Laifa Qodariyanti Buka Jasa Jastip Nyekar di Surabaya

Ani R. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 47 dibaca
Bisik.id
Laifa Qodariyanti Buka Jasa Jastip Nyekar di Surabaya

Gambar atau konten salah?

Laifa Qodariyanti (27) dari Lampung, kini tinggal di Surabaya, memulai bisnis yang memfokuskan pada kebutuhan emosional para perantau. Ide bisnisnya muncul setelah melihat unggahan viral tentang seorang pengemudi ojek online yang menabur bunga di makam.

Ia membuka jasa jastip nyekar, yaitu layanan titip nyekar di makam keluarga. Tujuannya memberi solusi bagi mereka yang tidak bisa pergi ke rumah terakhir orang tercinta. Bagi Laifa, batu nisan bukan sekadar batu, melainkan tempat yang tak boleh dibiarkan sunyi.

Di tengah arus mudik dan balik Lebaran 2026, Laifa menegaskan misinya menjadi perpanjangan tangan para perantau. Ia ingin memudahkan orang untuk berziarah ke makam keluarga di Surabaya, meski jauh dari kampung halaman.

Sejak 2017, Laifa telah menetap di Surabaya sebagai pegawai swasta. Namun, menjadi anak yatim yang tidak bisa kembali ke Lampung menjadi alasan kuat membuka jasa ini. “Sebagai anak rantau, saya tidak bisa pulang ke Lampung dan nyekar ke makam ayah saya. Jadi saya merasa relate, makanya tertarik membuka jastip ini,” ungkapnya.

Ide muncul ketika ia melihat seorang ojek online menabur bunga di makam di media sosial. Ia berpikir, pada momen suci seperti Ramadan dan Lebaran, banyak orang ingin menyapa keluarga namun terhalang jarak. “Waktu itu saya lihat di media sosial ada ojol yang diminta tabur bunga di makam, terus langsung kepikiran, ini kan momen puasa dan Lebaran identik dengan tradisi nyekar. Saya pikir ini belum pernah ada, jadi aku coba saja buka jastip untuk perantau yang belum bisa pulang,” tuturnya.

Namun, tidak semua orang menyambut baik niatnya. Di kolom komentar, beberapa orang menuding jasanya sebagai bentuk komersialisasi agama. Laifa tetap tenang dan memilih beradaptasi tanpa kehilangan esensi. Ia kini lebih fokus pada perawatan fisik makam: membersihkan rumput liar, menabur bunga, dan menyelipkan doa tulus tanpa label harga. “Sekarang lebih fokus ke nyekar, tabur bunga, pembersihan area makam dan doa yang tulus aja, tidak saya jadikan tambahan berbayar,” tegasnya.

Ia juga tidak memandang bulu soal keyakinan. Ia pernah melayani pembersihan makam non-muslim, meski dengan batasan tertentu. “Kalau yang non muslim hanya minta tabur bunga dan bersihkan rumput. Tidak minta didoakan. Soalnya kan kalau beda server nanti nggak masuk kan kak doanya,” jelas Laifa sedikit berkelakar.

Menjalankan jastip nyekar tidaklah mudah. Ia sering harus berjibaku mencari makam yang identitasnya mulai pudar. Dari tarif Rp50.000 yang ia patok, ada tenaga ekstra untuk berkoordinasi dengan penjaga makam. “Yang DM lumayan banyak, tapi yang saya kerjakan baru belasan. Saya juga seleksi, misalnya kalau nama di batu nisan sudah tidak terlihat, kan susah dicari. Kalau nisannya masih terbaca dan aku masih kebingungan aku tanya ke juru kunci lokasi makamnya di mana,” katanya.

Untuk Laifa, kepuasan terbesar datang ketika ia bisa mengirimkan dokumentasi foto dan video kepada pemesan yang berada jauh di luar kota, bahkan di luar negeri. Ia percaya, merawat makam adalah cara menjaga martabat mereka yang sudah tiada. “Memang doa bisa disampaikan di mana saja. Tapi alangkah lebih baik kalau makam tetap terawat. Kalau tidak bisa datang langsung, jastip nyekar bisa jadi solusi, apalagi biayanya lebih ekonomis dibandingkan pulang kampung,” pungkasnya.

Dengan layanan ini, Laifa menyediakan alternatif bagi para perantau yang tidak memiliki waktu atau dana untuk kembali ke kampung halaman. Ia menegaskan bahwa niatnya tetap tulus, tanpa mengubah makna tradisi nyekar menjadi komersial. Layanan ini menjadi jembatan emosional bagi mereka yang ingin tetap menjaga hubungan dengan keluarga yang telah berpulang.

jastip nyekaremosi perantautabur bungapembersihan makamSurabayaLampungkomersialisasi agama

Komentar

Memuat komentar...