampaknya terhadap struktur pendanaan perusahaan.

PTBAkinerja keuanganlaba bersihharga batu baraefisiensi operasionalEBITDApenjualan ekspor

Komentar

Memuat komentar...